
Berdasarkan Research Investigator of Psychiatry, University of Michigan, AS, mengungkapkan, pria lebih rentan mengalami depresi dibandingkan wanita. Bahkan, pria juga lebih rentan dalam merangsang setiap penyebab stres (stressor) selama periode jangka panjang.
Laki-laki sudah kepalang diidentikkan dengan strong, tangguh, tidak cengeng. Kaum Adam adalah pelindung keluarga. Bahu tempat bersandar para istri. Beragam sebutan untuk kaum lelaki membangun sebuah pandangan masyarakat bahwa lelaki itu pantang menyerah. Tidak mungkin mentalnya jatuh.
Banyak orang tua, baik ayah maupun ibu, yang berkata pada anak lelakinya ketika sedih atau menangis; ”Kamu anak laki, gak pantas menangis kayak anak perempuan. Kamu harus kuat.”
Namun semua itu adalah mitos yang sebenarnya merugikan kaum pria. Bahkan para psikolog menyebutnya sebagai toxic masculinity. Racun kelelakian. Pandangan yang sudah berabad-abad itu membangun self-imej pada setiap lelaki kalau mereka pantang menangis, pantang meminta bantuan, pantang jatuh.
Imbas dari pandangan ini sebenarnya merugikan kaum pria. Banyak lelaki yang saat berada pada titik terendah dalam hidup mereka enggan meminta bantuan pada orang lain. Apalagi datang pada tenaga ahli untuk membenahi kondisi mental mereka.
Racun Di Ruang Sunyi
Mungkin tidak banyak perempuan atau keluarga yang menyadari kalau di era modern ini banyak lelaki alami depresi. Memang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perempuan lebih banyak dan lebih rentan terkena depresi dibandingkan laki-laki. Hal itu terlihat di negara-negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat. Sayangnya, penelitian terbaru mematahkan hasil penelitian WHO tersebut.
Berdasarkan Research Investigator of Psychiatry, University of Michigan, AS, mengungkapkan, pria lebih rentan mengalami depresi dibandingkan wanita. Bahkan, pria juga lebih rentan dalam merangsang setiap penyebab stres (stressor) selama periode jangka panjang.
Lebih parah lagi, sebuah data yang mengejutkan datang dari World Health Organization (WHO) tahun 2023 dari sekitar 700.000 kematian akibat bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia, laki-laki mencatat angka kematian hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding perempuan. Sumber lain menyebutkan pria empat kali lebih mungkin melakukan bunuh diri dibandingkan wanita, menyumbang hampir delapan dari setiap sepuluh kasus bunuh diri di AS.
Di negara-negara seperti Jepang, Rusia, dan bahkan Amerika Serikat, bunuh diri telah menjadi penyebab utama kematian pria usia muda dan produktif.
Hasil penelitian dari British Journal of Psychiatry juga memperlihatkan kalau pria yang depresi cenderung menampilkan gejala “atipikal”, semisal gampang marah, impulsif, menyendiri, atau melampiaskan emosi lewat alkohol atau kekerasan. Kondisi ini membuat kondisi mereka sulit dikenali, bahkan oleh tenaga medis.
Lelaki jatuh pada kondisi ini di antaranya karena termakan toxic masculinity. Sehingga mereka membiarkan diri sendiri mengatasi berbagai persoalan hidup. Itu jadi alasan kenapa lelaki senang menyendiri di teras rumah, di kafe, atau pergi ke gunung atau memancing. Mereka berusaha meredam berbagai tekanan batin.
Namun tak sedikit yang akhirnya terkena racun dalam sunyi. Jatuh dalam depresi yang mendalam. Melarikan diri ke pergaulan tidak sehat; alkohol, narkoba, termasuk larut dalam komunitas yang bisa ekspresikan emosi mereka. Musibah terbesar adalah bunuh diri.
Akar Persoalan
Selain persoalan toxic masculinity, kaum lelaki secara budaya dan agama dituntut sebagai bread winner. Menurut chatgpt arti bread winner adalah sebutan untuk seseorang yang menghasilkan pendapatan terbesar atau menanggung kebutuhan finansial utama rumah tangga.
Banyak lelaki yang kemudian terbebani ekspektasi di dalam keluarga. Ketika masih single ia merasa dituntut oleh orang tuanya, ketika sudah menikah tuntutan itu datang dari istri dan anak-anaknya. Secara budaya dan secara agama lelaki memang ditetapkan sebagai pemberi nafkah.
Keadaan semakin berat karena hari ini kita hidup dalam sistem kapitalisme. Dimana negara berperan amat minim dalam menjamin lapangan kerja dan jaminan hidup untuk masyarakat. Biaya pendidikan, kesehatan, air dan listrik, harus ditanggung sendiri oleh rakyat. Beratnya tekanan ekonomi ini dirasakan semua keluarga. Keadaan ini memaksa pria juga wanita bekerja menjadi pencari nafkah keluarga.
Akibatnya pada hari ini kaum pria bersaing dengan kaum perempuan di dunia kerja. Data BPS tahun 2024 prosentase tenaga kerja lelaki mencapai 45,81% dan kaum perempuan 36,32%. Banyak lapangan kerja yang dulu diisi kaum lelaki hari ini digantikan kaum perempuan. Membuat posisi lelaki sebagai bread winner semakin tersisih. Sementara mereka bukan hanya menanggung nafkah diri sendiri, tapi juga keluarga (orang tua dan atau istri-anak).
Di sisi lain, kapitalisme yang berpijak pada sekulerisme, memisahkan agama dari kehidupan, menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual. Termasuk menjauhkan kaum muslimin pada hakikat rizki, makna tawakal dan ikhtiar, berdoa dan larangan berputus asa. Sekulerisme menggerogoti mental masyarakat, terutama kaum pria. Hasilnya semakin banyak kaum lelaki rentan alami depresi.
Menolong Kaum Pria
Perombakan sistem sudah pasti harus dilakukan. Bertambahnya angka depresi hingga bunuh diri adalah imbas batilnya ideologi kapitalisme. Sistem ini sudah gagal memperlakukan manusia selayaknya manusia. Juga gagal menciptakan kehidupan ekonomi yang berkeadilan. Tidak ada solusi lain kecuali mengganti sistem batil dan rusak ini.
Satu-satunya sistem terbaik yang layak menggantikan kapitalisme adalah Islam. Sebab Islam bukan sekedar agama ruhiyah, tapi juga sistem kehidupan terbaik. Islam melandaskan kehidupan umat manusia pada akidah/keimanan yang akan membentuk sikap tawakal, yakin pada rizki dan pertolongan Allah, serta menjauhkan diri dari keputusasaan.
Sistem Islam juga menciptakan tatanan kehidupan ekonomi yang berkeadilan. Islam mewajibkan negara untuk menjadi penanggung jawab kehidupan masyarakat. Negara akan menerapkan syariat Islam yang menjamin hilangnya kesenjangan sosial, memberikan kesempatan sama pada semua individu untuk memenuhi kebutuhan hidup – bahkan hingga kebutuhan tersier –.
Namun merupakan hal yang penting untuk menolong kaum pria agar tidak terus menerus tertekan secara mental. Kaum pria harus mendapatkan support system dari orang-orang terdekat agar tidak merasa sendiri. Agar ia merasa pantas dan tidak malu mendapatkan bantuan dari orang tua, saudara, bahkan dari istri dan anak-anaknya.
Untuk itu ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan:
Pertama, membuka dialog dengan kaum pria. Baik itu suami, saudara kandung, atau anak lelaki yang sudah dewasa, mereka sebenarnya membutuhkan lawan bicara yang dapat meredakan tekanan batin. Untuk itu orang tua dan istri harus siap menjadi support system dan kawan bicara yang baik. Tetap menjaga marwah mereka sebagai lelaki terutama sebagai kepala rumah tangga. Yakni tidak menjatuhkan status mereka sebagai qowwam dan teritori mereka sebagai lelaki.
Kedua, mengajak mereka untuk merasa bebas meminta bantuan bila memang membutuhkan. Baik bantuan sebagai teman bicara, mencari solusi, maupun bila membutuhkan tenaga profesional untuk meredakan depresi mereka. Datang ke psikolog, psikiater atau ustadz bukanlah aib, tapi sebagai bagian mendapatkan solusi.
Ketiga, menciptakan support system di tengah keluarga. Terutama orang tua dan istri harus terlibat menciptakan suasana yang sehat secara mental. Mengurangi tuntutan rumah tangga yang akhirnya menambah beban pikiran pada suami atau anak lelaki. Suami memang harus menjadi bread winner, namun dalam kondisi sulit bukankah merupakan kasih sayang bila istri dan keluarga memaklumi keadaan suami? Termasuk membantu dalam nafkah keluarga. Allah Ta’ala saja memberikan keringanan pada suami yang mendapat ujian kesulitan ekonomi. FirmanNya:
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِۦ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُۥ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا ۚ سَيَجْعَلُ ٱللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (TQS. Ath-Thalaq: 7)
Keempat, mendorong kaum pria/suami untuk bergabung dalam komunitas yang menguatkan mentalnya, semisal jamaah pengajian, aktifitas sosial dan kemanusiaan, dll. Tujuannya agar kaum pria dapat bertukar pikiran dengan sesama pria sehingga mendapat pencerahan. Apalagi dalam jamaah pengajian banyak insight yang bisa menguatkan mental lelaki.
Kelima, mendorong kaum pria untuk banyak beribadah seperti salat berjamaah ke masjid, salat rawatib, salat dhuha, zikir, tilawah, dsb. Amalan seperti ini akan memberikan ketenangan dan membuka pertolongan Allah Swt.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (TQS. Ar-Ra’du: 28).

Leave a Reply