Umat Membutuhkan Kemampuan Berpikir Politis-Ideologis

Foto oleh Anıl Ekici: https://www.pexels.com/id-id/foto/36451250/

 

Umat masih sering terpedaya dengan permainan simbol keislaman dan retorika politik yang dimainkan para penguasa dunia Islam. Sehingga kerap salah dalam menyikapi berbagai krisis di tubuh umat. Saatnya umat berpikir politis dan ideologis agar mendapat gambaran jernih persoalan di dunia Islam.

 

Sepuluh klausul gencatan senjata yang disepakati Iran dan AS secara langsung menelanjangi wajah asli rezim Teheran. Tidak ada penyebutan pembebasan Gaza, Al-Aqsha dan Palestina. Namun para pemimpin Iran tetap berkoar-koar bahwa persoalan Gaza dan Palestina adalah penting. Bila benar penting, mengapa tidak dimasukkan dalam syarat gencatan senjata?

Iran hanya mensyaratkan penghentian serangan Israel ke Lebanon sebagai syarat pembukaan Selat Hormuz. Mengapa bukan penghentian genosida di Gaza dan penarikan mundur zionis dari tanah Palestina? Pada akhirnya, Iran tidak ada bedanya dengan rezim Arab dan dunia Islam lainnya. Mereka baru bereaksi ketika kepentingannya dan kepentingan sekutunya yang diserang.

Umat menyaksikan kepanikan rezim Saudi, UAE, Qatar, dll, ketika rudal-rudal Iran menghajar sejumlah fasilitas milik AS di tanah mereka. Kecaman terhadap Teheran meluncur dari para penguasa Arab. Bahkan ancaman invasi militer juga ditujukan ke Iran. Seolah mereka adalah korban. Padahal mereka berkubu ke negara imperialis dan zionis.

Bertahun-tahun mereka sediakan dengan gratis negeri muslim untuk jadi pangkalan militer kaum penjajah. Bertahun-tahun juga mereka tidak pernah mengusik Israel sekalipun genosida terjadi dan al-Aqsha dinodai. Bayarannya? Kekuasaan mereka dijamin oleh Barat. Tidak akan terjungkal seperti rezim Maduro, Karzai, Saddam atau Qadhaffi.

Namun mengapa umat tidak kunjung sadar dengan kepalsuan yang dilakukan para pengkhianat tersebut? Ada dua sebabnya; Pertama, simbol-simbol Islam yang mereka mainkan. Kedua, kelihaian para pengkhianat itu memainkan politik retorika dan mengkamuflase persekongkolan mereka dengan rezim Barat bahkan zionis.

Perkara simbol, Saudi adalah pihak yang paling diuntungkan. Adanya dua simbol kemuliaan Islam di negeri, Makkah dan Madinah, menyebabkan banyak orang – termasuk kalangan alim – yang rela menjadi die harder Saudi. Apalagi KSA mengklaim diri mereka adalah khadimul haramayn, pelayan dua tanah suci.

Umat melihat Saudi sebagai representasi ajaran Islam dan dianggap sebagai rezim suci dan berkhidmat pada Islam. Padahal, KSA adalah negara sekuler yang hari ini makin terang-terangan mengadopsi ideologi liberalisme. Bertahun-tahun pula Saudi menjadi sekutu setia bangsa Barat penjajah. Dari Inggris di era awal dan sekarang beralih ke AS.

Bertahun-tahun pula mereka hanya menatap krisis di Palestina dan mengulang retorika sama. Tapi tak ada tindakan nyata melakukan pengusiran terhadap kaum zionis, dan membela kesucian al-Aqsha. Bahkan menembak sebutir peluru pun tidak pernah mereka lakukan. Namun begitu masih saja ada sebagian orang memuja-muja KSA. Seolah-olah mengurus Masjidil Haram dan jamaah haji lebih utama dan mulia ketimbang jihad fi sabilillah membebaskan Palestina. Sementara Allah Swt sudah berfirman:

۞ أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ ٱلْحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَجَـٰهَدَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. )TQS. At-Taubah [9] 19)

Kedua, para penguasa itu adalah politisi yang licik memainkan peran di depan umat. Menggebu-gebu seolah membela Islam namun bergandeng tangan dengan para pembunuh umat, yakni Barat (AS dan sekutunya) juga zionis Israel.

Rezim Turki misalnya tampak di podium seperti pembela Islam. Namun sebenarnya mereka secara langsung dan tidak langsung mensupport genosida di Gaza. Turki menjadi penghubung impor minyak bumi dari Azerbaijan menuju Israel melalui pipa Baku–Tbilisi–Ceyhan (BTC).

Pipa BTC merupakan koridor energi utama timur‑barat yang menyalurkan minyak dari Laut Kaspia ke Mediterania. Terminal akhirnya berada di Pelabuhan Ceyhan (Turki), dari mana minyak dikirim ke Israel. Negara zionis tersebut membutuhkan 30-46 persen impor minyak dari Azerbaijan. Sepanjang konflik Iran dengan AS, pasukan Garda Revolusi Iran mengancam Israel akan meledakkan pipa tersebut. Namun tak kunjung dilakukan (https://www.middleeasteye.net/news/iran-threat-enemy-oil-lines-raises-fears-over-btc-pipeline)

Minyak bumi Azerbaijan tersebut diolah salah satunya menjadi bahan bakar jet tempur Israel yang menggempur berbagai sasaran di Gaza dan Libanon. Artinya, Turki membantu negara zionis sepanjang genosida di Gaza.

 

Berpikir Politis-Ideologis

Maka umat harus jernih setiap membaca persoalan yang terjadi di dunia Islam. Harus bisa melihat hubungan patron-klien antara para penguasa muslim dengan negara-negara imperialis. Tidak hanya membaca yang ada di permukaan. Semata melihat simbol-simbol keislaman dan politik retorika mereka. Disanalah para penguasa muslim mengeksploitasi berbagai opini untuk menipu umat. Untuk itulah dibutuhkan pemikiran politis-ideologis.

Pemikiran politis mutlak dibutuhkan agar bisa mendapatkan gambaran yang jernih misalnya tentang konstelasi politik internasional. Bahwa negara-negara Barat hari ini menempati posisi sebagai negara adidaya (daulah al-ula), negara-negara besar (daulah al-kubro), sedangkan negeri-negeri muslim banyak menjadi negara pengikut dan negara satelit. KSA, Yordania, UAE adalah contoh negara pengikut negara adidaya yakni AS. Sedangkan Iran dan Turki adalah tipe negara satelit. Yaitu negara yang secara formal merdeka, tetapi dalam praktiknya sangat bergantung dan dikendalikan oleh negara lain yang lebih kuat.

Pemikiran politik bagi kita ditujukan untuk mengatur urusan umat (ri’ayah asy’-syu’unin nas). Bukan untuk kepentingan kelompok atau nation state. Dengan begitu maka umat bisa selamat dari tipu daya penjajahan politik yang dilakukan negara-negara Barat dan antek-antek mereka.

Namun pemikiran politik ini mesti ideologis, karena bila tidak maka tidak ada artinya. Sebab pemikiran politik tanpa ideologis Islam akan menjadikan kemaslahatan sebagai asas. Padahal mestinya hanya Islam yang dijadikan asas dan acuan hukumnya.

Dengan berpikir ideologis umat akan menilai segala problem umat, termasuk krisis di Timur Tengah, dengan syariat Islam. Menilai apakah rezim di Timur Tengah absah secara syariat, ataukah bukan. Apakah hubungan diplomatik mereka dengan negara zionis haram ataukah tidak.

Misalnya, kaum muslimin juga harus menempatkan negara-negara imperialis seperti AS, Inggris, Prancis, Jerman sebagai musuh. Mereka senantiasa mengobarkan permusuhan dengan berbagai cara kepada umat; secara militer, politik, ekonomi, sosia, dsb. Pakem politik kita terhadap mereka telah dijelaskan Allah Swt:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةًۭ مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًۭا وَدُّوا۟ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْـَٔايَـٰتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti. (TQS. Ali Imran [3]: 118)

Contoh lain umat jangan berpikir bahwa bersekutu negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggris lebih baik, hanya disebabkan mereka sekarang berseteru dengan AS. Padahal baik AS maupun negara-negara besar Eropa sama-sama penjahat kemanusiaan terkejam di muka bumi, khususnya terhadap kaum muslimin. Perseteruan mereka dengan AS adalah perselisihan dalam pembagian dan cara menyembelih umat ini.

Termasuk, umat seharusnya melihat bahwa berbagai persoalan di Timur Tengah, dan dunia Islam pada umumnya, tidak mungkin diselesaikan melalui pola nation state. Ataupun melalui PBB, Liga Arab, OKI, dsb. Semua yang disebutkan sesungguhnya rekayasa Barat untuk terus memelihara konflik di dunia Islam sekaligus melanggengkan imperialisme mereka di dunia Islam.

Satu-satunya solusi adalah umat harus membangun kekuatan mandiri. Jalan itu telah ditetapkan oleh syariat, yakni menegakkan Khilafah Islamiyyah. Inilah solusi yang sudah diterangkan Kitabullah dan Sunnah Nabi Saw. Pelindung umat yang sah secara syariat adalah Khilafah Islamiyyah. Inilah junnah yang hakiki.

Maka, umat harus berpikir cemerlang, politis dan ideologis. Bukan hanya kemaslahatan sesaat, atau berkutat dalam kepentingan nasionalisme mereka. Sebab, itu bukan jawaban, justru tambahan masalah bagi umat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.