Cahaya Islam Hilangkan Kegelapan

 

 

 

Imam An-Nawawi al-Banteni menyebutkan dalam tafsirnya bahwa jalan kegelapan itu banyak, tetapi cahaya/an-nur itu hanya satu.

 

Tagar #IndonesiaGelap berhari-hari mengisi media sosial. Bersusulan dengan tagar #KaburAjaDulu. Media sosial riuh rendah dengan berbagai kritik dan omelan warga akan kondisi dalam negeri. Sasaran kemarahan itu siapa lagi kalau bukan pemerintah. Bagi sebagian rakyat harusnya pemerintah ada untuk menciptakan kesejahteraan untuk mereka. Bukan mendatangkan kegelapan seperti sekarang yang  membuat sebagian warga memilih hengkang ke luar negeri. Terutama mencari kehidupan yang lebih layak.

Dalam aksi Indonesia Gelap yang digelar sejumlah mahasiswa ada 13 tuntutan yang mereka minta; seperti penciptaan pendidikan gratis dan berkualitas, cabut proyek strategis nasional bermasalah, perbaikan sistem kesehatan, dsb.

Benarkah Indonesia gelap? Pihak istana tentu saja membantah. Dengan pede, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Panjaitan dengan lantang berkata, ”Indonesia tidak gelap, kau saja yang gelap!” Suara sama datang dari para pejabat istana lainnya. Indonesia baik-baik saja. Ketua PBNU berkilah, ”Indonesia gelap darimana? Ini pemerintahan baru!”.

Namun orang tua mengatakan tak ada asap bila tak ada api. Banyak orang hari ini makin merasakan hidup semakin berat dan berat. Saat pandemi sudah ada 3 juta PHK. Hari ini ada sekitar lima ratus ribuan orang kehilangan pekerjaan. Selain harus bersaing dengan tenaga kerja baru memperebutkan lapangan kerja yang makin menyempit, mereka juga harus menerima kenyataan pembatasan pengalaman dan usia.

Keamanan juga jadi masalah serius di tanah air. Terutama pemerasan oleh sejumlah ormas.  Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia menyatakan mengalami kerugian hingga ratusan triliun rupiah akibat investasi yang batal dan keluar dari kawasan industri dampak dari premanisme organisasi kemasyarakatan (ormas).

 

Kegelapan Itu Nyata

Ketimbang berdebat tanpa jelas dasarnya, baiknya merujuk pada Al-Qur’an. Satu-satunya rujukan yang tak diragukan lagi kebenarannnya. Kecuali oleh orang yang belum paham atau tidak waras. Dalam Al-Qur’an terminologi ’kegelapan’ dengan dzulumat. Bentuk jamak. Karena hakikatnya ketika Al-Qur’an diturunkan keadaan umat manusia berada dalam kondisi kegelapan dimana-mana.

Allah Swt lalu menjadikan lawan dari dzulumat itu adalah cahaya/nur. Uniknya Al-Qur’an menggunakan lafaz nur dalam bentuk tunggal; nur bukan anwar. Berarti hanya cukup satu cahaya yang akan menjadikan kehidupan manusia terang benderang. Dalam Kitabullah diulang tujuh kali frase yang menunjukkan kondisi kegelapan dan cahaya. Di antaranya firman Allah Swt:

الٓر ۚ كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (TQS Ibrahim [14]: 1)

Dalam kitab tafsir Marah Lubayd Li Kasyfi Al-Ma’na Al-Qur’an karya Imam an-Nawawi al-Bantani lafaz ‘dzulumat’ ditafsirkan kegelapan kesesatan, kekufuran dan kebodohan. Menariknya Imam Nawawi menjelaskan bahwa jalan-jalan kekufuran dan bid’ah itu banyak, sedangkan jalan haq (thariq al-haq) adalah satu (1/565).

Sementara dalam tafsir As-Sa’di diberi keterangan adalah kegelapan kebodohan (al-jahl), kekufuran, ahlak yang buruk, dan berbagai kemaksiatan. Lalu kemudian (dikeluarkan) menuju cahaya iman dan ahlak terpuji (Taysir Al-Manan fi Tafsir Al-Qur’an, 4/839).

Kondisi kegelapan di zaman Nabi beragam; syirik, pengkultusan pada bangsawan dan para raja, jurang kemiskinan, penguasaan aset oleh kaum elit, ketimpangan hukum, eksploitasi ekonomi dengan praktek riba, kerusakan sosial, dll. Rasulullah Saw dan para sahabat menghadapi semua itu, bukan hanya praktek penyembahan berhala. Kemudian kondisi tersebut dikalahkan dengan dakwah Islam sehingga tegaklah Islam. Manusia pun hidup dalam aturan Islam dan tercipta ketenangan. Inilah cahaya yang menggantikan kegelapan.

Belajar dari sejarah dan dari Al-Qur’an, sebenarnya problematika umat manusia sama sepanjang zaman. Maka solusi yang harus diambil juga sama. Untuk itu Al-Qur’an menerangkan pada kita bahwa berbagai persoalan yang menjadikan kehidupan ini gelap, hanya bisa dilenyapkan dengan Islam. Bukan dengan yang lain. Kembali Allah Swt berfirman:

وَقُلْ جَآءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (TQS. Isra [17]: 81)

Kebatilan akan lenyap saat kebenaran/al-haq itu datang. Al-haq itu adalah Islam yang dibawa Rasulullah Saw. Cuma Islam yang membawa peradaban yang paripurna dan melindungi umat manusia. Sudah waktunya kaum muslimin menyadari itu. Lalu menyerukan perubahan dengan Islam dan ke arah Islam, bukan yang lain. Bukan hanya tuntutan parsial yang tidak menyelesaikan akar masalah. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.