Beda Anda Dengan Rasulullah, Umar, Utsman: Mereka Menerapkan Syariat Islam

Tak kapok-kapok Presiden negeri ini, paduka Jokowi, ulangi bagi-bagi sembako langsung pada rakyat. Ini memancing kegaduhan netizen; melanggar aturan physical distancing, apalagi ada yang dilempar-lempar ke warga di pinggir jalan, full dokumentasi yang kemudian sigap memviralkan, sampai tas kepresidenan yang belum beres dicetak.

Untuk mengcounter kritikan netizen, langsung orang-orang di sekelilingnya menyebut tindakan presiden selain tanda kedekatan dengan rakyat, juga meniru Rasulullah, Khalifah Umar dan Khalifah Usman. Luar biasa, kan?

Bagi-bagi sembako itu bagus dan mulia, asal dilakukan dengan cara dan oleh orang yang tepat. Kepala negara, kepala rumah tangga sampai pembantu rumah tangga dianjurkan menolong kaum yang papa, yang lemah. Tapi semua ada kapasitas dan responsibilitas yang berbeda.

Untuk level kepala rumah tangga membagi sembako menjadi berharga bila diberikan pada sanak keluarga dan orang yang jadi tetangga. Itulah obyek terdekat dan yang diseru agama. Seperti kata Wapres KH Maruf Amin; berdosa bila tidak menolong tetangga! Itu level kepala rumah tangga.

Bantuan dari seorang kepala rumah tangga dan pembantu rumah tangga pun hanya sebesar yang bisa mereka punya. Mungkin 5 liter beras, 1 liter minyak goreng, 4-5 butir telor ayam, plus 3 bungkus mie instan. Itu yang mereka punya. Dan mereka tidak punya tanggung jawab untuk membagi sembako ke seantero 34 propinsi. Itu bukan maqom mereka.

Kalau ada kepala negara yang ingin mencontoh Rasulullah, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, silakan baca kisah hidup dan perjalanan karir kepemimpinan mereka secara utuh. Jangan sepotong-potong. Apalagi dengan tujuan dramatisisasi.

Khalifah Umar misalnya, pernah menggotong sendiri sekarung gandum untuk warga yang kelaparan, lalu memasakkannya untuk mereka. Itu insidental. Ketika beliau sedang meronda, lalu terdengarlah ada keluhan warga yang menderita. Aksi cepat tanggap pun Umar lakukan.

Tapi mohon catat, Khalifah Umar lakukan itu tanpa bawa rombongan lengkap pasukan pengawal khalifah, tanpa kantong khusus atas nama bantuan khalifah, dan tanpa publikasi. Kalaupun riwayat itu sampai kepada kita, itu karena ada orang yang meriwayatkannya tanpa diminta sang khalifah.

Kembali ke bahasan kapasitas dan responsibilitas, sebagai kepala negara harusnya tak sama dengan kepala rumah tangga apalagi pembantu rumah tangga. Kalau sama berarti ada cara berpikir yang kacau. Berarti ada orang yang level berpikirnya tidak naik. Jangan-jangan ia tak sadar kalau sudah menduduki tampuk kekuasaan yang tertinggi di negeri ini.

Untuk kapasitas kepala negara, kata-kata dan tanda tangannya adalah kuasa. Khalifah Umar contoh nyata, memerintahkan bawahannya untuk memberi insentif pada semua anak yang lahir di seantera kekhilafahan. Khalifah Umar juga memerintahkan stafnya agar harta rampasan perang yang amat berlimpah – berjumlah lima ratus dirham –, yang dibawa Abu Hurairah dari penaklukan Bahrain, diatur untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Khalifah Umar memerintahkan stafnya menggunakan metode diwan yang diadopsi dari Persia, atas usulan Walid bin Hisyam bin al-Mughirah. Dengan cara itu Khalifah Umar bisa membagi dengan adil kepada warga masyarakat; ummahatul mukminin mendapat 12 ribu dirham/tahun, veteran Perang Badar 5 ribu dirham/tahun, sampai bayi-bayi yang masih menyusui dapat jatah 100 dirham/tahun.

Kata dan tanda tangan penguasa itu kuasa. Jadi kalau memang Anda seorang penguasa, milikilah mindset sebagai penguasa. Jangan mental kepala rumah tangga yang hanya bisa bantu satu sampai lima tetangganya. Penguasa itu lebih tinggi dari kepala rumah tangga. Penguasa juga bukan sinterklas yang masuk rumah-rumah bagi-bagi hadiah. Penguasa itu punya kuasa, staf, ASN dan tentara.

Rakyat hari ini terancam kemiskinan dan kelaparan, maka kerahkan anggaran negara untuk mendrop bahan pangan dan uang untuk seluruh rakyat sampai wabah ini tuntas dan mereka bisa bekerja lagi. Suruh staf dan seluruh anak buah untuk bekerja menjamin perut warga jangan keroncongan. Jangan ada lagi keluarga yang minum air galon terus-terusan hanya untuk survive, atau jangan lagi ada warga yang terkapar meregang nyawa di tengah jalan karena kelaparan.

Tidak perlu seorang kepala negara menenteng sendiri berkantong-kantong makanan berkeliling ke seluruh propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan, RT-RW dan gang-gang seluruh Indonesia. Tidak efesien dan useless.

Tapi percayalah, itu semua takkan bisa terlaksana. Siapapun Anda, takkan bisa seperti Khalifah Umar, Khalifah Utsman, apalagi Rasulullah SAW. Takkan bisa. Bukan karena tingkat ketakwaan yang beda, tapi karena ketiga tokoh itu menjalankan pemerintahan sesuai syariat Islam. Mereka terapkan hukum-hukum Islam secara kaffah. Bukan hukum buatan manusia, apalagi sistem kapitalisme yang menjijikkan.

Lihat saja, di tanah air, saat pandemi merajalela, atensi pada kesehatan dan nyawa rakyat masih di bawah kepentingan ekonomi. Wacana ibu kota baru masih jalan, TKA asing masih terus dibiarkan berhamburan ke dalam halaman. Itulah kapitalisme.

Kalaupun ada seorang alim ingin meniru Umar atau Usman, tapi tak menjalankan aturan yang dijalankan Umar dan Usman, Syariat Islam dalam bingkai kekhilafahan, itu sebuah mission impossible. Hil yang mustahal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.