Tega Pada Anak Itu Penting

father son“Pak, anak perempuan puasanya ‘bocor’ karena haid. Tapi saya nggak tega menyuruh dia qodho puasanya, soalnya dia masih SD, lagian di sekolahnya kawan-kawannya nggak puasa. Boleh tidak saya bayar dengan fidyah?”

Itu salah satu pertanyaan jamaah kepada saya di satu sesi sharing keislaman awal Ramadhan tahun ini. Sang bunda merasa kasihan, nggak tega, bila menyuruh anak putrinya yang baru saja alami pubertas melakukan qodho puasa. Pertimbangannya ia masih duduk di bangku SD, dan kalau puasa saat bersekolah ia akan dikelilingi banyak kawan-kawannya yang tidak berpuasa. Kan, berat, kasihan.

Saya tidak akan soroti soal fidyahnya ya, tapi saya akan ajak ayahbunda bicara soal salah satu tips mendidik anak. Saya percaya, ayahbunda pasti menginginkan putra-putrinya tumbuh soleh dan solehah. Taat pada Allah dan orang tua, serta sabar menjalankan perintah agama.

Tapi seringkali kita lupa bahwa jalan menuju ke sana membutuhkan banyak kesiapan mental. Bukan saja bagi buah hati kita, tapi juga bagi kedua orang tuanya. Salah satunya adalah mempersiapkan mental agar menjadi ‘raja’ dan ‘ratu’ tega di hadapan anak-anak kita.

Ada pandangan yang harus diluruskan tentang pemberian kasih sayang kepada keluarga. Sering tergambar kasih sayang itu berarti tidak menghukum, tidak menyuruh melakukan pekerjaan yang berat, atau menyusahkan mereka.

Karena gambaran umum seperti itu, banyak orang tua yang tidak tega mendisiplinkan anak dalam ajaran agama. Misalnya, tidak sedikit orang tua yang sengaja membiarkan anaknya tidur meski waktu sholat subuh sudah tiba. Alasannya karena kasihan melihat anak sedang tidur pulas. Ada juga yang tidak tega menyuruh anaknya puasa sehari penuh saat Ramadhan, atau untuk mengqodho puasa. Begitupula tidak tegas menyuruh anak memakai jilbab dan kerudung meski sang anak sudah masuk usia gadis/baligh.

Benar Islam adalah agama rahmat. Penuh kasih sayang. Allah pun Zat Pengasih lagi Penyayang. Namun jangan lupa Allah pun menghendaki semua hambaNya taat padaNya dengan menjalankan perintah dan meninggalkan laranganNya. Saat kita mematuhi syariatNya, disanalah Allah akan melimpahkan rahmatNya.

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (TQS. 33: 71)

Melalaikan perintah dan melanggar larangan Allah adalah tanda kita menolak rahmat Allah. Bukankah kedatangan risalah Islam dan Rasulullah saw. adalah sebagai rahmatan lil alamin? Termasuk saat kita melatih anak-anak kita taat pada syariat, sebenarnya kita sedang mengajarkan mereka untuk meraih kasih sayang Allah Ta’ala.

Memang, banyak orang tua, terutama bunda yang tidak tega menyuruh anak-anak untuk mengerjakan berbagai perintah agama semisal; shalat tepat waktu, berjamaah ke mesjid, mengenakan jilbab, menjalankan puasa Ramadhan, dsb.

Atau juga tidak tega menegur atau menghukum mereka saat melakukan kesalahan semisal melalaikan shalat, membatalkan puasa, berpacaran, tidak menutup aurat, dll.

Ayahbunda harus menyadari bahwa perasaan tidak tega disana bukan kasih sayang, tapi yang benar adalah memanjakan anak dalam kesalahan. Ini bukan lagi persoalan kecil, tapi amat serius. Karena saat ayahbunda membiarkan hal itu berulang-ulang, maka bisa jadi bagian dari karakter anak yang sulit diubah saat ia dewasa.

Ibarat pohon, saat masih kecil mudah untuk membentuk batang dan rantingnya. Kita bisa memasang tali, kayu penyangga dan kawat untuk membentuk batang pohon. Tapi jika pohon itu sudah besar, maka sudah tak mampu lagi kita membentuk pohon tersebut karena sudah permanen.

Untuk membuat anak kita memiliki karakter yang positif (baca: Islami) terkadang dibutuhkan ketegasan dan sedikit mengorbankan perasaan. Namun bila konsisten dengan pola pendidikan seperti ini, maka tak akan sulit bagi anak untuk menjalankan berbagai hukum Allah yang lain.

father son muslim

Kami di rumah juga mengalami kondisi yang sama dalam mendidik anak. Lazimnya anak-anak senangnya tidur saat azan subuh berkumandang, tapi kami paksa mereka untuk bangun. Selain itu kami paksa juga mereka untuk selalu mengerjakan shalat berjamaah di mesjid.

Sedangkan putri kami yang sekarang berusia 9 tahun, terus menerus kami ingatkan untuk mengenakan kerudung dan jilbab saat bermain keluar rumah, sekalipun hanya di teras. Meski terkadang ia lupa, tapi kami berusaha mengingatkan amal kebaikan ini.

Bila kami mengikuti perasaan, memang sih tidak tega membangunkan anak di pagi buta, menyuruh memakai jilbab dan kerudung di luar rumah – apalagi saat musim panas –, tapi kami berpegang pada prinsip; inilah masa membentuk karakter anak sebelum mereka tumbuh dewasa.

Rasulullah saw. pun tidak selamanya bermain dan menyenangkan anak. Adakalanya Beliau menghukum anak yang berbuat salah. Adz Dzahabi dalam Tarikhul Islam ketika menyebutkan biografi Al Hakam bin Al Walid Al Wuhadzi Al Himshi salah seorang Shighor At Tabi’in, menyebutkan riwayat kisah ini dengan teks,

عن أبي بُسْرٍ قَالَ: بَعَثَتْنِي أُمِّي بِقِطْفِ عِنَبٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكَلْتُهُ، فَكَانَ بعد إذا رآني قال: غدر، غدر

Dari Abu Busr berkata: Aku diutus ibuku untuk memberikan setangkai anggur kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi aku memakannya. Maka, jika Nabi melihatku beliau berkata: Pelanggar amanah, pelanggar amanah.

Jadi, belajar tega pada anak itu penting! Bahkan harus! Jangan biarkan perasaan ayahbunda mengalahkan perintah menjalankan agama. Ingat, rasa tidak tega pada hal itu bagian dari perangkap syetan agar ayahbunda membiarkan anak berada terus dalam kesalahan.

Ingatlah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah membawa putranya, Ismail as. untuk disembelih, iblis mendatangi Ibrahim juga Hajar – ibunda Ismail – untuk merayu keduanya agar tidak usah menaati perintah Allah. Namun keduanya bergeming. Tak mempedulikan rayuan iblis bahkan melemparinya dengan batu-batu.

Nah, ayahbunda, di bulan agung Ramadhan ini, jadikanlah kesempatan untuk menanamkan nilai kedisplinan pada anak, sekaligus kita juga belajar menjadi orang tua yang tega pada anak. Yakni tega menyuruh mereka taat kepada Allah. Insya Allah semua akan berbuah pahala dan kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.