Nasib Burung Kormoran

cormorant fsihing2Nelayan tradisional Jepang dan Cina punya teknik memancing ikan yang unik. Mereka tidak menggunakan kail atau jala, tapi menggunakan burung kormoran. Para nelayan menggunakan burung kormoran karena kelihaiannya menangkap ikan. Untuk mengendalikan burung-burung kormoran para nelayang mengikatkan tali kekang di leher mereka. Lalu agar burung pemangsa ikan itu tidak menelan ikan-ikan yang besar, maka sebuah cincin dipasang di leher mereka sehingga hanya ikan kecil yang dapat mereka telan, sedangkan ikan yang besar hanya berada di paruh mereka. Tak bisa ditelan karena tertahan cincin di leher.

Sepintas hubungan antara nelayan dan burung kormoran adalah simbiosis mutualisma. Saling menguntungkan. Nelayan mendapatkan ikan tangkapan, sedangkan burung kormoran juga tetap mendapatkan makanan. Padahal kenyataannya, burung kormoran hanya dimanfaatkan. Para nelayanlah yang mendapatkan keuntungan terbesar, sedangkan burung kormoran hanya mendapatkan jatah ikan-ikan kecil.

Sadarkah kita bahwa nasib umat Islam hari inipun tak ada bedanya dengan burung kormoran? Umat hari ini dimanfaatkan oleh pihak asing dan aseng bukan untuk kemaslahatan umat, tapi pihak diluar umat? Berapa banyak kerjasama ekonomi, politik, termasuk kucuran uang berupa hutang ataupun grant, yang sepertinya saling menguntungkan tapi pihak asing dan aseng yang menangguk keuntungan terbesar.

Pada bulan Mei 2008 situs Antara menurunkan tulisan “IMF Di Balik Kejatuhan Soeharto” (http://www.antaranews.com/berita/102370/imf-di-balik-kejatuhan-soeharto) yang di antaranya berisi pengakuan Michel Camdessus Direktur IMF kepada The New York Times, dalam wawancaranya menjelang pensiunnya dari IMF. Camdessus yang mantan tentara Prancis ini mengakui IMF berada di balik krisis ekonomi yang melanda Indonesia. “Kami menciptakan kondisi krisis yang memaksa Presiden Soeharto turun.” Saat itu IMF mengancam Soeharto agar mau mengikuti syarat-syarat yang diajukan IMF agar dana pinjaman sebesar 43 miliar US$ bisa cair. Di antara syarat-syarat itu adalah liberalisasi perekonomian, pencabutan subsidi di sejumlah sektor, penjualan aset-aset negara, dan pasar bebas. Setelah Soeharto lengser, Indonesia pun terjerembab dalam perangkap neoliberalisme dan neoimperialisme. Pihak asing-lah yang paling banyak menangguk untung dari disepakatinya Letter of Intent antara RI dan IMF. Persis seperti burung kormoran, hanya mendapatkan ikan kecil, sedangkan ikan besarnya dinikmati para nelayan.

free-trade-cartoon1

Gurita asing dengan neoliberalisme dan neoimperialisme-nya terus terjadi hingga era presiden Jokowi. Hanya berganti pemain belaka. Kini kaum kapitalis asal Tiongkok yang berpesta pora di tengah sumberdaya alam negeri ini setelah rezim Jokowi menjalin kerjasama dengan sejumlah taipan asal Tiongkok. Kerjasama ini meliputi pembangunan 24 pelabuhan, 15 pelabuhan udara (airport), pembangunan jalan sepanjang 1.000 kilometer. Serta pembangunan jalan kereta sepanjang 8.700 km, dan pembangunan pembangkit listrik (powerplan) berkapasitas 35 ribu megawatt. Selain itu, rencana pertukaran 10 juta warga Indonesia-Cina menjadi tanda semakin kuatnya dominasi tirai bambu terhadap pemerintahan Jokowi-JK.
Momen demi momen terjadi menunjukkan umat Muslim hanya dijadikan burung kormoran bagi negara dan pengusaha asing.

Kebijakan ala burung kormoran juga terjadi dalam sikap mendeskreditkan agama Islam. Berulangkali petinggi negara ini memberikan sikap yang merugikan dien mereka sendiri. Menteri Agama menjelang bulan Ramadhan malah meminta umat Muslim menghormati mereka yang tidak berpuasa. Bandingkan dengan sikap pejabat daerah di Propinsi Bali yang meminta kaum muslimin menghormati budaya mayoritas (agama Hindu) agar tidak mengenakan busana muslimah.

us afghan

Sikap dan pernyataan islamphobia dan syariatphobia dari terus menerus diproduksi para pejabat yang notabene beragama Islam. Terakhir Wapres JK menyatakan ide khilafah adalah sesat dan berbahaya. Selain JK juga menyatakan suara pengajian dari tape di mesjid adalah ‘polusi suara’.

Belum lagi sikap aparat keamanan semisal Densus dan BNPT yang tidak pernah berhenti melakukan war on terror, yang menyasar umat Muslim. Sementara mereka seperti tidak peduli dengan aksi teror yang dilakukan oleh OPM di Papua.

Padahal sikap antipati terhadap ajaran Islam hanya menguntungkan Barat, dan merugikan umat Muslim sendiri. Kita bisa melihat kondisi sosial yang semakin bobrok seperti KDRT, kekerasan seksual, perzinahan, dll. yang terus meningkat. Peredaran dan penggunaan narkoba yang eskalasinya makin mengkhawatirkan, bahkan juga menyasar dan dilakukan oleh aparat keamanan. Jadi, mengapa umat dan para penguasanya justru rela terus menerus menjadi burung kormoran?

Ini terjadi karena segelintir orang dan elit umat yang rela menjadi burung kormoran. Mau mendapatkan prestise dan iming-iming materi, lalu menggadaikan akidah dan spirit keumatan. Mengorbankan agama dan umat demi kepentingan pribadi. Padahal keuntungan yang mereka dapatkan jauh lebih kecil ketimbang kerugiannya. Mahabenar Allah dengan segala firmanNya:

Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.(QS. Al-Baqarah: 16)

Sudah saatnya umat berhenti mengambil posisi sebagai burung kormoran. Kita adalah umat yang mulia. Memiliki kehendak dan pilihan sendiri. Pilihan mulia yang harus diambil adalah kembali kepada Islam. Menjadikan syariat Islam sebagai pedoman hidup berada dalam payung Khilafah Islamiyyah.
Manakala seorang insan memilih Islam, sebenarnya ia telah membebaskan dirinya dari perbudakan sesama mahluk. Begitupula seandainya umat memilih Islam secara kaffah, maka kita akan terbebas dari status burung kormoran.

Kita adalah umat terbaik, memiliki aturan terbaik, dan layak mendapatkan kemaslahatan terbaik; dunia-akhirat. Berhentilah menjadi burung kormoran.

Incoming search terms:

  • burung kormoran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *