Belajar Deep Talk (I): Ada Di Keluarga Para Nabi

Foto oleh Trac Vu di Unsplashinta,

 

Studi dari The Gottman Institute menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk adalah salah satu penyebab utama konflik dan perceraian. Karena itu mulailah merangkai kata dan jiwa untuk menciptakan pernikahan yang bahagia lewat deep talk. Bukan soal cinta, tapi  kewajiban agama

 

Di antara ciri pernikahan yang sehat dan bahagia adalah ketika suami istri sudah terbiasa dengan deep talk dalam keluarga. Secara bahasa deep talk artinya adalah pembicaraan yang mendalam. Deep talk bukan obrolan biasa yang dangkal, penuh basa-basi, dan jauh dari hal-hal yang substansial. Tapi deep talk adalah pembicaraan bersama suami dan istri yang lebih pribadi, jujur, terbuka dan seringkali mengungkap sisi kelemahan masing-masing.

Pertanyaan ”sudah makan, belum?”, atau ”hari ini masak, apa?” bukan termasuk deep talk. Itu dialog keseharian untuk mengakrabkan suasana. Deep talk mengangkat topik yang lebih mendalam seperti; perasaan takut kehilangan pasangan, membahas sifat yang kurang disukai dari pasangan, perencanaan keuangan, harapan untuk anak, dsb.

Deep talk ini begitu penting untuk merekatkan pernikahan. Selain juga menjadi solusi meredam konflik dan jalan menyelesaikannya. Studi dari The Gottman Institute menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk adalah salah satu penyebab utama konflik dan perceraian.

Sayangnya banyak pasangan yang justru menghindari deep talk meski sudah bertahun-tahun menjalin pernikahan. Ada sejumlah sebab mengapa banyak pasangan tidak membudayakan deep talk. Sebagian dari mereka ada yang tidak terbiasa dan canggung. Lalu khawatir dengan deep talk justru menyulut pertengkaran. Akhirnya mereka memendam perasaan dan menjalani pernikahan begitu saja minim sambung rasa di antara suami-istri, bahkan orangtua dengan anak.

 

Teladan Keluarga Mulia

Komunikasi yang intens dan intim dengan pasangan adalah bagian dari kemakrufan pernikahan. Allah Swt memerintahkan suami-istri untuk menjaga mu’asyaroh bil ma’ruf. Termasuk dalam pembicaraan. FirmanNya:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا

Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang ma’ruf. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (TQS. An-Nisa [4]: 19)

  • Dialog Nabi Ibrahim as Dengan Hajar

Imam Bukhari meriwayatkan saat-saat Nabi Ibrahim as meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi. Berkali-kali Hajar menanyakan alasan perbuatannya tersebut. Namun Nabi Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Sampai akhirnya Hajar bertanya, ”Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” ”Ya,” jawab Nabi Ibrahim. Lalu Hajar pun berucap, “Kalau memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami.”

Keyakinan Hajar sudah pasti landasannya adalah keyakinan pada Allah. Namun sebagai manusia biasa mantapnya keyakinan Hajar pasti terbangun dari deep talk bersama suaminya, Nabi Ibrahim as.

  • Dialog Rasulullah Saw Dengan Ummahatul Mukminin

Ada beberapa ayat yang merekam percakapan antara Rasulullah Saw dengan istri-istri beliau. Di antaranya soal haditsul ifki yaitu fitnah yang ditimpakan tokoh-tokoh munafik pada Aisyah ra. Saat itu Rasulullah saw tetap percaya pada kebaikan Aisyah meskipun rumor itu beredar luas. Beliau tetap menunggu ketetapan Allah akan hal ini. Sampai akhirnya Allah ’membebaskan’ Aisyah dari segala tuduhan.

Besarnya kepercayaan baginda Nabi Saw selain karena keyakinan akan pertolongan Allah juga karena beliau adalah suami yang sering mengajak istri-istrinya berbicara dengan intens dan intim. Seperti menguatkan hati Sofiyah bint Huyay ra. ketika merasa sedih karena Hafshah ra. memanggilnya ’wahai anak perempuan Yahudi’. Rasulullah Saw lalu berkata pada Sofiyah

« إِنَّكِ لاَبْنَةُ نَبِىٍّ وَإِنَّ عَمَّكِ لَنَبِىٌّ وَإِنَّكِ لَتَحْتَ نَبِىٍّ فَفِيمَ تَفْخَرُ عَلَيْكِ ». ثُمَّ قَالَ « اتَّقِى اللَّهَ يَا حَفْصَةُ«

“Sesungguhnya engkau termasuk puteri Nabi, pamanmu seorang Nabi, dan sekarang berada dalam perlindungan seorang Nabi, bukankah itu sudah jadi suatu kebanggaan?” Beliau kemudian mengatakan, “Wahai Hafshah, bertakwalah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

Maka deep talk untuk kita bukan hanya soal merawat pernikahan, tapi juga bagian dari kewajiban agama. Bagian dari perintah berlaku ma’ruf suami dan istri. Mengabaikan deep talk merupakan perbuatan dosa. Itu artinya mengabaikan salah satu hak dan kewajiban dalam pernikahan.

Apalagi deep talk selain melekatkan suami dan istri, juga dapat mencegah terjadinya konflik. Menghapus keraguan dan menumbuhkan saling percaya. Bersama-sama mencari jalan keluar di tengah konflik. Apalagi dalam kehidupan sosial yang semakin jauh dari agama, deep talk suami-istri menjadi begitu berharga dan penting. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.