Muda, Manis, Kaya Dan Tidak Bahagia

FILE - In this Feb. 12, 2011 file photo, singer Whitney Houston, left, and her daughter Bobbi Kristina arrive at the Pre-Grammy Gala & Salute to Industry Icons with Clive Davis honoring David Geffen in Beverly Hills, Calif. Bobbi Kristina Brown has been spotted wearing a sparkly bauble on her ring finger, but she's not planning on getting married anytime soon. A rep for Brown's mother, the late Whitney Houston, says the 19-year-old is ?simply wearing her mother's ring? and that she's not engaged. (AP Photo/Dan Steinberg, file)Bobbi Kristina, putri mendiang diva pop Whitney Houston akhirnya meninggal dunia. Setelah lima bulan koma tubuhnya akhirnya tak sanggup melanjutkan denyut kehidupan. Sebelumnya gadis malang berusia 22 tahun itu ditemukan tenggelam d bath tub-nya pada Januari tahun ini. Setelah itu ia tak pernah sadarkan diri dan hanya menggantungkan hidupnya pada peralatan medis dan obat-obat kimia.
Bukan kematian Bobbi Kristina yang memilukan, tapi episode kehidupannya. Lahir dari keluarga selebriti; ibunya diva musik pop yang sudah menjual jutaan kopi album rekaman dengan berbagai penghargaan platinum, sedangkan ayahnya rapper yang juga pernah menjadi top selebriti. Bobbi Kristina sudah pasti kaya raya.

Tapi seluruh jagat dunia hiburan tahu, keluarga Whitney-Bobby Brown tidak bahagia. Pertengkaran, penganiayaan, drugs jadi bagian keluarga pesohor ini. Sebagaimana diketahui Whitney berkali-kali keluar panti rehab untuk menanggulangi kecanduannya. Sampai akhirnya ia ditemukan tewas di bath tub di kamar mandi sebuah hotel hanya beberapa saat sebelum pertunjukkannya di gelar. Ia tewas tenggelam setelah mengkonsumsi minuman beralkohol dan kokain.

Saat ibunya meninggal Bobbi Kristina berusia 19 tahun. Kawan-kawannya mengingatkannya akan kebiasaan buruk sang mommy. Bobbi menjawab, “Aku bagaimana ibuku meninggal, dan aku belajar dari kesalahannya.” Tapi itu jawaban kosong karena kemudian gadis muda itu sering berurusan dengan minuman keras dan narkoba.

Sulit untuk tidak mengatakan Bobbi Kristina tidak bahagia. Broken home, sang ayah yang kasar dan tidak bertanggung jawab, dan ibunya yang terlibat narkoba sampai akhir hayatnya. Itu ia saksikan sejak kecil hingga usia remaja.

Kemudian Bobbi Kristina lari ke jalan yang keliru dan percaya pada orang yang keliru. Ia berpacaran lalu hidup bersama dengan Nick Gordon, saudara angkatnya. Gordon-lah orang yang diduga kuat banyak merusak kehidupan Bobbi. Ia membuat kehidupan Bobbi terpuruk dalam minuman keras dan narkoba. Diduga kuat sebelum tenggelam dalam bath tub, Bobbi Kristina teler akibat OD narkoba.

rebutan anak

Bobbi Kristina adalah gadis muda potret malang korban broken home sebuah keluarga dalam bingkai kehidupan kapitalisme-liberalisme. Dimana nilai keluarga dan persahabatan hanya tinggal serpihan digusur gaya hidup individualisme dan hedonisme.
Banyak orang tua makin individualis, hidup di alam masing-masing terpisah dari dari anak-anak mereka. Bekerja lebih dari 8 jam sehari, pulang dulu ke bar atau night club sebelum ke rumah, atau ambil olahraga malam seperti futsal, gym dan aerobik. Anak-anak menjadi urusan nomor sekian. Setibanya di rumah pun keduanya masih berkutat dengan pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah, atau sibuk dengan gadget masing-masing.

Gaya hidup pun kian hedonis. Memanjakan diri dan anak-anak dengan makanan mewah, pakaian branded, shopping ke mall bahkan hingga keluar negeri, dan menghabiskan week end dengan wisata. Sangka mereka itu bisa membahagiakan dan merekatkan hubungan dengan anak-anak.
Bobbi Kristina bukan satu-satunya remaja selebritis yang hidupnya menderita. Ada Mcauley Culkin diidolakan saat menjadi bintang cilik setelah dewasa justru bermasalah. Sama seperti Bobbi, Culkin alam broken home, ayahibunya bercerai dan memperebutkan harta Culkin.
Justin Bieber yang imut di saat ABG sekarang malah dianggap common enemy oleh banyak orang tua di AS, karena tingkahnya yang menyebalkan. Dan masih banyak lagi anak-anak pesohor, atau dulunya pesohor tapi kemudian hidup mereka berakhir mengenaskan.

Kisah tragis Bobbi Kristina menjadi contoh pahit yang kesekian kali betapa anak akan lurus hidupnya jika mendapatka kasih sayang dan pendidikan terbaik dari kedua orang tua. Bukan sekolah elit, uang yang banyak, kendaraan mewah, dan gadget keren yang bisa membuat anak berjalan lurus dalam kehidupan.

Itu semua hanya bisa didapat jika kedua orang tua mendedikasikan hidupnya dengan benar untuk mendidik anak. Dedikasi itu akan didapat jika orang tua memahami dengan benar tuntutan Islam dalam pengasuhan anak. Tanpa itu; nothing!
Kisah pilu Bobbi Kristina juga potret kegagalan kapitalisme-liberalisme membangun masyarakat berbasis keluarga harmonis. Dalam kapitalisme-liberalisme, nilai tertinggi adalah kepuasan materi; hedonisme. Anak bisa bersekolah di tempat mahal, pakaian mewah, liburan mewah, popularitas, dsb. Sementara kasih sayang apalagi keimanan terabaikan.

Bobbi Kristina tidak sendiri. Sudah banyak yang mendahuluinya dan akan masih ada generasi muda galau yang hidupnya akan terpuruk. Bukan sekedar kesalahan orang tua, tapi nilai kehidupan kapitalisme-liberalisme memang sengaja merusak keluarga dan anak-anak. Poor #bobbikristina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.