Santri Mestinya Pejuang Bukan Kitab Yang Berjalan

Foto oleh sirmudi_photography: https://www.pexels.com/id-id/foto/33750571/

Meski setiap tahun ribuan santri diwisuda dari berbagai pondok pesantren, mengapa kondisi umat tidak kunjung berubah menjadi lebih baik? Apakah ini disebabkan para santri sudah merasa puas menjadi kitab yang berjalan? Bukan menjadi penggerak perubahan umat menuju kehidupan Islam? Apa yang harus dilakukan?

 

Di antara sisa peradaban Islam yang hari ini masih berjalan di tengah umat adalah eksisnya madrasah-madrasah, ma’had, atau tempat-tempat pengajaran Islam. Di Indonesia terkenal dengan sebutan pesantren. Para murid yang berada dalam ruang lingkup pesantren disebut santri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), santri memiliki dua makna utama: 1. Orang yang mendalami agama Islam. 2. Orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau dikenal sebagai pribadi yang saleh.

Sedangkan secara akar kata santri berasal dari bahasa Sanskerta, kata sastri atau shastri berarti “orang yang memahami kitab suci” atau “melek huruf”. Adapun Dalam bahasa Jawa, istilah cantrik merujuk pada murid yang setia mendampingi dan melayani gurunya.

Secara prakteknya, aktivitas santri memang sejalan dengan pengertian-pengertian di atas. Seorang muslim yang menjadi santri adalah sosok yang mendalami agama atau tafaqquh fid din, memahami kitab suci dan senantiasa ihtiram/menghormati dan melayani guru-guru mereka.

 

Kelompok Manusia Istimewa

Mempelajari kandungan agama atau tsaqofah Islam secara lebih mendalam hukumnya adalah fardhu kifayah atas kaum muslimin. Artinya, harus selalu ada sekelompok orang yang melakukan amal tersebut demi menjaga kemurnian dien, mengajarkan pada umat, juga melakukan counter pemikiran terhadap berbagai pemikiran asing yang batil. Allah Swt. berfirman:

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (TQS. At-Taubah [9]: 122).

Meski para sahabat adalah orang-orang yang senantiasa mendalami agama di sisi Rasulullah Saw., akan tetapi sejumlah sahabat yang sering menjadi rujukan di antara mereka. Imam asy-Sya’bi berkata, ”Adalah enam orang dari sahabat Rasulullah saw yang (biasa) memberikan fatwa kepada orang-orang (yaitu) Ibnu Mas’ud, Umar bin al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab dan Abu Musa al-Asyari’ ra.” (Asy-Syakhsiyyah Al-Islamiyyah, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, 1/219)

Para santri ini nantinya diharapkan menjadi ulama bagi umat. Sebab, sepanjang masa umat membutuhkan para alim di bidang tafsir, bahasa Arab, hadits, fikih, dll. Termasuk membutuhkan para mujtahid untuk menjawab persoalan kontemporer yang tidak ada dalam kitab-kitab klasik. Seperti hukum kripto, e-commerce, solusi dua negara Israe-Palestina, keberadaan PBB, dll.

Karena itulah ketiadaan ulama menjadi dosa bersama atas umat. Akan banyak persoalan kekinian yang tidak ada solusinya menurut Islam. Padahal Allah Swt menurunkan Islam sebagai solusi atas berbagai persoalan hidup (tibyanan li kulli syay’i).

Nabi Saw bersabda tentang kondisi umat saat ketiadaan ulama:

إنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزعهُ مِنَ النَّاسِ، وَلكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأفْتوا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari (dada) manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika Dia tidak menyisakan seorang pun yang berilmu, maka orang-orang pun menjadikan pemimpin mereka orang-orang yang bodoh, kemudian mereka ditanya lalu mereka pun memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan. (Muttafaq ‘alaih).

 

Godaan Dan Perangkap

Di Hari Santri saatnya ada perenungan mendalam; apakah santri sudah menjadi bagian penggerak perubahan umat? Ataukah santri malah larut dalam peradaban besar dunia yang menuhankan kenikmatan materi, alias kapitalisme? Apakah santri dan pesantren ada di universe lain dan tidak bersama masyarakat? Tidak merasakan denyut kehidupan umat, turut merasakan derita umat.

Dikhawatirkan santri tenggelam dalam hafalan al-Qur’an, larut bersama kitab-kitab warisan ulama, namun semata untuk kepuasan intelektual. Seluruh ilmu agama yang dipelajari di madrasah, ma’had, atau di pondok kelak akan dimintai pertanggungjawaban akan implementasinya. Tsaqofah Islamiyyah yang tidak diimplementasikan dalam kehidupan akan menjungkalkan pemiliknya kelak di akhirat. Sabda Nabi Saw:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, untuk apa ia manfaatkan? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan? (HR. Tirmizi).

Tidak sedikit juga tujuan mencari ilmu adalah untuk menaikkan kelas intelektual. Mendapatkan posisi di tengah masyarakat. Menjatuhkan orang lain yang dianggap sebagai pesaingnya. Terkait hal ini baginda Nabi Saw memberikan peringatan dengan keras:

مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ يُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ

Barang siapa menuntut ilmu untuk membodohi orang, atau menantang para ulama, atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka. (HR. Ibnu Majah)

Tapi musibah terbesar adalah ketika keilmuan itu dilacurkan untuk mencari harta, tahta dan kuasa. Untuk keuntungan dunia. Hal itu amat mungkin. Sebab, dalam sistem demokrasi, kedudukan ulama dipandang strategis untuk meraup suara umat dalam pemilu. Untuk mengokohkan kedudukan dan berbagai kebijakan yang bisa jadi korup. Merugikan umat.

Untuk itu elit politisi, parpol, penguasa dan oligarki menawarkan berbagai pundi-pundi berlimpah. Mulai dari uang sampai tambang siap diberikan pada para ulama. Hal inilah yang telah diperingatkan Nabi Saw.:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya surga pada hari kiamat. (HR. Ibnu Majah).

 

Bagian Penggerak Perubahan

Keilmuan yang diraih para santri harus menjadi ideologi Islam, bukan hanya hafalan. Santri jangan menjadi kitab yang berjalan, tidak memberi solusi atas krisis yang menimpa umat. Ilmu-ilmu yang dikaji hanya menjadikan ia sosok yang menguasai ilmu agama, hafal, namun kering dari solusi terhadap persoalan umat.

Karenanya ada dua hal yang mesti dimiliki oleh para santri; Pertama, mindset yang benar dalam mengkaji tsaqofah Islamiyyah. Mindset itu adalah meyakini bahwa ajaran Islam yang sedang mereka kaji adalah ideologi yang riil untuk diterapkan dalam kehidupan. Pembahasan syariat Islam, tafsir, dll., tidak hidup hanya di dalam kitab-kitab karya ulama, tapi justru disusun untuk menjadi solusi dalam kehidupan.

Tidak jarang para santri dibenturkan dengan opini bahwa kajian-kajian warisan para ulama itu hanya hidup pada zamannya. Bukan pada era sekarang. Ajaran Islam sudah expired, atau andai akan diberlakukan maka harus disesuaikan dengan kebutuhan umat manusia hari ini. Sekarang kaum muslimin telah memiliki sistem kehidupan tersendiri yang mereka pilih yakni demokrasi, sekulerisme, kapitalisme, dsb.

Opini seperti ini yang harus dipatahkan oleh para santri. Dengan keyakinan bahwa sistem kehidupan selain Islam adalah batil dan menciptakan fasad di tengah umat manusia. Sebab itu tidak ada kompromi antara ajaran Islam dengan nilai-nilai dan sistem yang hari ini berlaku. Islam adalah ideologi langit yang mulia, yang tidak boleh dikotori dengan pemikiran batil dari manusia.

Kedua, kehidupan para santri bukanlah di pondok atau di madrasah semata, tapi justru terus di tengah umat. Bekal ilmu yang mereka miliki adalah ideologi yang harus diperjuangkan untuk menjadi sistem kehidupan. Sebagaimana dulu para sahabat mengkaji Islam bersama Nabi Saw berlanjut pada dakwah menegakkan kehidupan Islam. Maka hidup para santri adalah perjuangan demi Islam.

Oleh karena itu, para santri wajib meluruskan niat dan tujuan mereka terjun ke madrasah, ma’had dan pondok-pondok pesantren. Bukan semata demi kepuasan intelektual, bukan untuk menghamba pada ilmu, tapi meletakkan diri sebagai hamba Allah yang berjuang untuk tegaknya kemuliaan agama. Yaitu sampai kehidupan Islam berlangsung berupa penerapan syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.