Gagap Bersikap

Ada sebuah penyakit yang sejak lama dan sampai hari ini masih diidap umat dan nyaris tak kunjung sembuh; gagap bersikap. Penyakit ini muncul terutama saat umat Muslim menghadapi situasi kritis dan berkonflik dengan umat lain. Penyakit ini biasanya muncul. Gejalanya adalah tidak percaya diri membela agama dan sesama muslim; minder pada umat lain dan tak percaya pada ajaran agamanya sendiri.
Dalam kasus penyerangan terhadap kaum muslimin di Tolikara, beragam opini untuk memburamkan fakta terus digulirkan oleh media massa, LSM komprador pengkhianat, pejabat, aparat hingga para ustadz. Mulai dari menyalahkan speaker, menyebut yang terbakar bukan mesjid tapi mushola (bahkan sekarang opini yang diberitakan adalah pembakaran kios dan bangunan bukan mushola), lalu mengatakan insiden adalah pertikaian bukan penyerangan, sampai kemudian menyalahkan pihak kepolisian karena melakukan tindakan kekerasan kepada warga.
Komentar para ustadz yang sudah menjadi selebritis — maksudnya jamaah dan follower di media sosialnya sudah banyak – juga tak proporsional. Seruan serupa selalu diulang; sabar, tahan diri dan tak terprovokasi. Mereka hampir tak pernah berani menunjuk hidung para pelaku. Kalau mau fair mestinya mereka berkata atau men-tweet: “kaum muslimin harus menahan diri, tapi kalian yang mengganggu saudara kami semestinya TAHU DIRI!”

Alhamdulillah, sudah ada sejumlah ormas Islam dan tokoh yang berani dan tegas mengutuk penyerangan tersebut. Tapi itu belum sebanding dengan sikap yang sebaliknya. Sikap yang menunjukkan kegagapan mayoritas pejabat, aparat dan para ustadz.
Kita seperti menjadi orang gagap tatkala harus bersikap tegas membela kemuliaan agama. Lidah seperti tertelikung, dan nyali menciut. Para penggede umat ini mendadak jadi minder ketika dibutuhkan untuk tampil berani. Persis seperti bocah kecil yang nervous saat diminta tampil ke atas podium.

Ada kesan bersikap tegas membela agama itu tercela. Berani menunjukkan kemuliaan Islam itu memalukan. Menunjuk kesalahan dan menghardik pengganggu saudara seagamamu itu keliru. Jadilah pembawa damai, penyejuk suasana, bukan pembakar hati yang sudah berkobar.
Mereka juga mulai mencari dalil untuk membenarkan sikap gagap itu. Inget, lho, Nabi itu pemaaf. Dulu Mesjid Nabawi juga dikencingi Arab Badui, tak ada kemarahan pada diri Nabi, bla..bla…bla. Intinya jangan emosi ketika agama dihina, saudara diganggu, itu adalah ujian dari Rabbmu. Duh.
Kalau mereka jujur membaca dan mempelajari sejarah dan kitab fiqih sebenarnya tak akan pernah keluar pernyataan seperti itu. Sayang, mereka sudah gagap.

Padahal saya menduga kuat orang-orang macam itu marah besar kalau orang tuanya dilecehkan, profesinya dihina, namanya dicemarkan, atau bangsa dan lambang negaranya maki. Tapi entah kenapa untuk urusan agama mereka seperti santo atau orang suci yang kesabarannya seperti air di lautan. Tak terbatas. Saya jadi ingin mengutipkan syair dari sebagian ahli hikmah:

أَبُنَيَّ إنَّ مِنْ الرِّجَالِ بَهِيمَةً …………..فِي صُورَةِ الرَّجُلِ السَّمِيعِ الْمُبْصِرِ
فَطِنٌ بِكُلِّ مُصِيبَةٍ فِي مَالِهِ………….. وَإِذَا يُصَابُ بِدِينِهِ لَمْ يَشْعُرْ

Duhai anakku sesungguhnya ada pada sebagian orang itu binatang
Tapi dalam rupa manusia yang (bisa) mendengar dan (bisa) melihat
Yang merasa gelisah dengan segala musibah pada hartanya
Dan jika (musibah) ditimpakan pada agamanya ia tidak merasa

Kegagapan berislam dan berpolitik untuk Islam tumbuh dalam sebuah proses yang lama. Sejak kecil anak-anak muslim di negeri ini sengaja dibesarkan dalam opini dan perasaan yang meminggirkan agama (Islam). Itulah sekulerisme. Hasilnya? Besarlah kita dalam pemahaman bahwa agama itu biasa saja. Tak ada yang spesial untuk dibanggakan. Inilah bibit kegagapan yang sudah ditumbuhkan sejak lama.
Attitude dan tingkah laku (behavior) kita lahir tidak begitu saja. Keduanya datang dari pemahaman (mafhum). Seperti kita sampai hari ini tidak akan pernah mau memakan daging babi adalah hasil dari proses penanaman yang lama. Jangankan memakannya, mendengar katanya saja sudah bisa membuat kita bergidig. Jijik. Itulah sikap dan attitude yang lahir dari pemahaman.

Orang tak akan marah bila sesuatu yang tak pernah ia banggakan atau cintai dilecehkan. Anda yang bukan penggemar klub sepakbola A misalnya, tak akan pernah marah kalau mendengar nama klub itu dihina. Saat Anda dimintai komentar tentang klub itu Anda pun akan tergagap-gagap menjawabnya. Tapi darah para supporter fanatik klub itu pasti akan mendidih bila mendengar nama klub kebanggaannya direndahkan.
Seorang anak yang dijauhkan dari ayahnya, dan hanya mendengar secuil info tentang ayahnya, tak akan pernah muncul rasa cinta padanya. Ketika mendengar ayahnya dipukuli orang, emosinya hanya meletup sedikit atau malah bisa jadi tak ada emosi sama sekali. Mungkin ia malah menyalahkan sang ayah yang ia duga mengganggu orang dengan suara berisik speaker miliknya.

Begitulah yang terjadi pada sebagian umat ini dan para tokohnya, juga pemuka agamanya. Bagi mereka marah membela agama itu tabu dan memalukan. Menunjuk hidung orang yang menghina agama dan melukai umat Muslim itu tercela.
Sudah saatnya kita bebaskan diri dari kegagapan semacam itu. Kegagapan itu menunjukkan kesalahan kita dalam menjiwai Islam. Bahwa Islam bukan saja mengajarkan amar maruf tapi juga nahi mungkar, bukan saja mengajarkan cinta dan kasih sayang tapi juga cemburu dan amarah, bukan saja minta maaf dan memaafkan tapi juga menuntut keadilan.
Semoga Allah melindungi kita semua dari sifat gagap dan dari orang-orang yang masih betah dengan sifat gagap semacam itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *