Tidak Adil Terhadap Islam (bag-2)

fun silogismePak Busyro Muqoddas pernah mengatakan bahwa mayoritas koruptor rajin beribadah. Kita bisa jadi heran mendengar data statistik tersebut. Bagaimana bisa orang yang rajin beribadah tapi korupsi? Bukankah shalat itu berfaedah mencegah perbuatan keji dan mungkar? Bukankah sebagian dari mereka juga pernah berhaji, menangis di depan Kabah, melempar jumrah, bagamana mungkin mereka tetap melakukan kejahatan?

Kejadian serupa adalah seperti yang pernah dituturkan seorang seorang ustadz yang kebetulan berdomisili dekat kawasan prostitusi di Kabupaten Bogor. Ia bercerita bahwa ada beberapa PSK yang absen bekerja setiap malam Jumat. Mereka absen karena mengadakan ritual baca Yasin setiap malam Jumat. Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Pada tulisan ini saya ingin melengkapi tulisan kemarin, mengapa di negeri-negeri mayoritas muslim banyak muslim bermasalah. Tidak ramah, tidak disiplin, tidak tertib, bahkan melakukan kejahatan berat seperti korupsi bahkan berzina. Apa yang salah dengan keislaman mereka? Ataukah justru Islamnya yang salah alias mengajarkan kesalahan pada umatnya? Tapi mungkinkah itu terjadi?

Seringkali kita menggunakan silogisme untuk menarik kesimpulan akan sebuah fenomena. Seperti twit kawan saya yang mengatakan data = amal. Ia bermaksud mengatakan bahwa dominannya muslim yang berbuat maksiat menunjukkan taat pada Islam tidak menjamin orang itu akan baik. “Alah yang namanya ustadz aja korupsi!”, “Ustadz aja suka browsing film pornografi!”, “Masak ustadz miting kepala jamaah? Gak bener tuh!” dan masih banyak lagi premis-premis yang mengantarkan orang pada konklusi bahwa menjadi orang Islam yang taat itu belum tentu benar!

Repotnya fakta yang bisa dijadikan premis itu sekarang jumlahnya banyak dan gampang terlihat. Membuat orang  — termasuk kaum muslimin – makin tidak percaya pada kebenaran ajaran Islam. Seakan memperkuat konklusi bahwa orang taat itu tidak benar. Ini menambah berat beban dakwah menegakkan syariat Islam dan khilafah. Pikir mereka, nggak pakai syariat Islam dan khilafah saja umat Islam sudah kayak begini, apalagi kalau pakai syariat Islam?

Namun seperti yang saya sampaikan pada bagian pertama tulisan ini bahwa bila kita ingin menilai Islam maka jangan lihat perilaku umatnya. Lihatlah langsung ajarannya, lihat pula role model-nya, Nabi Muhammad saw. Apakah pernah Beliau saw. memiting kepala orang tanpa alasan yang haq? Pernahkah Beliau melecehkan kaum wanita atau justru menghormatinya? Adakah ayat al-Quran yang menyuruh merampas harta orang apalagi membunuh orang tanpa alasan, atau sebaliknya?

Bila kita melihat ajaran Islam dari al-Quran dan sunnah maka tidak pernah akan kita jumpai apa yang dominan dikerjakan umat pada hari ini. Islam mengajarkan kebersihan, kebersamaan, keadilan, dsb.

Apa yang terjadi sekarang adalah umat mengalami split personality. Pecah kepribadian. Pikiran mereka muslim tapi sikapnya tidak Islami. Maka kita lihat orang yang rajin ibadah, sudah naik haji tapi badannya bau, sarungnya lusuh karena tak pernah dicuci, toilet di mesjidnya penuh najis yang tak dibanjur berhari-hari (hiii…!), sering bertengkar dengan istri, dsb.

Atau sebaliknya, sikapnya Islami tapi pikirannya tidak. Ada muslim yang ramah, dermawan, cinta kerapihan dan kebersihan tapi dia menerima konsep gay dan homoseksual, setuju dengan hak muslim untuk murtad, mengajarkan konsep bisnis berbasis riba, dsb.

Mana yang lebih baik dari keduanya? Tidak ada. Dua kepribadian itu sama-sama ancur! Jangan juga berpikir ‘mendingan’, karena dalam Islam yang ada all or nothing. Artinya kalau ada muslim yang melalaikan satu saja perintah Allah ia berdosa.

Mengapa hal itu terjadi? Ada dua hal; pertama, Islam yang dipahami oleh banyak orang hanyalah parsial. Misalnya, banyak orang yang paham shalat lima waktu itu wajib tapi tidak paham bahwa kaum muslimin wajib menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan.

Kedua, ini yang paling pokok, karena Islam yang diajarkan di masyarakat umumnya bersifat pengetahuan bukan PEMAHAMAN. Orang sekedar tahu hukum Islam tapi tidak paham konsekuensinya. Bukankah itu yang diajarkan di sekolah-sekolah? Kita baru belajar agama Islam saat jelang ujian? Mohon maaf di pondok pesantren juga berlaku demikian. Santri cinta pada kitab karena harus lulus ujian. Mereka juga tahu beragam isi kitab tapi banyak juga yang tak paham kewajiban mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Maka jadilah umat hari ini terpuruk. Otaknya berisi pengetahuan Islam tapi tidak bertransformasi menjadi pemahaman. Padahal perilaku manusia amat ditentukan oleh pemahaman bukan pengetahuan. Banyak muslim – termasuk yang tidak pernah shalat sekalipun – emoh makan daging babi karena itu sudah menjadi pemahaman sejak lama. Tapi tidak sedikit muslim yang biasa tidak cebok/thaharah bila selesai buang hajat padahal Nabi saw. menyebutkan ada azab bagi pelakunya. Ada juga yang tahu tapi cuek karena tidak paham.

Inilah dua penyebab mengapa umat Islam berperilaku seperti sekarang. Saya ingin menyebutkan dua penyebab lain tapi nanti sajalah saya sampaikan di lain kesempatan. Hanya saja mari kita menilai Islam dengan adil, bukan dengan sebelah mata apalagi terpejam lalu akhirnya tidak mau percaya pada kemuliaan ajaran Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.