Beberapa Catatan Serangan Ke Teheran

jet tempur F-18 milik Amerika Serikat. Gambar: pexels-a-soheil-2154370577-34634222

 

Mantan Presiden SBY ingatkan perang di masa depan tidak lagi andalkan angkatan darat, tapi robotik, AI, dan terutama kekuatan udara. Serangan AS dan Israel ke Teheran membuktikannya. Selain itu ada catatan lain seputar serangan ke Teheran

 

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, khususnya Teheran, pada akhir Februari kemarin menjadikan ketegangan di kawasan Teluk – bahkan dunia – meningkat. Korban di pihak Iran berjatuhan. Akhirnya pemerintah Iran memberitakan gugurnya pimpinan spiritual tertinggi Iran Ayatullah Ali Khameini dan mantan Presiden kharismatik Ahmadi Nejad. Selain itu ratusan pelajar sekolah dasar dengan mayoritas anak-anak perempuan turut tewas.

Ada beberapa catatan kecil dari saya terkait hal ini:

Pertama, ada kejadian menarik beberapa hari sebelum serangan ini terjadi, yakni peringatan dari mantan Presiden SBY terkait dua hal; purnawirawan dengan pangkat jenderal kehormatan ini mengingatkan akan peluang terjadinya Perang Dunia III. Ia menyoroti soal negosiasi perundingan antara Amerika-Iran terkait pengembangan senjata nuklir. Pihak Washington terus menekan Teheran agar menghentikan rencana pengembangan senjata nuklir.

SBY melontarkan dua pertanyaan mendasar sebelum sebuah negara memilih jalan perang. Apakah perang memang suatu keharusan (war of necessity) atau sekadar pilihan (war of choice), dan apakah secara rasional perang itu bisa dimenangkan. SBY mengingatkan pengalaman Amerika Serikat di Vietnam, Irak, dan Afghanistan sebagai pelajaran penting tentang mahalnya biaya perang serta sulitnya strategi keluar.

Peringatan kedua dari SBY adalah soal ancaman pertahanan militer Indonesia di masa depan. Hal ini ia sampaikan dalam kuliah umum di Lemhanas (23/2). Ia mempertanyakan kekuatan pertahanan Indonesia dalam mengantisipasi perang di masa depan. Menurut SBY, dunia kini telah memasuki era perang modern yang tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada kekuatan darat. Perang siber (cyber war), kecerdasan buatan (AI), robotik, hingga strategi di luar pola pikir konvensional menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika pertahanan saat ini.

Ia menilai, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan doktrin lama yang menempatkan angkatan darat sebagai kekuatan utama. “Dulu kan seolah-olah untuk Indonesia diutamakan angkatan darat atau army. Sekarang, air power ini sangat penting,” pesan SBY.

Ia kemudian mencontohkan skenario bagaimana kesiapan daerah-daerah di Indonesia, salah satunya Jakarta, ketika dihadapkan dengan serangan udara. “Sekarang begitu ada air strike menghancurkan Jakarta, Pindad di Bandung, PAL di Surabaya, kota-kota yang lain apa yang kita lakukan? Hayo?” tanya SBY.

Berkali-kali dunia menyaksikan Amerika Serikat melancarkan serangan mematikan lewat udara. Serangan ke Lebanon yang menewaskan pimpinan Hizbullah dan sekarang serangan ke Teheran. Semua mengandalkan serangan udara.

Persenjataan yang digunakan militer Amerika menyerang Iran diantaranya rudal Tomahawk, pesawat tempur siluman, dan, untuk pertama kalinya, drone bunuh diri (drone kamikaze) berbiaya rendah yang dimodelkan berdasarkan desain Iran. Komando Pusat AS (Centcom) merilis foto-foto yang menunjukkan rudal Tomahawk dan jet tempur F-18 dan F-35, beserta detail serangan terhadap Iran sebagai bagian dari Operasi Epic Wrath.

Kedua, serangan AS dan Israel ke Iran adalah demi menjamin keamanan Israel. Omong kosong soal perdamaian. AS begitu berkepentingan menjaga sekutunya, Israel, dari berbagai gangguan keamanan. Iran, meski sebenarnya sering bersekutu dengan AS, dianggap sebagai ancaman dalam bentuk negara oleh AS-Israel.

Ketika semua negara Arab sudah bisa menerima eksistensi negara Zionis, hanya Iran yang dianggap ngeyel. Salah satu faktornya adalah Iran masih mengembangkan teknologi nuklir. Padahal Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Iran tidak berniat mengembangkan senjata nuklir, meski tetap mempertahankan hak atas energi dan riset nuklir.

Hal ini dinilai oleh Gedung Putih sebagai ancaman. Trump mengatakan “Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, itu sangat sederhana… tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah jika mereka memiliki senjata nuklir.”

Bagi AS hanya mereka dan sekutu-nya yang ’halal’ memiliki persenjataan nuklir, termasuk Israel. Banyak pihak yakin negara zionis itu memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir berbasis plutonium. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Israel juga memiliki cukup plutonium untuk membuat 100 hingga 200 senjata nuklir.

Ketiga, serangan ini memperlihatkan arogansi AS. Washington percaya diri tak ada yang berani menghentikan hegemoninya. PBB sudah mati suri, para pemimpin Eropa memilih diam sambil berhitung cost & benefit dari perang ini secara ekonomi seperti pengaruhnya terhadap harga minyak dunia, sedangkan para pemimpin dunia Islam sudah berada di ketiak Trump. AS tahu mereka hanya berkoar-koar tanpa melakukan apapun. Bahkan ribut menyalahkan Teheran.

Keempat, telaknya serangan AS-Israel sehingga menewaskan pimpinan spiritual tertinggi dan Ahmadi Nejad selain karena kecanggihan teknologi perang AS, juga karena kerja intelijen dua negara itu di dalam negeri Iran. Seperti pengakuan Washington, serangan ini sudah dirancang berbulan-bulan. Sama seperti syahidnya pimpinan Hamas Ismail Haniyeh di komplek militer Iran. Tempat yang harusnya punya keamanan tingkat tinggi justru jadi sasaran empuk. Ini menunjukkan kelemahan pertahanan Iran dari operasi intelijen asing. Tidak heran karena Iran meski sering dinilai sebagai penggangu AS dan Israel, tapi berkali-kali menjadi sekutu mereka. Sehingga intelijen asing – dari AS dan Israel – mudah melakukan penetrasi ke Iran.

Kelima, agresi militer AS-Israel ini harusnya menjadi tamparan memalukan untuk para pendukung Board of Peace (BOP) kalau institusi ini tidak berguna. AS sebagai penggagas dan pemimpin BOP tidak malu lagi memperlihatkan karakter haus darah dan ugal-ugalan. Peace yang digaungkan adalah manipulatif untuk kepentingan AS dan Israel. Makin tidak rasional mendukung dan bergabung dengan BOP. Kecuali kalau sengaja membuang akal sehat untuk terus membabi buta mendukung BOP. Faktanya BOP sudah menjadi Board Of War atau Board Of Beast.

Keenam, para pemimpin dunia Islam entah sampai kapan mau sadar dan mau menghentikan arogansi AS. Kalau mereka menyangka akan aman dalam lindungan AS, maka lihatlah Teheran. Negeri ini punya hubungan on-off dengan AS sesuai kepentingan nasional mereka. Namun dihajar juga. Lihat juga Shah Reza Pahlevi, Saddam Husayn, Qadafi, Soekarno. Mereka semua pernah disokong AS dan Inggris tapi akhirnya digulingkan bahkan ada yang nasibnya mengenaskan.

Dalam politik tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada kepentingan abadi. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mempertahankan sekutunya di manapun selama masih memberi keuntungan. Namun ketika sudah dinilai menjadi ancaman, maka tanpa ampun akan dijatuhkan.

Para pemimpin dunia Islam saat ini tidak punya marwah. Mereka hanya bidak catur yang dimainkan negara-negara besar, terutama AS. Bahkan mereka bertanggung jawab atas genosida di Gaza. Tak ada tindakan untuk menghentikan kekejaman zionis. Malah merangkul mesra AS dan entitas Yahudi.

Umat muslim baru akan punya marwah jika kembali pada Islam. Menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah) dan landasan berpikir (qaidah fikriyah). Diimplementasikan dalam penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah. Pada saat itulah marwah dunia Islam akan kembali. Bila tidak, selamanya terhina. Dijadikan boneka dan bulan-bulanan negara-negara imperialis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.