
gambar: pexels.com
Salah satu penyebab besar retaknya hubungan kita dengan orang lain adalah kebiasaan mengumbar kemarahan pada orang lain. Di kantor, di organisasi, dalam keluarga, termasuk di lembaga keislaman sekalipun. Orang yang marah biasanya bahasa tubuh dan lisannya lepas kendali. Sementara pihak yang dimarahi akan terluka bahkan mendendam.
Dalam pernikahan, kebiasaan marah-marah adalah tanda relasi suami istri sudah beracun, toksik. Kebersamaan memudar, diganti dengan amarah dan sakit hati. Hidup bersama dalam keadaan seperti itu tidaklah mudah; penuh tekanan dan depresi.
Untuk anak-anak, karakter orang tua yang pemarah akan meracun pribadi mereka. Emosi orang tua akan menjadi tabungan memori anak. Penuh kemarahan, defisit kasih sayang. Bisa dibayangkan akan seperti apa karakter yang terbentuk? Antisosial, labil, dan pendendam.
Pantas bila Rasulullah Saw mengingatkan bahwa marah itu berasal dari syetan. “Marah itu dari syetan,” kata Nabi dalam hadits riwayat Abu Daud.
Allah Swt memuji orang-orang bertakwa dimana salah satu karakter mereka adalah tidak mudah marah tapi mudah memaafkan.
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (TQS. Ali Imran [3]: 134)
Nabi Saw juga menyebutkan reward yang bakal didapat mereka yang bisa menahan amarah adalah jannah.
لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة
Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk surga. (HR Ibnu Hibban)
Di bulan Ramadhan ini, salah satu amalan yang harus dilakukan kaum muslimin adalah pengendalian amarah. Shaum bukanlah imsak/menahan diri dari makan, minum atau hubungan badan. Puasa juga harus dibarengi dengan menahan amarah dan kata-kata kasar. Nabi Saw bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Muttafaq alayh).
Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk memulai pengendalian diri terhadap amarah. Secara personal bisa menjadi lebih sabar menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, dan sebagai pasangan bisa menjadi lebih tenang dan berpikir jernih saat menghadapi perbedaan pandangan ataupun kekurangan dari pasangan.
Ada yang bisa dilakukan bersama keluarga untuk menjadi pribadi dan orang tua yang lebih trampil mengendalikan amarah.
Pertama, niatkan untuk mendapatkan ridho Allah dan shaum yang sempurna. Selalu ingat bahwa amarah negatif dapat merusak pahala puasa. Maka jangan sia-siakan ibadah puasa Ramadhan dengan menjadi pasangan atau orang tua dengan sumbu pendek.
Kedua, bicaralah dengan pasangan untuk memulai menjadi pribadi yang lebih baik. Menjaga kebersamaan, bijak dalam perbedaan pendapat dan melihat kekurangan masing-masing. Selalu saling ingatkan soal pengendalian amarah ini, terutama di bulan Ramadhan.
Kadangkala, ada pihak yang merasa pasangan tidak merespon amal baik ini, sehingga merasa berjuang sendirian. Bersabarlah. Berdoa pada Allah agar diberikan kemampuan bersabar menghadapi situasi seperti ini.
Ketiga, bicaralah pada anak-anak untuk bersama-sama bisa mengendalikan kemarahan. Berjanjilah pada mereka kalau Anda berusaha menjadi orang tua yang bisa bersabar. Ajak mereka untuk bekerja sama menjadi orang-orang yang bersabar. Katakan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bersabar.
Keempat, tidak ada salahnya mencari support system seperti saudara kandung, atau kawan dekat, untuk menjadi tempat meminta saran dan bantuan saat Anda merasa tertekan. Mudah-mudahan saran dan nasihat dari mereka bisa meredakan gejolak emosi.
Kelima, banyak berdoa pada Allah agar dijadikan orang yang sabar dan dijauhkan dari buruknya kemarahan. Nabi Saw bersabda:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ ، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِيْ ، وَأَجِرْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ
Ya Allah, ampunilah dosaku, redamlah murka hatiku, dan lindungilah diriku dari pengaruh setan. (HR. Ibnu Asakir)

Leave a Reply