
Photo by Artem Podrez: https://www.pexels.com/photo/man-wearing-eyeglasses-using-cellphone-8518875/
Gen Z sering disebut sebagai generasi lemah, santai, suka curhat di medsos. Adilkah menyalahkan anak-anak muda hari ini, tanpa mengintrospeksi generasi sebelumnya. Bukankah generasi muda tidak datang dari ruang hampa?
Lagi, anak muda gen z dikritik pejabat pemerintah. Kali ini Menteri Dikti Saintek Bryan Yuliarto mengomentari anak muda hari ini yang menurutnya banyak yang lemah, suka curhat di medsos, dan bukannya mencari solusi.
“Jadi jangan pernah menyerah. Pasti ada jalan. Nah kalau sekarang saya lihat banyak anak-anak muda terutama, kalau gak kekejar keinginannya, nulisnya di medsos. Bukan cari-cari jalan gitu. Bukan kerja, bukan apa gitu,” kritik Brian saat acara di Sekolah Unggulan MH Thamrin, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu, 8 Oktober 2025.
Ia membandingkan anak-anak muda hari ini dengan dirinya yang berusaha mencari beasiswa kuliah hingga akhirnya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri.
“Kalau dulu saya, kalau lagi ini mentok gak dapat beasiswa, oh kita kerja. Jadi kejar terus. Jangan mudah mengeluh. Anak muda masa ngeluh? Gak ada tempat untuk mengeluh. Cari jalan-jalan itu,” kata Brian.
Generasi Adalah Produk
Komentar negatif terhadap Gen Z selama beberapa tahun belakangan makin sering terdengar. Anak-anak muda kelahiran 1997-2012 acap dilabeli pemalas, mudah menyerah, socmed & gadget addict, maunya santai.
Di dunia kerja, beredar pandangan kalau Gen Z ini maunya gaji besar padahal fresh graduate dan belum punya pengalaman kerja. Sudah begitu di tempat kerja mereka sering disebut tidak tahan kerja keras dan tuntutan perusahaan. Suka berpindah-pindah tempat kerja.
Namun apakah opini seperti di atas, termasuk dari pejabat negara, mencerminkan realita anak-anak muda hari ini, alias Gen Z? Ataukah ada faktor lain?
Pertama, tentu harus diklarifikasi dan dihitung apakah benar mayoritas Gen Z demikian? Pemalas, maunya santai dan bergaji besar. Pernyataan seperti ini kan baru bisa dikatakan benar bila angka statistik yang bisa dipertanggungjawabkan.
Padahal bila dilihat di lapangan, banyak anak-anak muda Indonesia yang bekerja keras padahal dengan tingkat upah setara UMR bahkan underpayment. Coba saja tengok guru-guru muda yang masih berstatus honorer. Beberapa kali diberitakan hanya bergaji Rp 300-500 ribu perbulan. Tragisnya sebagian dari mereka ada yang menerima honor dengan cara dirapel selama beberapa bulan. Namun mereka masih bertahan.
Bukan cuma satu atau dua kali juga diberitakan anak-anak muda kita mengular berebut mengisi lowongan kerja. Padahal tempat kerja yang dimaksud bukan perusahaan besar, atau instansi pemerintah. Ada yang malah warung seblak! Bisa ditebak berapa penghasilan yang diterima anak-anak muda itu kelak.
Sempat ramai juga maraknya lulusan sarjana yang mendaftar menjadi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau ‘pasukan oranye’ di DKI Jakarta. Sebelumnya pekerjaan ini umumnya diisi tenaga kerja lulusan SD sampai SMA.
Tengok juga anak-anak muda lulusan perguruan tinggi yang kini berada di jalan menjadi driver ojol. Bahkan sempat viral ada di antara mereka lulusan S2. Nah, apakah ini masih bisa dikatakan lemah, pemalas, maunya santai, dan selalu ingin gaji besar?
Kedua, orang tua atau generasi yang lebih senior dibandingkan Gen Z. Apakah mereka baby boomer atau milenial, seharusnya menyadari bahwa setiap generasi tidak lahir atau muncul dari ruang hampa. Setiap generasi terbentuk oleh ekosistem mereka berada. Ekosistem itu ada orang tua, sekolah, lingkungan dan negara tempat mereka hidup dan bernaung. Dari sana setiap generasi mendapatkan nilai-nilai kehidupan.
Jadi, kondisi tidak sehat yang sering disebut oleh sejumlah pihak termasuk oleh pejabat negara, adalah hasil ciptaan mereka terhadap generasi muda hari ini. Orang tua, lingkungan dan negara gagal mencetak generasi muda yang pekerja keras, cerdas, dan punya integritas.
Bukankah generasi boomer yang hari ini masih banyak berkuasa malah mewariskan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme? Bukankah banyak boomer yang mewariskan jabatan mereka untuk keluarga sendiri? Membangun dinasti politik di daerah sampai ke pusat. Melestarikan bisnis mereka dengan merangsek ke sumbu kekuasaan lewat investasi politik, atau mereka tampil sebagai wakil rakyat dan pejabat negara.
Budaya sukses dengan mengandalkan ’orang dalam’ sudah membudaya di tanah air. Pelakunya adalah para bapak-bapak atau orang tua Gen Z alias boomer. Itu jadi legacy untuk anak dan keturunan mereka.
Jadi pernyataan pejabat negara, seperti Menteri Dikti Saintek ini sebenarnya seperti bunyi pepatah lama; menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.
Kegagalan Sistemik
Sebenarnya hari ini juga tidak sedikit anak muda yang beruntung mendapatkan beasiswa hingga mengenyam pendidikan di dalam atau luar negeri. Namun prosentasenya tidaklah besar. Jauh lebih banyak anak-anak muda Indonesia yang tidak bisa melanjutkan pendidkan ke bangku kuliah. Data dari pemerintah sendiri memperlihatkan bahwa tenaga kerja di dalam negeri didominasi lulusan SD. Sekitar 44-45% dari 152 juta warga.
Hal itu adalah tanda bahwa pemerintah gagal memberikan jaminan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi bagi rakyat. Belum lagi kualitas pendidikan tanah air yang masih sulit bersaing di tingkat dunia. Salah satu indikasinya adalah peringkat PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia yang masih memprihatinkan. Pada tahun 2022. Indonesia menempati peringkat ke-69 atau posisi ke-12 terbawah dalam daftar dengan total skor 1.108.
Karakter suatu generasi adalah produk suatu pendidikan. Baik dari level keluarga, lingkungan dan negara. Orang tua punya peran dalam membentuk karakter anak. Lingkungan memberikan pengaruh negatif atau positif pada mereka. Sedangkan negara harusnya hadir memberikan regulasi yang melindungi anak-anak agar mereka tumbuh jadi generasi yang tangguh.
Hari ini kita melihat banyak anak-anak yang tumbuh dalam situasi keluarga yang tidak ideal. Mereka mengalami salah pengasuhan, utang pengasuhan dan luka pengasuhan. Anak-anak seperti ini berpotensi besar tumbuh dengan mental yang rapuh dan antisosial. Apa yang dikomentari banyak orang bahwa Gen Z sering curhat di media sosial sebenarnya gambaran hasil pendidikan keluarga.
Anak-anak yang mentalnya kuat tidak suka curhat di media sosial, ataupun pada sembarang orang. Mereka punya cara untuk memecahkan persoalan hidup. Tangguh dan siap memikul tanggung jawab. Karakter seperti ini datang dari bentukan keluarga yang benar.
Di sisi lain, anak-anak akan tumbuh sehat bila negara memberikan ruang hidup yang sehat. Punya regulasi yang melindungi mental dan moral anak. Menjauhkan pornografi, kekerasan, judi online, hedonisme dari generasi muda. Menciptakan budaya belajar, pantang menyerah, dan optimisme dalam hidup.
Namun yang kita lihat hari ini, para pemegang kebijakan negeri ini bertahun-tahun justru gagal menciptakan suasana demikian. Pemerintah tidak mengantisipasi maraknya budaya pornografi, kekerasan atau judi online menerobos ruang publik di dunia maya. Sampai sekarang pun tidak ada penegakkan hukum terhadap hal-hal tersebut. Akibatnya anak-anak muda kita dibanjiri berbagai konten negatif.
Masa Depan Itu Islam
Saatnya pemerintah dan orang tua mengakui bahwa peradaban bangsa hari ini sudah gagal mencetak generasi terbaik. Rapuhnya anak-anak muda sekarang adalah produk peradaban yang datang dari kebijakan negara dan perilaku orang tua. Bukan karakter bawaan yang diberikan Tuhan pada anak-anak kita.
Maka harus ada perubahan yang fundamental dan menyeluruh terhadap peradaban ini. Sayangnya, hari ini negeri kita berasaskan sekulerisme yang lahirkan budaya kapitalisme dan hedonisme. Ideologi yang dari tanah kelahirannya, Barat, sudah gagal menciptakan ekosistem yang manusiawi.
Tidak ada jalan lain kecuali kembali pada Islam. Hanya Islam peradaban yang menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Islam juga ideologi yang berhasil mencetak generasi muda yang smart dan tangguh. Anak-anak muda seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, Mush’ab bin Umair, Abdullah bin Abbas, dll., adalah sebagian dari kalangan muda yang berhasil tampil sebagai penggerak kemajuan dan perubahan.
Kunci keberhasilan Islam adalah ia merupakan ideologi langit, berasal dari wahyu Allah Swt. Memiliki role model sempurna, Rasulullah Saw. Sumbernya adalah kitab suci Al-Qur’an, dan memiliki hukum-hukum yang sempurna. Tidak ada kekurangan dari ideologi Islam.
Jadi, daripada mengeluhkan anak-anak muda hari ini begini dan begitu, sebaiknya berkaca dan segera lakukan perubahan. Langkah perubahan itu harus kepada Islam, bukan yang lain.

Leave a Reply