Kewajiban Dan Hikmah Puasa Dalam Tafsir Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Rusythah

shiyamRamadhan tahun ini kan tiba. Segenap muslim yang cinta kepada Allah pasti akan menyambutnya dengan gembira. Shaum Ramadhan adalah salah satu kewajiban agung yang diperintahkan Allah SWT. kepada orang-orang beriman. Para ulama tafsir telah banyak menjelaskan perintah wajibnya berpuasa, salah satunya ditulis oleh Syaikh ‘Atha bin Kholil Abu Rusythoh dalam tafsirnya, Taysir fiy Ushul at-Tafsir, yang membahas surat al-Baqarah. Berikut terjemahan bebasnya dari saya, semoga bermanfaat bagi para rekan pembaca semua.

Pada halaman 216 Syaikh ‘Atha mengupas perintah dan tujuan shaum Ramadhan. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٢:١٨٣

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

  1. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan puasa bagi orang-orang yang beriman – umat Islam – sebagaimana atas umat-umat terdahulu, yang serupa di sini ialah adalah dalam kewajiban berpuasa, bukan dalam jumlah hari-harinya dan penentuan bulannya, karena tidak ada nash yang menjelaskan hal ini melainkan sekedar kewajiban berpuasa sebagaimana dalam ayat “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.”
  2. Adapun mengapa shiyam (fardlu) dalam ayat-ayat ini karena tercantum:
    1. كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ ini adalah khabar dalam bentuk thalab/tuntutan alias (صوموا –berpuasalah kalian!).
    2. Adanya konsekuensi qadha puasa kepada yang tidak berpuasa untuk orang yang sakit, musafir adalah qarinah (indikasi) atas thalab/tuntutan, seandainya bukan thalab jazim niscaya tidak terdapat konsekuensi qodho (puasa) baginya: Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.(QS. Al-Baqarah: 184)

Dengan begitu tuntutan berpuasa adalah thalab jazim maka hukumnya menjadi fardlu.

 

  1. Demikian pula firman Allah: فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu(QS. Al-Baqarah: 185)

Adalah tuntutan/thalab mengerjakan puasa bagi siapa saja yang menyaksikan bulan itu (Ramadhan) alias hadir dan mukim, dan firman Allah setelah ayat tadi: “(dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.)” adalah qarinah atas jazm karena berkonsekuensi mengqadha puasa bagi si sakit dan musafir jika tidak berpuasa. Di sini menunjukkan bahwasanya ini thalab/tuntutan jazm, alias berpuasa adalah fardlu.

  1. Ini pembahasan dalam al-Kitab, adapun dalam sunnah maka hadits-hadits yang membahas hal itu banyak, di antaranya hadits Umar bin Khathhtab yang diriwayatkan berupa jawaban Rasulullah saw. kepada Jibril alayh as-salam pada saat bertanya kepada Beliau tentang Islam, maka Rasulullah saw. menjawab:

شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat yang diwajibkan, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa Ramadhan.(HR. Bukhari, Muslim).

Topik pertanyaan adalah Islam dan hal ini adalah kewajiban bagi umat manusia secara keseluruhan. Firman Allah:

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.(QS. Ali Imran: 19)

Juga firmanNya:

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85)

Penyebutan shaum pada jawaban Rasulullah saw. tentang Islam menunjukkan bahwa shaum adalah kewajiban, bahkan kewajiban yang agung.

Demikian pula halnya riwayat:

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun atas lima perkara; bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa Ramadhan (HR. Bukhari).

Dan apa saja yang berdiri di atasnya sebuah bangunan adalah sifat yang dipahami yang berfaedah jazm dalam sebuah tuntutan/tholab, maka kelima perkara yang tercantum dalam nash tersebut bahwa Islam dibangun di atasnya, atau yang merupakan rukun Islam dan seterusnya, maka shaum adalah fardlu.

  1. Allah SWT. menjadikan hikmah bagi puasa adalah takwa. Allah berfirman: “agar kamu bertakwa”, adapun takwa adalah rasa takut kepada Allah (khosyyatullah) dan taat padaNya, serta bersiap untuk menjumpaiNya sebagaimana didefinisikan oleh sebagian sahabat ra.;

الخوف من الجليل والعمل بالتنزيل والاستعداد ليوم الرحيل

“Rasa takut (al-khauf) kepada al-Jalil (Zat yang Agung) dan beramal dengan at-Tanzil (al-Quran dan syariat yang diturunkan) serta bersiap untuk kepergian (kematian).”

Dengan demikian wajib bagi orang yang berpuasa untuk menjaga agar tercapai hikmah dari puasanya karena Allah SWT. telah menjadikan takwa sebagai hikmah puasa ketika Ia telah mewajibkannya.

hizb-palestine1

Hendaknya seseorang memperhatikan puasanya; apakah bertambah padanya rasa takut kepada Allah Ta’ala, serta bertambah taat kepada Allah, serta bersiap untuk berjumpa dengannya dengan memperbanyak amal kebaikan? Maka jadikanlah puasanya sebagai puasa yang dengan benar akan terwujud dengan puasanya itu balasan yang agung, bersih, serta kabar gembira dari Rasulullah saw. akan kesucian dan kemurnian;

Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, karena puasa sesungguhnya untukKu dan Aku yang akan membalasnya. (HR. Bukhari)

Bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan; bahagia saat berbuka dan lainnya saat berjumpa dengan Rabbnya. (HR. Bukhari)

Adapun jika seandainya belum terwujud hikmah puasa maka hendaknya ia memecahkan perkara ini sebelum datang hari dimana tidak ada manfaat di dalamnya harta juga anak keturunan.

 

Semoga cuplikan tafsir di atas bisa memberikan motivasi bagi kita untuk menjalankan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan, kesungguhan dan hanya mengharapkan ridlo Allah SWT. Serta semakin meningkatkan ketakwaan kita untuk menegakkan syariat Allah dalam naungan Khilafah, agar kita dapat selamat di Hari Penghisaban kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.