Tidak Adil Terhadap Islam

anti islamDi antara hal yang membuat banyak muslim ragu akan kebenaran ajaran Islam adalah karena menilai Islam dari perilaku umatnya. “Bagaimana saya bisa percaya pada hukum Islam bila kenyataan umat Islam seperti sekarang?” begitulah isi kepala mereka. Dalam pikiran mereka yang sempit itu perilaku umat Islam hari ini mencerminkan ajaran Islam.

Kita harus akui bahwa sekarang ini kondisi negeri-negeri Islam amat terpuruk. Tidak usahlah dulu kita menilainya dulu dari Human Development Index, atau Indeks Kebahagiaan di dunia yang menempatkan negeri-negeri Islam kalah jauh dari beberapa negara Barat atau Timur. Juga dari kualitas perguruan-perguruan tinggi kelas dunia yang tak ada satupun ditempati oleh kampus asal negeri Islam. Kultur muslim di dunia memprihatinkan dibandingkan orang kafir.

Ketika Jepang dilanda Tsunami kita bisa melihat para korban dengan sabar mengantri untuk mendapatkan jatah bantuan. Bandingkan misalnya dengan pembagian daging qurban, zakat, atau bantuan yang berebut bahkan jatuh korban. Umat Islam seperti tidak mengenal arti sabar, mengalah dan tertib.

Bandingkan juga kebersihan di negeri-negeri Islam dengan di negara Barat atau nonmuslim lainnya. Jakarta tidak ada apa-apanya dibandingkan Singapura apalagi Tokyo dalam soal kebersihan dan ketertiban. Di sana orang tak boleh buang sampah sembarangan. Di Indonesia, jangankan di jalanan, mesjid kita masih banyak yang kotor dan bau pipis. Aneh, orang Islam seperti tak kenal ajaran bersuci/thaharah. Keadaan seperti ini sampai-sampai membuat seorang mubaligh beberapa tahun silam berkomentar kalau Jepang itu lebih Islami daripada orang Islam. Pernyataan yang membuat sejumlah tokoh Islam tersinggung. Sad but true.

Keterpurukan ini juga terlihat di banyak negeri-negeri Islam yang ‘kaya’. Banyak negeri petrodollar yang rakyatnya miskin. Di Arab Saudi kemiskinan terlihat begitu telanjang sementara keluarga kerajaan hidup di istana-istana mewah, sedan ber-cc tinggi mendesing di jalan raya, dan pesawat pribadi mewah siap mengantarkan keluarga dinasti Saud kemana saja.

Tapi menilai Islam dari perilaku umatnya hari ini adalah kesalahan FATAL dan amat tidak adil. Al-Islam syai’un wa ummah al-Islamiyyah syai’un akhor. Islam adalah sesuatu dan umat Islam sesuatu yang lain lagi. Apalagi di jaman sekarang saat Islam sudah jauh dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan tidak jujur bila menilai Islam dari perilaku umatnya. Mengutip perumpamaan dari asy-Syahid Sayyid Quthb; “Sekarang ini keadaan Islam dan umatnya laksana orang yang menarik layang-layang. Islam membumbung tinggi di langit sementara umatnya masih terpuruk di bumi.”

Anehnya ada sebagian orang Islam yang suka menggunakan logika berpikir dangkal seperti itu. Mereka senang mengumbar fitnah tentang keburukan Islam dari keburukan perilaku umatnya. Orang-orang seperti ini bisa jadi adalah orang awam yang sempit pikir atau orang Islam yang sudah terasuki rasa hasad (kedengkian) terhadap Islam. Golongan kedua ini akan melakukan apa saja untuk menghalangi tegaknya Islam sebagai sistem dalam kehidupan.

Kedua golongan ini juga kerap tidak konsisten dengan pola pikir mereka. Khususnya golongan kedua begitu bersemangat menyalahkan Islam ketika melihat perilaku buruk umatnya. Lalu mereka tutup mata seandainya pihak lain atau sistem lain melahirkan kejahatan. Misalnya demokrasi di tanah air terbukti telah menyebabkan meningkatnya tindak korupsi, politik uang, saling sikut hingga kerusuhan antarpendukung. Tapi mereka dengan segera mengatakan itu adalah oknum, bukan kesalahan demokrasi.

Begitupula mereka tidak mau menyalahkan demokrasi dan kapitalisme di Barat dan Timur yang selain menciptakan kemajuan materi dan berbagai kultur positif, juga menimbulkan kerusakan sosial. Mereka seperti pura-pura tidak tahu bahwa tingkat bunuh diri di Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa tertinggi di dunia. Atau eksploitasi wanita dalam negara-negara demokrasi mereka anggap seperti angin lalu. Begitupula kebiasaan mengkonsumsi minuman keras dianggap lumrah oleh dua golongan ini. Masih banyak lagi kerusakan sosial yang diciptakan sistem demokrasi tapi mereka selalu berkelit dari fakta-faktanya. Beda dengan semangat mereka menyalahkan Islam.

Dalam al-Quran orang Islam yang memiliki pola pikir seperti itu disebut sebagai kelompok “mudzabzdabin”. Kelompok muslim tapi ragu-ragu antara beriman kepada perintah Allah dan RasulNya atau mengingkarinya. Ironinya mereka justru bukannya berusaha mencari jalan untuk mengimani Islam tapi justru mencari jalan untuk meragukannya.

 “Mereka dalam Keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”(QS. an-Nisa: 143).

 Saya ingin meluruskan kesalahan-kesalahan ini dengan selurus-lurusnya, tapi untuk sementara cukuplah sekian. Saya ingin katakan, jangan nilai Islam dari perilaku umatnya hari ini. Kita sudah memiliki generasi terbaik yang selayaknya dijadikan role model, yakni Rasulullah saw. dan para sahabat. Beda dengan demokrasi yang hingga hari ini tidak pernah memiliki ‘suri taudalan’ yang benar-benar menyejahterakan dan layak dijadikan panutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *