Saya Dosen PKN

gelas indonesiaAssalamu’alaykum!

Jumat Hebat! Terus semangat!

Saya sedikit mau curhat kalau salah satu profesi saya di dunia nyata adalah dosen PKN. So what? Ya, banyak kawan yang nyengir dan merasa aneh karena saya mau mengajarkan mata kuliah ini. Meski menentukan kelulusan tapi bukan mata kuliah favorit untuk mahasiswa. Isinya juga melulu doktrin – yang banyak orang curiga apa benar itu dijalankan oleh para pejabat kita di tanah air.

Tapi bagi saya PKN itu matakuliah menantang yang harus diajarkan. Saya harus bisa membuat mahasiswa tertarik mempelajarinya. Selain itu saya punya misi lain dari matakuliah ini, yakni membuat mahasiswa sadar bahwa mereka hidup di negeri yang luar biasa. Mulai dari akar sejarah, SDA dan potensi geopolitiknya yang amazing. Banyak mahasiswa yang tidak paham semua itu. Terutama saya ingin sampaikan bahwa negeri ini berdiri di atas jasad dan darah para syuhada alim ulama dan santri Nusantara.

Ternyata benar, tadi malam di jadual kuliah pertama, saat saya tanya histori Perang Djawa dan Diponegoro tidak ada satupun mahasiswa yang tahu (beeeeuuh!). Mereka tidak kenal siapa Kyai Modjo dan siapa Sentot Alibasjah. Jangan tanya pula apa gelar Pangeran Diponegoro yaitu Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama.

Saya sampaikan kepada bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan tidak melupakan sejarahnya. Omong kosong bilang ‘ love Indonesia’ tapi tak kenal sejarah Indonesia dan alim ulamanya. Sayang hari ini umat Islam di tanah air sudah lupa kacang pada kulitnya. Tidak lagi mau tahu negeri ini dibela hingga tetes darah penghabisan oleh barisan syuhada. Mereka berjuang bukan sekedar karena cinta tanah air tapi mengusir kaum kafir penjajah Belanda yang membawa misi gosfel, penyebaran agama Kristen di tanah air.

Sejauh yang saya amati tadi malam rata-rata mahasiswa antusias menyimak. Mungkin mereka benar-benar merasa ‘baru’ dengan sejarah mereka sendiri. Selama ini barangkali mengenal sosok para pahlawan nasional sebatas pejuang melawan Belanda dalam rangka mengusir penjajah dan game over. Tapi apa motif di balik perjuangan mereka dan motif penjajahan Belanda banyak yang tak paham benar.

Ini baru permulaan. Pada tatap muka berikutnya saya harus menyampaikan kedahsyatan negeri ini yang Allah karuniai sumber daya alam (SDA) yang luar biasa dan potensi geopolitiknya yang keren. Sehingga banyak membuat bangsa-bangsa asing dari dulu hingga sekarang bernafsu ingin menguasai negeri ini.

Dari pengalaman mengajar PKN yang sudah-sudah, alhamdulillah rata-rata mahasiswa merasa enjoy. Karena saya tidak mendoktrin mereka untuk cinta pembangunan, tapi untuk sadar mengapa kita harus membangun, dan mengapa kita harus mempertahankan identitas diri sebagai orang Indonesia yang muslim. Bukan muslim yang Indonesia. Ini beda, kalau yang kedua akhirnya menundukkan keislaman kita pada kultur Indonesia, tapi yang pertama menundukkan keindonesiaan kita pada wahyu Allah alias nilai-nilai Islam.

Pendidikan Kewarganegaraan tidak akan pernah menarik minat mahasiswa bila kita mengajarkannya begitu saja. Bagi saya adalah sebuah pengkhianatan besar kepada para pendiri negeri ini bila membungkam sejarah di hadapan para mahasiswa dan hanya menyampaikan isi modul perkuliahan apa adanya.

Kita berhadapan dengan potensi umat yang begitu dahsyat dan alam yang luar biasa. Saya berharap agar teman-teman guru dan sesama dosen juga mau mengajarkan anak-anak bangsa agar tidak melupakan sejarah dan malah bangga dengan sejarah negeri ini. Karena kita adalah umat yang besar yang tinggal di negeri yang besar.

Itu sedikit curhat saya di hari Jumat ini. Saya, Iwan Januar, dosen PKN.

Incoming search terms:

  • dosen pkn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *