3 Hal Yang Melukai Hati Anak

 

Banyak orang tua terkejut mendapati anak mereka di kala dewasa menjadi pembangkang dan minim rasa hormat. Sebenarnya, tanpa disadari, orang tua juga yang menorehkan luka pada hati anak. Membekas hingga mereka dewasa.

Ikatan emosional atau emotional bonding adalah salah satu tali pengikat hubungan anak dengan orang tua. Ikatan emosional itu adalah ikatan keintiman yang mendalam antara anak dengan orang tua, sehingga anak merasa aman, nyaman, dan saling percaya. Semakin kuat emotional bonding di antara mereka, semakin sehat pula kehidupan dalam keluarga.

Kuncinya ikatan emosional yang kuat itu ada pada orang tua. Sebab, di tahap anak belum memasuki fase akil baligh, mereka lebih bergantung pada ayah dan ibunya. Begitu memasuki usia akil baligh, dewasa, anak-anak sudah bisa membangun pemikiran sendiri. Termasuk memaknai hubungan dengan kedua orang tuanya.

Namun, pemikiran mereka di usia dewasa berada di atas pondasi yang dibangun sejak mereka kanak-kanak. Memori interaksi dengan orang tua di masa kecil menjadi dasar hubungan saat dewasa.

Oleh karena itu penting bagi ayah bunda memperhatikan hal-hal yang bisa menggangu ikatan emosional dengan anak. Hal itu bisa terjadi karena ketidaktahuan, ketidakpahaman, atau memang keengganan membangun hubungan yang penuh kasih sayang dengan anak.

Ada beberapa hal yang dapat membuat luka pengasuhan pada anak. Membuat hati mereka terluka, selanjutnya melemahkan emotional bonding antara orang tua dengan anak.

  1. Mengabaikan kebutuhan anak

Sebagian orang tua ada yang mengabaikan kebutuhan anak. Baik kebutuhan kasih sayang sampai kebutuhan fisik mereka. Ada orang tua yang menelantarkan pemenuhan gizi anak, kebersihan fisik anak, pakaian yang pantas, dan penyakit pada mereka.

Kemiskinan bukan alasan membiarkan anak tampil kotor atau kurang nutrisi. Tapi lebih karena kurang perhatian pada kebutuhan mereka. Sejumlah kasus gizi buruk pada anak terjadi karena minimnya pengetahuan dan perhatian orang tua pada anak.

Orang tua juga ada yang minim memberikan perhatian, kasih sayang, perlindungan pada anak. Keadaan ini bukan saja terjadi pada keluarga dengan ibu yang bekerja di luar rumah, tapi tidak sedikit terjadi pada ibu rumah tangga. Mereka malah sibuk dengan agenda sendiri ketimbang membersamai anak.

Pengabaian pada anak yang berlangsung menahun akan melukai hati anak. Terutama ketika mereka mulai menyadari diri mereka diabaikan oleh orang tuanya. Ini termasuk luka pengasuhan yang membutuhkan pemulihan yang serius dari orang tua.

  1. Menyalahkan Anak Dalam Persoalan Keluarga

Tidak jarang ditemui orang tua yang tidak dewasa  menghadapi persoalan kehidupan. Termasuk masalah dengan pasangan. Lalu mereka menjadikan anak sebagai sasaran kemarahan dan kesalahan. Sikap menyalahkan anak merusak mental anak dan menorehkan luka pada perasaan anak.

Anak yang kerap dijadikan sasaran kemarahan dan kekesalan orang tua berpotensi menyimpan dendam. Mereka juga berpikir untuk berpisah dari orang tuanya. Sebagian dari mereka juga berpikir untuk tidak pernah mau lagi menemui orang tuanya.

Maka, dewasalah saat menghadapi berbagai persoalan hidup. Sikapi sesuai petunjuk Allah Swt; dengan sabar dan tawakal pada Allah. Fokus pada pencarian solusi, bukan melempar kesalahan pada anak. Orang tua justru wajib melindungi anak dan memberikan suasana aman dan nyaman pada anak dalam keadaan apapun jua. Itulah amal salih orang tua.

  1. Menitipkan Pengasuhan Anak Pada Orang Lain

Di tengah arus kehidupan yang menuntut banyak pemenuhan materi, tidak sedikit suami-istri sama-sama bekerja penuh waktu. Pagi hingga malam. Senin hingga Jumat. Saat mereka punya anak maka solusi yang dilakukan adalah menitipkan pengasuhan anak pada pengasuh, orang tua, kerabat, atau penitipan anak.

Di Tiongkok layanan pengasuhan anak terus meningkat hingga menyediakan 4,77 juta slot pengasuhan anak di seluruh negeri hingga akhir tahun 2023. Ini dilakukan untuk mendorong pasangan di negeri Tirai Bambu itu punya anak dan sang ibu tidak perlu takut meninggalkan pekerjaan karena anak.

Apakah ini aman? Secara fitrah dan agama orang tua adalah penanggungjawab pengasuhan yang pertama dan utama untuk anak. Nabi Saw mengingatkan:

والرَّجُلُ راعٍ علَى أَهْلِ بَيْتِهِ ، والمرْأَةُ راعِيةٌ على بيْتِ زَوْجِها وولَدِهِ ، فَكُلُّكُمْ راعٍ ، وكُلُّكُمْ مسئولٌ عنْ رعِيَّتِهِ

Seorang lelaki juga pengembala pada keluarga rumahnya, perempuan pun pengembala pada rumah suaminya serta anaknya. Maka dari itu semua orang dari kalian  adalah pengembala dan semua saja akan ditanya perihal penggembalaannya. (Muttafaq alaih)

Terus menerus menitipkan anak pada pihak orang lain, termasuk kerabat dan orang tua, akan melemahkan ikatan emosional orang tua dengan anak. Saat tumbuh dewasa anak merasa dirinya diabaikan orang tua, ia akan kehilangan rasa hormat dan sayang pada mereka. Bahkan anak bisa berprasangka kalau orang tuanya kurang atau malah tidak menyayangi mereka karena minimnya kebersamaan.

 

Menjadi orang tua adalah amal saleh yang membutuhkan pemahaman, kesungguhan dan pengorbanan. Mendidik anak bukan bertujuan mendapatkan keuntungan materi ataupun sosial, tapi untuk mendapatkan ridho Allah mengantarkan anak-anak ke gerbang ketaatan. Maka jadilah orang tua yang penuh tanggung jawab dan kasih sayang pada anak-anak kita. Merekalah investasi akhirat untuk kedua orang tuanya.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.