
Foto oleh Lara Jameson: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-bangunan-8898858/
Pemuda sering disebut sebagai agen perubahan. Terbuka dan siap lakukan perubahan. Tapi mengapa hari ini tak nampak gerakan pemuda melakukan perubahan? Terperangkap dalam pragmatisme dan hedonisme? Mengapa?
Apakah Sumpah Pemuda 28 Oktober masih bergaung di jagat anak-anak muda Indonesia? Sepertinya semakin lemah. Histori Sumpah Pemuda sepertinya tenggelam dalam keriuhan media sosial. Nama-nama pahlawan kalah pamor dengan gemuruh influenser di Tiktok, Instagram, dll. Hari ini adalah era dimana anak-anak muda di tanah air seperti lupa kacang pada kulitnya. Asing dengan sejarah perjuangan melawan penjajahan.
Mengapa demikian? Perjuangan itu lekat dengan kesadaran idealisme. Siapa yang sadar dengan keadaan dirinya dan lingkungannya maka akan berjuang untuk mencari jati dirinya dan memperjuangkannya. Ketika ia menemukan nilai-nilai ideal untuk kehidupannya, lahirnya idealisme pada pribadinya. Lalu ia akan berjuang untuk membumikan nilai-nilai idealisme itu.
Pemuda seharusnya berada dalam lingkaran manusia yang penuh dengan idealisme. Punya cita-cita melangit, kepedulian dan gigih mempertahankan prinsip. Sejarah perubahan dunia pasti dilakukan dan melibatkan anak-anak muda. Revolusi Bolshevik yang melahirkan negara komunis Uni Soviet digerakkan anak muda, Stalin. Kemerdekaan Indonesia digerakkan anak-anak muda Rengasdengklok. Pantas Soekarno mengatakan; ”Beri aku sepuluh pemuda akan kuguncangkan dunia!”
Dakwah Rasulullah saw yang inqilabiyyah di Mekkah juga diisi barisan para pemuda. Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dll. Bahkan kisah fenomenal ashabul kahfi juga berisi lakon anak-anak muda beriman dan bertakwa.
نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِٱلْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى
Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (TQS. Al-Kahfi: 13).
Begitulah, karakter pemuda adalah idealis. Gigih mempertahankan prinsip yang diyakini kebenarannya. Pantang menyerah. Berani melawan arus besar peradaban dan berpikir out of the box.
Namun faktanya tidak semua anak muda seperti itu. Bahkan mayoritas anak muda justru tidak punya idealisme sama sekali. Ada juga yang yang pernah punya idealisme tapi justru hilang di umur masih muda.
Musuh Idealisme
Namun begitu, hari ini arus besar anak muda justru berada di jalur yang berseberangan dengan idealisme, yakni pragmatisme dan hedonisme. Ini bisa dibaca pada hampir semua sektor kehidupan, termasuk politik.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang menilai kebenaran dari suatu teori atau kepercayaan berdasarkan tingkat keberhasilan atau manfaatnya dalam penerapan praktis. Kaum pragmatis lebih menekankan kemanfaatan dan kegunaan ketimbang metode dan cara serta nilai-nilai idealis.
Celakanya, bukan saja mengikis idealisme, tapi pragmatisme juga mendorong anak muda untuk mencari kemanfaatan dan kegunaan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok. Pragmatisme bisa menjadikan anak muda serakah dan korup seperti generasi bapak-bapak mereka.
Hal ini sudah terjadi di dunia politik praktis. Sejumlah anak muda yang terjun ke dunia politik demokrasi malah terjungkal akibat tindak korupsi. Teranyar adalah Nur Afifah Balqis, 24 tahun, Bendahara DPC Partai Demokrat Balikpapan, yang terjerat OTT KPK dalam kasus suap. Anak muda ini divonis hukuman 4 tahun 6 bulan penjara.
Ada juga anak muda menjadi Wali Kota Kendari, Adriatma Dwi Putra, 29 Tahun, terbelit kasus korupsi proyek infrastruktur. Ia bersama ayahnya, Asrun, ditetapkan sebagai tersangka dan dijatuhi hukuman 5,5 tahun penjara. Berikutnya ada Wali Kota Tanjung Balai, M. Syahrial (33 Tahun) yang terjerat dua Kasus; suap lelang jabatan Sekda tahun 2019, dan kedua, penanganan perkara yang melibatkan penyidik KPK, Stepanus Robin Pattuju.
Pragmatisme di alam demokrasi lekat dengan hedonisme. Ketika bicara pencapaian pribadi, yang terbayang adalah kemewahan. Ini tidak lepas dari budaya flexing yang berkembang di media sosial, ataupun di circle pertemanan, termasuk circle kehidupan para politisi. Bahwa keberhasilan dalam politik identik dengan gaya hidup glamor.
Itu pula yang bisa dilihat di kehidupan lain anak-anak muda kita. Fokus kehidupan mereka adalah kesenangan pribadi; kalau tidak kekayaan maka itu adalah kepuasan pribadi. Prestasi akademik, bisnis, dll.
Disadari atau tidak, pragmatisme dan hedonisme ini juga merasuk ke kajian-kajian keislaman di kalangan anak muda. Terlihat dari kalangan muda yang lebih antusias pada kajian-kajian ringan untuk kepentingan personal. Apalagi bila kajian-kajian itu disajikan bergaya entertainment mirip minuman bersoda yang menyegarkan sesaat. Berbondong-bondong anak muda hadir dalam kajian-kajian seperti itu meskipun harus berbayar.
Namun antusias itu tidak sama terhadap kajian-kajian keumatan seperti persoalan politik, pertambangan, korupsi, kewajiban menegakkan syariat dan sistem pemerintahan Islam. Anak-anak muda seperti itu cenderung menghindari tema-tema itu dengan alasan tidak relate dengan dunia mereka. Tidak kompatibel dengan kebutuhan mereka. Inilah sebenarnya pragmatisme dan hedonisme spiritual. Menjadikan agama pemuas kebutuhan personal, kesalihan pribadi, bukan solusi untuk persoalan keumatan.
Mereka punya idealisme namun dalam batas-batas tertentu. Dalam level keumatan, apalagi bergerak melakukan revolusi perubahan sosial, masih berat kaki melangkah.
Akarnya Adalah Ideologi
Bila kita telusuri sebenarnya persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk anak muda, bukanlah persoalan usia. Tua atau muda. Namun persoalan kelekatan dengan sebuah ideologi. Fakta, berapapun usia manusia namun bila dalam dirinya telah mengkristal ideologi tertentu, maka ia tetap akan jadi sosok idealis ideologis.
Banyak orang sudah lanjut usia namun tetap berjiwa idealis. Dalam sejarah Islam, tidak sedikit sahabat maupun salafus salih yang semakin tua justru semakin tajam idealismenya. Imam Said bin Musayyab di usia senjanya bersikukuh ingin ikut ke medan jihad. Padahal beliau sudah alami gangguan penglihatan.
Satu-satunya ideologi yang begitu kuat berpengaruh pada jiwa manusia – baik tua maupun muda – adalah Islam. Sejarah Islam berisi tinta emas para pemuda dan ulama Islam yang berjuang. Mush’ab bin Umair yang mengubah Yatsrib menjadi negeri yang siap didatangi Rasulullah dan kaum Muhajirin. Ada juga Usamah bin Zaid panglima perang muda usia memimpin pertempuran melawan Romawi. Atau Sultan Muhammad al-Fatih penakluk Konstantinopel.
Hari ini ideologi yang mencengkram anak-anak muda adalah sekulerisme-kapitalisme. Dalam ideologi ini pragmatisme dan hedonisme memang bagian yang tak terpisahkan. Manusia dihapuskan idealismenya dan didorong untuk mencari kesenangan pribadi. Menjadi pribadi hedonistik.
Anak-anak muda dicetak untuk peduli hanya pada diri sendiri circle-nya saja, seperti keluarga dan kawan-kawannya. Berikutnya, mereka digiring untuk menjadi pembela kepentingan kelompoknya seperti partainya. Bukan kepentingan masyarakat apalagi agama.
Karenanya, para pemuda butuh ideologi kuat yang menjadikan mereka agen-agen perubahan. Menjadi sosok-sosok pejuang dan siap berkorban untuk kepentingan orang banyak. Mengubah mereka jadi pribadi yang ikhlas beramal, tidak mengharap pamrih dari manusia, semata ridho sang Maha Pencipta. Ideologi seperti itu hanya Islam. Selama anak muda memilih falsafah hidup selain Islam, jangan harap punya kepedulian besar melakukan perubahan. Mereka yang berislam pun belum tentu punya karakter pejuang bila pragmatis dalam hidup dan memilih mencari kepuasan spiritual personal. Maka harus berislam dengan kaffah. Totalitas berislam bukan parsial.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(TQS. Al-Baqarah [2]: 208)[]

Leave a Reply