Negara Abai, Pelajar Depresi Hingga Bunuh Diri

https://www.dailyleader.com/2020/09/11/life-is-worth-living-and-suicide-is-preventable/Pembelajaran daring (dalam jaringan) kembali mendapat sorotan tajam. Kali ini karena mulai memakan korban jiwa. Seorang siswi kelas 2 SMA di Gowa, Sulawesi Selatan, nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun hama. Diduga korban mengalami stress selama pembelajaran daring karena tugas yang banyak sementara jaringan internet di daerahnya lelet.

Ada dua pelajaran penting dari kejadian memilukan ini; pertama, kehandalan pemerintah meri’ayah/mengurus dan melayani kebutuhan dunia pendidikan di masa pandemi. Termasuk kesiapan infrastruktur untuk mensukseskan kegiatan belajar model daring, seperti jaringan internet, gawai bagi para pelajar, dan tentu saja kuota untuk mereka.

Kita harus jujur melihat bahwa semuanya jauh dari standar memadai. Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan tidak atau belum punya kurikulum khusus untuk kegiatan pembelajaran daring. Memang ini keadaan darurat, tapi andaikan kurikulum dan segala keperluannya ditangani dengan cepat, maka kondisi tidak akan terlalu memberatkan para pelajar.

Kurikulum yang tidak segera disiapkan akhirnya menyulitkan para siswa dan juga guru dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di rumah. Hal yang sama juga dirasakan para orang tua, karena tidak semua orang tua punya kemampuan membimbing kegiatan akademik putra-putrinya.

Indonesia juga masih tertinggal dalam penyediaan sarana internet yang dapat diakses semua daerah. Terutama di masa pandemi dimana pemerintah mengambil keputusan belajar via daring, semestinya pemerintah menyiapkan fasilitas yang memadai untuk semua pelajar mulai dari akses internet gratis hingga gawai. KPAI mengatakan 43 persen yang disurvey oleh mereka mengeluhkan soal kuota internet, dan 29 % mengaku tidak memiliki gawai.

Bagaimana para guru dan pelajar bisa mengikuti kegiatan belajar via internet bila sarana dan prasarananya tidak disiapkan negara? Bukankah ini suatu kelalaian dan pengabaian hajat hidup rakyat?

Semestinya para pemangku jabatan merasa malu membaca berita pelajar yang berjalan kaki ratusan meter, naik ke bukit, belajar di kebun karena kesulitan mendapatkan akses internet. Atau para siswa dan orang tua yang banting tulang mencari uang untuk membeli gawai dan kuota.

Apalagi bila terjadi kasus bunuh diri, seharusnya dinas pendidikan mengevaluasi kinerja mereka sambil menyusun program pendidikan di masa pandemi. Meski ada dugaan korban melakukan bunuh diri bukan karena persoalan pembelajaran daring, namun bukan berarti kurikulum di masa pandemi dan segala keterbatasan sarana-prasarana tidak menambah beban siswa.

Biasanya tindakan bunuh diri terjadi karena akumulasi persoalan yang membebani seseorang. KPAI mencatat para pelajar merasa jenuh dan stress selama pembelajaran daring karena para guru banyak memberi tugas. Ditambah persoalan pribadi siswa, membuat anak depresi dan nekat mengambil keputusan bunuh diri.

Kedua, kasus bunuh diri pelajar dan beban mental yang dirasakan para siswa adalah persoalan yang harus segera ditangani oleh orang tua dan pemerintah. Depresi di tingkat remaja bukan masalah sepele. Bukan hanya karena persoalan belajar daring atau asmara, tapi karena depresi dan bunuh diri sudah jadi bagian persoalan remaja.

Pada tahun 2017, Pew Research Center menemukan data 13% (sekitar 3,2 juta) remaja usia 12-17 tahun di AS mengalami depresi, ini bertambah 8% (atau sekitar 2 juta) dibandingkan tahun 2007. Remaja putri lebih beresiko tiga kali mengalami depresi ketimbang anak lelaki.

Bagaimana di Indonesia? Sementara itu data Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebut, 140 dari 1000 remaja juga memiliki masalah kesehatan mental. Di tahun 2018, satu penelitian yang dilakukan oleh dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ pada kurang lebih 941 siswa sekolah di daerah Jakarta menunjukkan lebih dari 30 persen mengalami depresi dan 18,6 persen di antaranya memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Pada tahun 2019, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Teddy Hidayat, menyebutkan bila angka kasus bunuh diri di Indonesia mengalami peningkatan. Dalam satu tahun, tercatat ada 10 ribu kasus. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat,  800 ribu orang di dunia meninggal akibat bunuh diri. Menurut Teddy, di Indonesia setiap 40 menit satu orang bunuh diri.

Kenapa ini terjadi? Karena Indonesia, sebagaimana negara sekuler lainnya, memacu masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi berbasis materi, melahirkan kepribadian hedonisme, dan rapuh basis kehidupannya. Masyarakat Indonesia, termasuk para remaja, banyak mengorientasikan hidup pada kesuksesan pendidikan, karir, bisnis, mengejar kepuasan materi (hedonisme) dan mengabaikan agama sebagai landasan kehidupan. Akibatnya saat diterpa beragam persoalan mereka pun tumbang. Banyak orang secara pendidikan bagus, finansial mapan, tapi tak tahan hadapi persoalan hidup.

Sampai sekarang belum ada upaya serius mencegah remaja kita dari ancaman depresi dan bunuh diri. Kurikulum pendidikan hanya arahkan remaja kuat secara akademik, tapi lemah secara karakter. Tidak heran karena memang dunia pendidikan kita berbasis sekulerisme dan kapitalisme meski ada embel-embel agama.

Mata pelajaran agama juga mulai direduksi muatannya karena tudingan radikalisme. Termasuk kegiatan kerohanian Islam di sekolah sudah beberapa tahun belakangan dicurigai dan dituding sebagai tempat pembibitan terorisme. Agama makin tersingkir dari dunia remaja.

Bila ini terus terjadi, tinggal tunggu waktunya Indonesia menyusul Jepang dan Korea Selatan dengan tingkat depresi dan bunuh diri yang tinggi di level pelajar. Belum lagi persoalan lain yang membelit remaja seperti tawuran, narkoba, seks bebas, tak kunjung tuntas.

Tak ada solusi lain kecuali memberlakukan sistem pendidikan Islam yang menguatkan pondasi kehidupan para remaja, memberikan tujuan hidup yang jelas, dan makna kebahagiaan yang sebenarnya. Remaja muslim akan tumbuh dengan pribadi yang kuat prinsip hidupnya, cerdas akalnya dan berakhlak mulia. Bukankah ini yang dirindukan oleh negeri ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.