Rame-Rame Abadikan Orang Bunuh Diri; Gangguan Jiwa Pecandu Medsos

Anda kecanduan medsos? Patut waspada. Medsos bukan saja membuat Anda lupa waktu, lupa diri, dan lupa keadaan di sekitar, tapi medsos juga berpotensi membuat orang hilang empati. Terbukti dengan beredarnya rekaman video pemuda bunuh diri di Lampung. Peristiwa yang buat ngilu batin kita ini terjadi di pekan terakhir Februari 2019. Dengan melompat dari atap gedung satu pusat perbelanjaan, mahasiswa berjenis kelamin pria ini, nekat menghabisi hidupnya.

Tapi, bukan soal bunuh diri yang jadi momen paling buat ngilu dan buat akal sehat kita bertanya; karena menurut penuturan saksi mata, saat sang pemuda masih ancang-ancang ambil keputusan, sejumlah orang berkerumun bermaksud mengabadikan tersebut. Inilah logika paling absurd dan nurani yang hancur berkeping. Bagaimana bisa ada orang yang sedang galau level ekstra, ingin bunuh diri, tapi ada kerumunan orang yang malah ambil kesempatan jadi ‘pahlawan’ dengan abadikan kejadian itu.

Lebih parah lagi, menurut beberapa pemberitaan di situs berita nasional, dalam rekaman itu ada suara orang yang ketawa-ketawa sambil beri komen pada si pelaku, “Loncat..loncat!” dan …pemuda itupun akhirnya loncat.

Saya tertawa miris membaca berita itu. Bener. Para perekam itu mungkin berpikir mereka Steven Spielberg yang merekam adegan T-Rex melahap orang dalam film Jurasic Park, yang kemudian film itu nge-hit. Atau mungkin mereka kira itu bisa jadi seperti Joko Anwar yang buat film Pengabdi Setan yang buat penonton tercekam, bulu kuduk berdiri, rasa takut menjalar, karena adegan yang beneran serem. Atau mungkin menjadi

Atau para perekam itu pikir menjadi pahlawan karena melakukan citizen journalism, bak wartawan perang atau peliput bencana alam. Pikir mereka, makin dramatis suatu kejadian makin harum nama peliputnya.

No. Kalian, para perekam, apa tidak tahu kalau Steven Spielberg membuat film fiksi? Tak ada sepotong aktor yang bener-bener dikunyah Tiranosaurus. Juga tak ada sebiji pun setan yang mencekik para pemain film Pengabdi Setan. Mereka buat film fiksi. Bukan merekam kisah nyata.

Kalian, para perekam, juga tak punya etika sebagai seorang citizen journalism. Wartawan tulen sekalipun, tak akan membiarkan orang sekarat di tengah bencana. Andaipun itu ia lakukan, ia bakal dikecam habis-habisan oleh sesama jurnalis. Bad news is good news, tapi ada kode etik jurnalistik yang wajib dipertahankan, seperti nilai-nilai kemanusiaan.

Jadi, para pembaca, masih berani kita bilang Indonesia tidak krisis moral? Krisis agama? Indonesia baik-baik saja? Kalau iya, berarti Anda mengalami kram otak. Kekacauan empati.

Siapa mereka? Mereka adalah kita, orang Indonesia, netizen menjadi kecanduan medsos beberapa tingkat. Pada level tertinggi, pecandu medsos bukan saja ingin narsis, tapi ingin populer dengan mengeksploitasi keadaan orang lain untuk keuntungan diri sendiri. Hal yang bisa dieksploitasi adalah yang paling memancing rasa kepo khalayak; skandal, keanehan perilaku, dan segala hal yang absurd seperti orang mau bunuh diri.

Kalau netizen yang sudah sakit ini punya rekaman video orang bunuh diri, dia bisa bangga (?) memperlihatkan rekamannya ke kawan-kawannya. Komentar yang diharapkan adalah “Ih si anu punya rekaman orang bunuh diri, lho! Serem!”. Biasanya begitu. Semakin absurd kejadian yang direkam, makin bangga si pemilik rekamannya. Ketika diunggah ke medsos, makin banyak komentar, makin banyak like, adalah reaksi yang paling ditunggu.

Jelas ini tanda gangguan moral akut. Para perekam tak punya empati, miskin tanggung jawab moral, dan perlu dipertanyakan akhlaknya. Coba, andai yang direkam itu adalah anaknya yang tengah bersiap melompat, atau adiknya yang sudah tiduran di atas rel kereta, atau mbah-nya yang sudah memasukkan kepalanya ke ikatan tali, lalu terjadilah momen bunuh diri, komentar mereka saat menonton rekaman itu pasti sama; “KALIAN KEJAAAAM! BIARKAN DIA BUNUH DIRIIIII!”

Dalam Islam, membiarkan orang berbuat maksiat sama dengan setuju bahkan dianggap mendukung kemaksiatan itu. Apalagi membiarkan orang melakukan bunuh diri, bisa kena delik pidana lebih tinggi lagi. Seorang muslim wajib membekali diri dengan tanggung jawab moral dan rasa kemanusiaan pada sesama mahluk hidup. Pernah kan mendengar hadits Nabi SAW., bahwa ada perempuan yang diazab di neraka karena mengurung seekor kucing sampai mati? Atau bagaimana Allah menghapus dosa seseorang karena memberikan minum pada seekor anjing yang hampir mati kehausan?

Binatang saja ada nilainya di hadapan Allah. Bahkan untuk seekor binatang najis seperti anjing pun, seorang muslim dituntut tanggung jawab moral di Hari Akhir. Apalagi nyawa manusia. Jadi absurd bin gendeng ketika ada orang bunuh diri, lalu kita malah merekamnya – atau malah menyorakinya agar serius –, tanpa ada ketukan hati untuk menolongnya, mencegahnya, tapi malah merekam dan mengedarkannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Inilah potret sebagian netizen warga kita, saudara seagama kita, yang sudah socmed’s addict tingkat tinggi. Alami gangguan jiwa. Inilah karya peradaban liberalisme yang hasilkan gangguan jiwa individualisme dan hedonisme. Karena merekam derita orang adalah bagian dari kebebasan. Tidak mencegah orang lain bunuh diri adalah hak pribadi dimana pelakunya berhak bunuh diri dan warga lain punya hak tuk merekamnya, juga merasa punya hak men-share-nya ke mana saja. Lalu mendapat kepuasan dari hasil merekam derita orang adalah kebahagiaan fisik bagi penduduk liberalisme-individualisme, karena itulah yang namanya hedonisme. Na’udzubillah min dzalik!

Memang negeri ini benar-benar sudah butuh Syariah Islam dan Khilafah Islamiyyah agar gangguan jiwa ini tak menyebar lebih luas lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.