Antarlah Anak Kita Ke Sekolah

antar anak sekolah2Hari ini putra kami yang nomor 4, Haris Husayn, pertama kalinya menginjakkan kakinya ke sekolah. Kelas A di sebuah TK dekat kediaman kami. Mengenakan baju koko lebaran kemarin, Ucen – begitu panggilan kami sekeluarga – berangkat ke sekolah sambil menggendong tas warna biru dengan gambar robot. Tak lupa cemilan, susu kotak dan makan siang berupa nasi dan nugget mengisi tas barunya. Wah, dari rumah ia tampak begitu semangat.

Meski begitu, kami tahu ia sebenarnya tegang. Sejak semalam kami sudah membaca tanda-tanda kalau Husayn mengalami ‘demam panggung’. “Aku gak mau sekolah, ah,” katanya merajuk. Istri saya juga mulai khawatir; jangan-jangan ia memang belum siap sekolah. Meski usianya jelang lima tahun, usia yang cukup untuk masuk TK, tapi siapa yang bisa menebak mood seorang bocah kecil?

Ya, hari pertama bersekolah itu memang menegangkan untuk seorang anak kecil. Saya ingat saat pertama kali masuk SD, grogi setengah mati. Ketika bel masuk berbunyi bukannya masuk kelas saya malah lari pontang-panting mencari sepupu saya yang duduk di kelas 4. Ketika tidak bertemu saya terpaksa masuk kelas dengan badan terasa panas dingin. Untunglah demam baru masuk sekolah itu cuma berlangsung di awal saja. Selanjutnya saya sudah bisa enjoy dan berkenalan dengan banyak kawan.

Karenanya saya mengapresiasi ayahbunda yang berpayah-payah mengantarkan buah hatinya bersekolah di hari pertama, dan untuk pertama kali. Terutama mereka yang baru masuk SD atau TK seperti anak kami.
Butuh seribu keberanian bagi seorang anak untuk bisa menginjakkan kaki ke sekolah. Lingkungan baru yang auranya berbeda dengan rumah atau musola dekat rumah. Bila tak ada ayahbunda yang mengantar untuk menguatkan hati mereka, perjalanan menuju sekolah itu benar-benar tak mudah bagi si kecil. Maka siapa lagi yang bisa menenangkan hati mereka kalau bukan ayah dan bundanya?

anak-tidak-mahu-ke-sekolah

Ayahbunda, mengantarkan anak bersekolah sekilas pekerjaan yang remeh, bahkan mungkin tak perlu. Banyak ayahbunda yang ogah-ogahan mengantarkan anak berangkat ke sekolah. Ada juga yang memarahi anaknya dan menyebut mereka manja, pengecut, tidak mandiri, dsb.

Ada satu kasus yang pernah saya dapatkan dari seorang guru ada seorang siswanya yang sejak awal bersekolah hingga lulus tidak pernah diantar atau dijemput orang tuanya. Sekali saja sang ayah mendatangi sekolah itupun hanya untuk komplain karena namanya salah tulis di ijazah sang anak. Benar-benar orang tua yang berlepas tangan!

Ayahbunda bisa berkilah; anak saya pemberani, kok! Saya percaya setiap anak punya karakter yang berbeda. Tapi soal mengantar atau menjemput anak itu bukan soal keberanian anak, tapi soal kedekatan emosional.

Lho, kok sejauh itu?
Iya, silakan tanya anak-anak kita yang prabaligh yang tiap hari pulang pergi ke sekolah sendiri; senangkah mereka bila sesekali diantar atau dijemput ayahbundanya? Rata-rata akan menjawab senang. Apalagi bila usai pulang sekolah mereka diajak mampir sekedar untuk membeli mie ayam atau es kelapa, wuih senangnya bukan main.

Pada anak prabaligh kebutuhan akan naluri kasih sayang (gharizah nau’) pada orang tua masih sangat besar. Apalagi bila mereka melihat kawan-kawan mereka diantarjemput oleh orang tua, muncul perasaan iri pada diri mereka. Pada sisi inilah mengantar atau menjemput anak akan memperkuat emotional bonding (ikatan emosional) antara ayahbunda dan buah hati.

Lagipula, proses antar-jemput anak ke sekolah tidaklah lama. Akan ada satu waktu dimana mereka menginjak usia jelang baligh, mereka merasa malu diantar lagi oleh ayahbundanya. Jadi, nikmatilah masa dan momen mengantar dan menjemput buah hati kita ke sekolah. Itu tak kan lama.

Maka saya dan istri merasa enjoy mengantar dan menjemput anak-anak kami pulang sekolah. Termasuk si sulung yang duduk di kelas 3 SMP pun terkadang minta diantar ke sekolahnya. Bagi kami, ini proses menguatkan emotional bonding.

Seperti kemarin, hari pertama Husayn bersekolah di TK. Setelah cukup lama merasa takut bergabung dengan kawan-kawannya di kelas, akhirnya ia mulai ikut masuk ke dalam kelas. Duduk bersama kawan-kawannya, membuka bekal dan bermain di taman,
Ketika pulang sekolah, bunda memberikan pujian padanya, “Adik hebat, ih. Udah berani sekolah, lho!”
Tak diduga Husayn membalas, “Mamah juga hebat udah bisa bujuk aku sekolah!” Istri saya pun tertawa kecil mendengar jawaban ajaib dari bocah yang belum genap lima tahun ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *