Jaga Kesehatan Mental Di Tengah Wabah

Terjangan pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Di beberapa negara justru seperti sedang menuju puncaknya. Demikian pula di tanah air, angka warga terinfeksi virus corona dan yang meninggal terus bertambah. Tingkat kematian akibat wabah Covid-19 di Indonesia terbilang tinggi di dunia, mencapai kisaran 9,4%, sedikit di bawah Italia.

Namun di tengah wabah yang mengancam kesehatan fisik, sepertinya negara dan masyarakat minim menaruh perhatian akan kesehatan mental. Padahal selain mengancam kesehatan fisik, pandemi ini juga mengganggu kesehatan mental masyarakat. Berita meningkat dan meluasnya penyebaran wabah, serta tingginya angka kematian, membuat mental sebagian orang down. Apalagi bila wabah itu menimpa orang terdekat dan berujung kematian. Kesehatan mental bisa kian terganggu.

Keadaan ini kian diperburuk dengan terpukulnya sektor ekonomi. Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak sektor usaha terganggu bahkan tutup sampai jangka waktu yang tidak ditentukan. Sebagian orang malah kehilangan mata pencaharian.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar juga menuntut warga untuk menghentikan sebagian besar aktifitas usaha. Sedangkan pemerintah sendiri belum bisa memberikan garansi bila warga pasti akan mendapatkan pemenuhan kebutuhan pokok selama pandemi dan pemberlakuan kebijakan PSBB. Kondisi ini menambah berat beban masyarakat yang berdampak pada meningkatnya depresi.

Gangguan kesehatan mental ini sudah terjadi di depan mata, di antaranya meningkatnya KDRT selama. Beberapa sumber menyebutkan bila KDRT meningkat selama masa pandemi. Seperti dikutip dari Al Jazeera, beberapa negara mencatat adanya peningkatan laporan KDRT melalui telepon, hingga dua kali lipat. Sayangnya petugas komisi perempuan maupun polisi tidak dapat berbuat banyak karena mereka juga memiliki keterbatasan dana untuk mengatasi masalah tersebut.

New York Times juga melaporkan hotline darurat meningkat untuk pengaduan tindak kekerasan sejak sejumlah negara menerapkan kebijakan lockdown, karantina wilayah dan social distancing. Menurut pakar sosiologi Marianne Hester dari Bristol University, hal ini sebenarnya sudah bisa diprediksi.

Nah, apakah negara sudah memperhitungkan keadaan ini dan mempersiapkan penanganannya? Bila tidak, maka bangsa ini akan menghadapi dua problem serius; wabah dan gangguan mental yang luas.

Untuk keluarga muslim, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan agar mental kita dan keluarga tetap sehat selama masa pagebluk ini.

1.  Kuatkan keimanan pada Qadha Allah SWT. Setiap keluarga muslim patut mengokohkan keimanan pada qadha dan qadar, karena setiap musibah yang terjadi adalah kehendak Allah. Tak ada kemampuan manusia untuk menolak atau mendatangkannya. FirmanNya:

 Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (TQS. At-Taubah: 51).

Setiap muslim juga menjaga kebersihan hati dengan ridlo dan sabar atas musibah yang menimpanya. Senantiasa berprasangka baik atas segala takdir Allah pada diri ini, meskipun pada musibah sekalipun. Sabda Nabi SAW.

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ

Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali ia berhusnuzan kepada Allah.(HR. Muslim)

Iman pada takdir Allah dibarengi tawakal/berserah diri padaNya akan menjadi penguat kesehatan mental yang paling utama. Membuat keluarga muslim tetap tegar meskipun didera musibah.

2.  Meningkatkan Tawakal Pada Allah. Ketenangan jiwa datang bila seseorang merasa aman; aman dari gangguan kesehatan, aman secara finansial, aman secara sosial. Satu-satunya yang bisa menciptakan rasa aman dalam diri seseorang adalah dengan bersandar pada Allah SWT.

Hal itu karena tak ada Pemilik segala jaminan keamanan melainkan Allah SWT. Dialah Yang Maha Mengamankan (al-Mu’min), Yang Maha Menyelamatkan (as-Salam), Yang Maha Kaya (al-Ghani), dsb. Tawakal yang penuh pada Allah akan memberikan ketenangan batin. FirmanNya:

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (TQS. Ath-Thalaq: 3)

Tawakal menjadi sangat penting terutama dalam situasi penuh ketidakpastian; kapan wabah akan berakhir, bagaimana jaminan finansial kelak, dsb. Maka penguat hati dan harapan adalah berserah diri kepada Allah sambil ikhtiar.

3.  Menjaga Hubungan Baik Dengan Orang Terdekat. Kebijakan stay at home dalam tempo cukup lama berpeluang memunculkan rasa jenuh yang berpotensi memicu konflik dengan orang-orang terdekat. Dalam kejenuhan seperti itu, persoalan-persoalan kecil justru sering diributkan. Ini bisa diakibatkan orang mencari pelampiasan terhadap kekesalan dan kejenuhan hingga akhirnya meributkan masalah kecil dengan pasangan atau orang terdekat.

Kunci masalah ini adalah tetap berpikir positif dan tidak meributkan persoalan kecil bahkan saling mendukung. Bukan hanya Anda yang merasa jenuh, tapi semua orang, termasuk pasangan dan anak-anak pun mengalami kejenuhan selama masa PSBB atau karantina. Sikap positif yang kita kembangkan pada sesama akan menularkan enerji positif juga pada mereka, sehingga kesehatan mental pun akan meningkat.

Inilah kasih sayang yang diperintahkan agama pada setiap muslim. Nabi SAW. bersabda:

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir).

4.  Mengembangkan empati dan saling menolong. Pandemi ini telah membuat kondisi ekonomi sebagian anggota masyarakat terpukul. Maka mengembangkan sikap saling membantu menjadi amat penting untuk menciptakan kehidupan sosial yang baik. Syariat Islam telah memerintahkan kaum muslimin untuk membantu meringankan beban hidup sesama. Nabi SAW. bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani).

Memberikan bantuan pada tetangga, atau kenalan yang tertimpa musibah, selain mendatangkan pahala berlimpah, juga menyehatkan mental. Rasa senang dan bahagia saat bisa membantu sesama akan menyebabkan otak mengeluarkan hormon endorfin yang bermanfaat menciptakan suasana hati semakin nyaman yang selanjutnya meningkatkan imunitas/kekebalan tubuh.

5.  Taqarrub Pada Allah. Mendekatkan diri kepada Allah juga menyehatkan mental. Sains modern memperlihatkan hubungan positif antara agama dan kesehatan. Orang-orang yang taat beragama, rajin beribadah, dan pro sosial memiliki hidup lebih sehat.

Penelitian oleh Marino A. Bruce, dkk pada 16 Mei 2017 juga menunjukkan hubungan antara kehadiran di gereja dengan kesehatan. Ukuran fisiologis sakit dinilai dari fungsi metabolik, kardiovaskular, dan inflamasi klinis/biologis. Peneliti mengemukakan mengunjungi gereja lebih dari satu kali seminggu akan mengurangi risiko kematian sebesar 55 persen.

Karenanya di tengah pandemi ini, perbanyaklah ibadah agar semakin dekat dengan Allah. Shalat lima waktu dan shalat-shalat sunnah, membaca al-Qur’an, berzikir, dan membaca buku-buku agama. Bukankah Allah SWT. telah berfirman:

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (TQS. An-Nahl: 97)

Terakhir, perlindungan terhadap kesehatan jiwa masyarakat akan menjadi paripurna bila negara hadir dalam memberikan perlindungan dan jaminan kehidupan yang layak. Bagaimanapun juga, masyarakat tidak bisa hidup tenang tanpa kehadiran negara.

Sayang, pada hari ini kaum muslimin hidup dalam negara kapitalis yang memberlakukan prinsip survival of the fittest. Warga dibiarkan bertarung sendiri menyambung hidup dan bertahan di tengah gempuran wabah ganas Covid-19, minim peran negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.