Musibah Yang Layak Ditangisi

Muslim man criesTak ada satu orang pun di antara kita yang pernah berharap ditimpa musibah. Musibah itu kemalangan, dan kemalangan itu menyakitkan. Perasaan dan pikiran terkuras saat musibah datang dalam kehidupan kita. Apakah musibah itu berupa kehilangan harta; hilang dicuri (apalagi dirampok…hiiiii!), rasanya dada ini kena tonjok sambil ingin bersenandung pilu “sakitnya tuh di sini…”.

Masih ‘untung’ bila harta sekedar ludes, bila kemudian dikejar-kejar orang karena masih harus menanggung utang? Perasaan sedih itu bisa berubah menjadi ketegangan dan kengerian. Ada beberapa kawan saya yang mengalami drama kehidupan nan tragis seperti itu. Sudahlah uang mereka raib kena tipu investasi bodong, masih harus menanggung beban utang orang lain. Satu persatu barang yang ada di rumah habis disita orang. Bukan hanya itu, harga diri juga jatuh.

Maka, andaikan bisa memilih, kita tak pernah ingin menjadi orang yang ditimpa kemalangan. Tapi hidup memang seperti pepatah klasik; untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bukan kita yang menentukan apakah nasib ini akan malang atau beruntung esok hari. Allah al-Jabbar jualah yang menentukan semuanya:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS. Al-Baqarah: 155).

Dalam ayat selanjutnya Allah SWT. Kemudian memerintahkan setiap muslim untuk mengucapkan kalimat istirja’ manakala musibah datang. Sebuah pengakuan dan keridloan bahwa memang semua yang kita miliki adalah milikNya dan akan kembali kepadaNya.

Namun, tanpa maksud menyelisihi ayat tersebut, sahabat Umar bin Khaththab justru bertahmid setiap tertimpa musibah. Beliau punya pandangan lain tentang musibah. Umar bin Khaththab justru memandang musibah sebagai kenikmatan yang Allah limpahkan kepadanya. Beliau berkata, ”Tidaklah musibah menimpaku melainkan aku melihatnya Allah telah memberikan padaku tiga kenikmatan; (1). bahwasanya musibah itu tidak menimpa agamaku, (2). Musibah itu tidaklah lebih besar dari yang Allah bisa berikan darinya, (3). Tidaklah Allah menimpakan musibah melainkan sebagai kafarah atas keburukan-keburukan amal kita.”

Masya Allah! Inilah kedalaman dan kejernihan pandangan seorang sahabat besar. Umar al-Faruq tetap selalu bersyukur kepada Allah, sekalipun musibah menimpanya. Beliau tetap yakin dibalik musibah selalu ada hikmah. Musibah yang datang tidaklah lebih besar dari apa yang Allah bisa timpakan pada kita. Selain itu musibah adalah cara Allah membersihkan setiap dosa-dosa yang kita kerjakan andai kita bersabar menerimanya.

Pandangan Umar yang begitu penting bagi kita adalah “karena musibah itu tidak menimpa agamaku.” Lagi-lagi kita patut mengucapkan Masya Allah atas kecemerlangan pandangan Umar. Beliau tidak tertipu dengan hilangnya kenikmatan dunia. Bagi beliau rusaknya dan hilangnya kenikmatan dunia tak seberapa dibandingkan bila keimanan dan ketaatan pada Allah yang rusak apalagi hilang.

Kita sering mengeluh dan bersedih saat usaha kita mandeg apalagi kolaps. Kita sering mengurut dada manakala belum mencapai posisi ‘kebebasan finansial’. Kita juga sering masygul saat tak mampu menyekolahkan anak di sekolah Islam unggulan. Kita menangisi milik dunia kita yang hilang, apakah itu keluarga, aset, kekayaan, jabatan, popularitas, dsb.

Tapi masih banyak orang bisa tertawa saat meninggalkan kewajiban shalat. Masih ada orang bisa tersenyum saat istri dan anak gadisnya tidak menutup aurat manakala keluar rumah. Orang masih bisa merasa bahagia padahal ia memakan riba. Banyak orang pun masih bisa merasa senang ketika keluar dari jamaah dakwah lalu tak melakukan apa-apa untuk menegakkan risalah Rabbnya.

Semestinya kita bersedih manakala kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, saat usia bertambah tapi tak kunjung menguasai bahasa Arab atau membaca al-Quran dengan benar. Kita juga harusnya bersedih manakala keluarga kita, tetangga, dan lingkungan tak kunjung hidup dalam naungan syariat Islam. Kita juga semestinya berduka saat negeri ini dipimpin oleh para pemimpin yang menyesatkan umat dari jalan Islam.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ

“Yang aku paling takuti dari kalian adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.”(HR. Ahmad)

 

Karena itu adalah musibah terbesar, musibah yang sebenarnya.

Musibah kehilangan harta dan jiwa datang dari Allah secara tiba-tiba, siapapun takkan sanggup menolaknya. Bersabar pada kondisi itu mendatangkan pahala dan menghapuskan dosa. Tapi musibah yang menimpa agama datang dari kelalaian kita, nafsu tamak kita pada dunia, dan kejahilan kita. Semua adalah pilihan kita sendiri.

Sungguh, selama ini kita salah menempatkan makna musibah dalam kehidupan. Kerusakan agama dianggap biasa, tapi kehilangan dunia ditangisi sejadi-jadinya. Astaghfirullah al-azhim!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.