Ciptakan Gelombang Bukan Buih

 

Pengamat politik Eep Saefullah Fattah mengingatkan agar kaum muslimin membuat barisan, bukan kerumunan. Namun faktanya umat lebih senang membuat kerumunan ketimbang barisan. Kitab At-Takattul Hizbiy karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menguraikan dengan detil hal tersebut.

 

وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ

…Akan tetapi kalian laksana buih di lautan…

 

Kalimat di atas adalah cuplikan dari hadits riwayat Imam Abu Daud yang berisi kabar dari Rasulullah Saw bahwa keadaan umat ini akan tercabik-cabik. Padahal Nabi Saw menerangkan jumlah kita berlimpah namun seperti buih di lautan.

Dalam kitab Mirqātul Mafātī Syaru Misykātil Maṣābī karya Mulla Ali al-Qari (8/3366, Maktabah Syamilah) , disebutkan bahwa Ath-Thibi mengatakan, ”Juga dibaca dengan tasydid, ghutsaun yaitu sesuatu yang dibawa arus banjir berupa buih dan kotoran. Nabi menyerupakan mereka dengan hal itu karena sedikitnya keberanian mereka, hinanya kedudukan mereka, ringannya akal dan pemikiran mereka.”

Dalam kitab Lisan Al-’Arab (15/115, Maktabah Syamilah) disebutkan: “Al-ghutsā’ dengan dhammah dan mad adalah sesuatu yang dibawa arus banjir berupa sampah campuran. Demikian pula al-ghutstsā’ dengan tasydid, yaitu buih dan kotoran. Az-Zajjaj mendefinisikannya dengan berkata: ‘Ghutsā’ adalah daun-daun pohon yang rusak dan lapuk; apabila banjir datang, engkau melihatnya bercampur dengan buih banjir itu.’ Bentuk jamaknya adalah الأغثاء (al-aghtsā’).”

Ghutsā’ — dengan dhammah pada huruf ghain — adalah sesuatu yang terbawa di atas arus banjir berupa buih dan kotoran. Ada juga yang mengatakan: yaitu tumbuhan kering seperti jerami dan rumput yang dibawa air lalu dilemparkan ke pinggir-pinggir aliran.

Semua penjelasan tentang makna ghutsa’ menunjukkan keadaan umat yang banyak, lemah terbawa arus/banjir serupa dengan daun lapuk, rusak bahkan kotoran.

—–

Ada tulisan menarik yang pernah dibuat oleh Eep Safullah Fattah terkait keadaan umat Muslim. Ia mengatakan bahwa umat Muslim harus membuat barisan bukan kerumunan. Kerumunan memang mudah diciptakan tapi juga mudah dihancurkan. Bahkan kerumunan akan bubar begitu saja tanpa ada kekuatan pengikat di antara para pesertanya.

Semantara barisan adalah kumpulan orang-orang yang terikat dengan dan tersusun rapih. Acuannya adalah QS Ash-Shaf ayat 5 dimana Allah sebutkan kecintaanNya pada perjuangan berbentuk barisan laksana bangunan tersusun rapih.

Kita bisa mengatakan kerumunan itu adalah buih-buih. Banyak tapi lemah, tidak berkesinambungan, tidak ada keterikatan ideologis di antara para anggotanya, bahkan bubar begitu saja begitu suatu kepentingan telah selesai dilaksanakan.

Namun mana yang hari ini banyak dibuat oleh kaum muslimin? Barisan atau kerumunan? Gelombang atau buih? Justru kerumunan. Nyatanya hari ini kaum muslimin terus menerus mengulangi pola seperti itu. Padahal mereka menginginkan kebangkitan dan kemenangan Islam. Namun mengesampingkan membuat barisan akan menjadikan kekuatan umat tidak akan menjadi gelombang, tapi lagi-lagi buih-buih.

Tentu sebuah kebaikan ketika umat mengadakan berbagai agenda yang menciptakan kerumunan. Tabligh akbar, kajian-kajian besar, dsb. Semua bagian dari amal saleh. Kita, Anda, dan saudara-saudara seiman yang memeriahkan acara itu in sha Allah akan mendapatkan pahala dariNya.

Namun ketika umat berbicara tentang kebangkitan dan kemenangan Islam maka barisanlah yang harus dibangun. Umat harus menciptakan gelombang dahsyat yang menghantam dan meruntuhkan ideologi batil dan imperialisme Barat. Ini tidak bisa dilakukan dengan menciptakan kerumunan sebesar apapun dan sesering apapun.

Pada titik ini umat harus melihat pada apa yang ditulis Al-Qadhi Al-’Alim Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani rahimahullah, founder Hizbut Tahrir,  dalam kitabnya At-Takattul Hizbiy (Pembentukan Partai). Panjang lebar beliau menerangkan betapa umat harus menciptakan gerakan perubahan dalam bentuk gelombang, dalam bentuk kutlah atau pergerakan. Dimana gerakan itu punya tujuan serius, punya ide/fikrah dan metode/thariqah yang jelas, serta orang-orang yang bergabung di dalamnya adalah mereka yang punya kesadaran dan keinginan yang kuat.

Berbeda dengan kerumunan dimana orang-orang hadir atau panitia menghadirkan mereka hanya untuk 1-2 agenda. Tanpa ada tujuan besar yang ingin dicapai. Zonder ikatan dan keinginan serta kesadaran kokoh untuk membangun barisan

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani merinci dalam kitab itu, bahwa pergerakan yang bercita-cita menciptakan gelombang kebangkitan sekaligus armagedon bagi ideologi kufur, harus berkembang dalam bentuk kutlah. Setiap agenda yang dilakukan adalah memimpin umat dengan ideologi Islam dan para penggeraknya adalah sosok-sosok yang sudah mengkristal ideologi di dalamnya. Sehingga umat paham tujuan dari setiap gerak yang dilakukan.

Momentun-momentum yang dibangun semua diarahkan untuk menjadi gelombang besar perubahan dan kebangkitan. Maka tidak ada satu even atau pembicaraan pun yang menjauhkan umat dari tujuan itu. Sehingga tak ada celah bagi umat berpikir yang lain kecuali ideologi Islam dan kebangkitan Islam secara bersama-sama.

Ini berbeda dengan kerumunan. Meski para peserta hadir bersama dalam beberapa even, berkumpul bersama, bahkan kolosal, tapi belum tentu ada kesamaan pemikiran dan tujuan di antara mereka. Bahkan bisa jadi tidak ada kesamaan ideologi tercipta. Amat mungkin meski berada dalam agenda kolosal – dan berkali-kali – namun mabda Islam belum bersenyawa atau mengkristal dalam diri para peserta. Karena agenda-agenda besar itu memang tidak ditujukan untuk kebangkitan umat secara ideologis. Juga bukan bukan untuk membenturkan ideologi umat dengan ideologi batil. Tapi lebih untuk ajang relaksasi spiritual para pesertanya. Healing dari kepenatan hidup dan tekanan ekonomi.

Menciptakan kerumunan ini juga berpotensi melemahkan proses membangun barisan. Sebab, umat yang terlibat dalam kerumunan acapkali merasa cukup dengan kepuasan personal secara ruhiyah, mental, sosial, dsb. Tanpa menyadari bahwa persoalan besar umat adalah buah dari hegemoni ideologi kufur dan imperialisme oleh Barat di negeri-negeri mereka.

Menciptakan kerumunan ini bila tidak disadari juga menimbulkan persoalan di tengah para pejuang Islam. Mereka bisa jadi merasa puas menciptakan kerumunan. Puas karena bisa menghadirkan massa yang besar. Akhirnya energi untuk membangun barisan mengendor dan hilang minat menciptakan gelombang.

Bahkan terkadang kepuasan itu disebabkan karena naiknya branding personal di mata kerumunan. Menjadi populer lewat acara-acara tersebut. Muncullah penyakit superstar syndrome. Beda dengan upaya menciptakan gelombang sering dilakukan di jalan-jalan sunyi. Keluar masuk gang, perkampungan, bahkan ke pegunungan. Tak tepuk tangan, pujian, atau like dan viewer yang berlimpah.

Lebih berbahaya lagi bila kemudian lahir sikap underestimate terhadap upaya menciptakan barisan. Minim hadir dalam agenda-agenda penciptaan barisan. Minim menularkan semangat untuk membangun gelombang. Karena memang jalan menciptakan barisan dan gelombang seringkali tidak diminati banyak orang. Seringkali tidak menaikkan popularitas para pelakunya. Cukuplah pesan Nabi Saw:

إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَظُبَى لِلْغُرَبَاء

Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba). (HR. Muslim)

Menciptakan kerumunan tidak salah. Namun terlalu fokus dan mencukupkan diri dengan penciptaan kerumunan berarti umat lagi-lagi sedang menciptakan buih-buih. Justru hari ini yang harus dibangun adalah barisan dan gelombang. Bagi siapa saja yang menyadari qadhiyyah mashiriyyah umat maka pasti akan bersemangat untuk melakukan perubahan besar.

Memang membangun barisan itu seringkali terlihat lambat bahkan nyaris tak terlihat. Tapi ketika dilakukan dengan serius dan pengorbanan besar, maka barisan itu kian membesar. Gelombang itu mulai terasa getarannya. Seringkali musuh-musuh Islam lebih dulu merasakan terpaan gelombang itu ketimbang kaum muslimin sendiri.

Maka kesabaran dan ketekunan adalah syarat menciptakan gelombang besar perubahan. Berada dalam sebuah barisan yang teratur, ideologis, militan, dan siap tidak dikenal penduduk bumi adalah syarat-syarat yang harus dimiliki pencipta barisan ini. Namun di tangan mereka gelombang kebangkitan umat ini akan muncul.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.