Menjaga Kesehatan Mental Keluarga Muslim

Kesehatan mental keluarga muslim amat penting untuk diperhatikan (foto: Photo by Jack Sparrow from Pexels)

Pesan Nabi SAW., ada dua macam nikmat yang manusia sering terlena, salah satunya adalah kesehatan. Padahal kesehatan adalah aset yang mahal dalam hidup kita. Sampai-sampai ada sebagian hukama mengatakan;

الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى

“Kesehatan adalah mahkota yang dipakai orang sehat tapi hanya bisa dilihat oleh si sakit.”

Selain kesehatan fisik, mental juga bagian penting yang mesti dijaga oleh setiap keluarga muslim. Keadaan mental yang buruk menyulitkan kita untuk beraktivitas dengan normal. Stress yang berkelanjutan selain akan mengganggu pekerjaan juga dapat merusak hubungan keluarga. Begitupula hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga dapat menimbulkan kondisi kesehatan yang buruk yang berdampak luas.

Apalagi, kondisi kesehatan juga mempengaruhi kesehatan fisik. Menurut American Psychological Association (APA), seseorang yang mengalami stres seringkali mengalami sakit perut. Stres kronis yang tidak kunjung diobati mampu melemahkan tubuh dari waktu ke waktu. Depresi juga ternyata dapat meningkatkan risiko berbagai masalah fisik pada masa mendatang, seperti stroke, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Tepatlah hipotesa Ibnu Sina, bapak kedokteran modern yang menyebutkan bahwa kondisi mental seorang pasien berpengaruh pada ketahanan fisiknya. Beliau mengatakan:

الوهم نصف الداء

Kepanikan adalah separuh penyakit

والاطمئنان نصف الدواء

Ketenangan adalah separuh obat

والصبر أول خطوات الشفاء

Kesabaran adalah awal dari kesembuhan

Perlu diketahui, kondisi dunia saat ini tidak baik-baik saja. Diperkirakan sekitar 300 juta orang mengidap depresi di seluruh dunia. Bahkan, World Health Organization (WHO) memperkirakan setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri di seluruh dunia yang diakibatkan oleh depresi.

Untuk nasional, di tahun 2019 Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Eka Viora, SpKJ, mengatakan untuk di Indonesia terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi.

Kondisi sebenarnya memburuk karena tatanan sosial dan kesehatan yang hari berlaku berasal dari ideologi kapitalisme. Dimana peran negara dalam menjamin kebutuhan hidup dan kesehatan warga tidak penuh, bahkan kian dikurangi. Kebijakan BPJS yang dikeluarkan pemerintah di tahun 2014 semakin mengurangi peran negara dalam menjamin kesehatan publik. Rakyat menanggung rakyat, kalaupun ada peran negara tapi amat minim.

 

Jaga Kesehatan Mental

Kaum muslimin sudah lama diingatkan oleh Rasulullah SAW. untuk menjaga kesehatan mental, yakni menjaga kesehatan pikiran dan perasaan, yang dapat menyehatkan seluruh jasad. Beliau bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”(HR. Muttafaq alayhi).

Apa yang bisa dilakukan keluarga muslim untuk menjaga kesehatan mental di tengah pandemi dan ideologi rusak kapitalisme? Berikut ada sejumlah tips yang mudah-mudahan berharga untuk diterapkan:

1. Kokohkan Iman

Iman bukanlah sekedar percaya bahwa Allah itu ada dan Maha Pencipta, tapi meyakini bahwa Allah adalah Maha Penolong, Maha Pemberi rizki, Maha menyembuhkan, Maha Perkasa, dimana Allah senantiasa menolong hamba-hambaNya yang beriman, dan tak akan menzalimi mereka.

Keimanan semacam ini akan menjadikan keluarga muslim senantiasa optimis dalam kehidupan, punya harapan besar, tak mudah menyerah dan bersabar. Ingatlah kisah Nabi Yunus as yang berada dalam perut ikan besar di dasar lautan lalu Allah beri pertolongan. Ingat pula saat Nabi Musa as dihadapkan pada pilihan memukulkan tongkat ke Laut Merah sementara di belakangnya pasukan Fir’aun memburunya. Lalu Nabi Musa pun percaya dengan perintah Allah untuk memukulkan tongkat itu ke Laut Merah dan mereka pun selamat sedangkan Fir’aun tenggelam bersama pasukannya.

 

2. Bersyukur atas segala nikmat

Kurang bersyukur salah satu penyebab memburuknya kesehatan mental keluarga. Sikap membandingkan diri dengan orang lain, salah satu tanda kurang bersyukur. Membandingkan soal rizki, keadaan rumah, anak-anak, sampai pasangan. Kita memang perlu mawas dengan kekurangan diri, tapi bukan urusan dunia, dan juga jangan sampai lupa bersyukur. Nabi SAW. ingatkan kita untuk lihat ke ‘bawah’, bukan ke ‘atas’.

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian, sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian.” (HR Muslim No. 2963)

Sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain membuat hidup terasa selalu kurang. Akhirnya menjadi tekanan pada pikiran dan berujung stress dan depresi. Memburuklah kesehatan mental keluarga.

Sambut setiap kenikmatan, termasuk yang kecil, dengan penuh suka cita. Melihat anak rajin shalat ke masjid, pasangan selalu ceria dan menyenangkan, pekerjaan dimudahkan Allah, mendapat kiriman makanan dari tetangga atau famili. Syukuri setiap momen itu agar hati terasa lapang, dan mental menjadi sehat.

 

3. Tingkatkan Ketaatan

Riset yang diumumkan oleh PEW Research Centre di tahun 2019 menemukan sejumlah data bahwa warga yang rajin berkunjung ke gereja dan ikut dalam layanan kerohanian memiliki kehidupan ‘sangat bahagia’ dibandingkan dengan mereka yang jarang atau yang tidak pernah terlibat di sana (Are religious people happier, healthier? | Pew Research Center). Ternyata ibadah bagi non muslim saja bisa memberi ketenangan dan kebahagiaan.

Di dalam al-Qur’an diterangkan hati seorang muslim akan menjadi tenang dengan mengingat Allah (zikrullah). FirmanNya:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (TQS. ar-Rad: 28).

Yang dimaksud dengan ‘mengingat Allah’ dalam ayat tersebut bukan sekedar bertasbih, tahlil, tahmid, atau ibadah mahdlah. Tapi menurut Imam as-Sa’di adalah mengetahui makna-makna al-Qur’an dan hukum-hukumnya membuat hati menjadi tenang, hal itu karena menunjukkan pada kebenaran yang nyata yang diperkuat dengan petunjuk dan bukti.

Karenanya, keluarga muslim yang semakin dekat dengan al-Qur’an & as-Sunnah, dengan ajaran Islam, tahu halal dan haram, akan mengantarkan mereka pada ketenangan. Itulah janji Allah SWT.

 

4. Berkumpul dengan orang-orang salih

Masih banyak studi dan penelitian yang menunjukkan bahwa pertemanan yang baik berpengaruh baik pada kesehatan mental maupun fisik. Sebaliknya, pertemanan yang buruk berpengaruh buruk pula pada kondisi mental dan fisik.

Dalam agama, seorang muslim diperintahkan untuk menjaga pertemanan dengan baik. Bukan sembarang pertemanan yang bisa membuat tertawa, tapi pertemanan yang menguatkan ketakwaan. Teman yang bertakwa bukan sekedar menciptakan suasana bahagia, tapi juga menciptakan enerji positif untuk selalu giat beribadah, beramal salih, dan berdakwah. Pantas Nabi SAW. mengumpamakan kawan yang salih seperti pedagang parfum yang turut menyebarkan aroma wangi pada orang di sekitarnya.

فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً

“Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.”(HR. Muslim)

Carilah komunitas dan kawan-kawan salih yang selalu mengingatkan diri pada Allah, melembutkan hati, menciptakan optimisme hidup, dan mengingat jannah. Suasana pertemanan ini akan meningkatkan kesehatan mental keluarga muslim.

 

5. Kembangkan jiwa altruisme

Sudah jelas menolong dan membantu orang lain adalah perintah agama, namun penelitian modern memperlihatkan bahwa sikap altruisme memberi dampak positif bagi kesehatan dan membahagiakan pelakunya. Bagi kaum muslimin efek seperti itu adalah bonus, bukan tujuan utama, yang menjadi tujuan utama amal altruisme adalah menolong dan memudahkan hidup sesama, sebagaimana para sahabat Anshar menolong sahabat Muhajirin yang datang ke negeri mereka dalam keadaan susah dan kekurangan.

 “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS. al-Hasyr: 9)

 

Demikianlah, kaum muslimin sebenarnya senantiasa akan memiliki kesehatan mental bila taat pada agamanya dan merawat keimanannya. Suatu hal yang amat penting di alam kehidupan sekulerisme yang menawarkan kemewahan materi tapi justru menciptakan beragam gangguan kesehatan mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.