Shalat Berhadiah Adalah Tamparan Bagi Umat

sepi jamaahWalikota Bengkulu Helmi Hasan punya ide kreatif untuk membuat orang mau shalat berjamaah di mesjid, yaitu menjanjikan hadiah umroh dan Kijang Innova. Gagasan sang walikota berangkat dari keprihatinannya akan sepinya jamaah shalat dzuhur di mesjid-mesjid. Terus terang saya harus bilang ‘wow!’ Baru kali ini di negeri yang mayoritas muslim untuk memancing orang shalat (dzuhur) berjamaah digelar hadiah besar sedemikian rupa.

Tapi Helmi menuai banyak kritikan. Sejumlah politisi muslim, MUI juga masyarakat awam menyatakan tidak setuju dengan cara seperti. Beragam alasan dikemukakan; shalat kan harus ikhlas, cara ini tidak mendidik, dsb. Tapi sampai tulisan ini saya buat Walikota Bengkulu bergeming. Bahkan ia memperluas lagi sayembara itu sampai tingkat kecamatan di Kota Bengkulu. Luar biasaaa!

Saya tidak akan mempersoalkan soal hadiah maupun keikhlasan mereka yang kemudian mendadak rajin shalat berjamaah di Bengkulu. Ikhlas adalah urusan personal seseorang dengan Allah SWT. belum tentu kita yang sedari dulu rajin shalat berjamaah lima waktu lebih ikhlas dari mereka. Bisa jadi ada orang yang rajin shalat lima waktu ke mesjid karena ingin disebut alim atau ingin mensuksesi kedudukan imam mesjid. Sulitlah untuk mengatakan orang itu ikhlas atau tidak ikhlas.

Apakah hal itu tidak mendidik? Sejauh yang saya pahami tidak juga. Boleh saja seseorang memberikan hadiah kepada orang lain karena prestasi ibadahnya. Seperti seorang ayah yang menjanjikan hadiah kepada anaknya yang hafal surat-surat dalam al-Quran, itu pun sah saja. Begitupula andai penguasa memberikan hadiah kepada rakyatnya karena rajin shalat maka itupun tidak bermasalah. Bukankah pemerintah juga setiap tahun mengadakan Musabaqoh Tilawatil Quran yang berhadiah? Bukankah membaca al-Quran juga ibadah tapi kok diperlombakan dan diiming-imingi hadiah?

Sebenarnya sayembara shalat berhadiah itu adalah tamparan bagi kita, umat Islam, khususnya parpol Islam, para politisinya, MUI, para ulama dan kyai. Sayembara itu jelas menunjukkan ada yang salah dengan kualitas keislaman umat di negeri ini. Mengapa umatnya tidak cinta shalat berjamaah di mesjid? Mengapa kita baru meributkan hal ini sekarang padahal sudah berpuluh tahun mesjid memang selalu sepi, jarang full house apalagi membludak di kala shalat lima waktu? Mengapa parpol Islam, politisi muslim, alim ulama, MUI dan ormas Islam tidak segera membenahi hal yang amat elementer ini. Ya, shalat adalah urusan agama yang elementer. Tidak berat tapi ternyata kita kedodoran membenahi kewajiban shalat. Usahlah dulu berpikir shalat berjamaah, masih banyak muslim yang melalaikan shalat lima waktu secara munfaridan atau shalat Jumat yang sudah jelas hukumnya wajib dan haram ditinggalkan?

Sayembara itu juga menunjukkan pembinaan keislaman di negeri ini belum membuahkan hasil yang diharapkan. Sampai-sampai umat masih juga tidak cinta kepada shalat berjamaah. Padahal di negeri ini ada ratusan ribu mesjid, madrasah dan pesantren. Tapi mengapa mesjid melompong?

Mengapa kita tetap bergeming? Mengapa tidak marah? Mengapa tidak membuat terobosan? Mengapa ketika ada orang yang ingin memberi reward lantas dipersoalkan begitu besar, tapi kita tidak meributkan pejabat yang tidak pernah shalat lima waktu dan tidak puasa padahal dia muslim?

Kita memang sudah dimabuk sekulerisme. Merasa urusan agama adalah urusan pribadi. Tidak perlu diurus oleh lembaga apalagi negara, apalagi shalat yang sifat ibadahnya amat personal. Bahkan muslim yang murtad pun dianggap wajar karena itu urusan hati dan dilindungi oleh hukum.

Selama ini kita melupakan dan membuang metode yang benar dalam menegakkan ajaran Islam. Kita masih beranggapan beribadah cukup ditegakkan dengan himbauan. Di mimbar-mimbar Jumat, di majlis talim, di buletin, selalu diserukan kewajiban dan fadilah melaksanakan shalat. Itu dilakukan karena beranggapan semua hukum Islam bisa dilaksanakan cukup dengan kesadaran pribadi tanpa perlu iming-iming apalagi paksaan. Maka ketika banyak orang menelantarkan shalat, tidak membayar zakat, tidak berpuasa, kita menjadi dai yang gagap. Tak ada lagi yang sepertinya bisa dilakukan.

Padahal untuk menjaga umat tetap beribadah tak cukup hanya dengan himbauan. Allah SWT. telah memberikan metode pelaksanaan ajaran Islam yang komprehensif. Tidak sekedar himbauan tapi Allah juga mengancam orang yang menelantar perintahNya dan Ia pun memberikan wewenang kepada penguasa untuk menjatuhkan sanksi kepada siapa saja yang tidak melaksanakan perintah Allah. Karenanya orang yang ‘budek’ dari himbauan shalat akan diancam dengan sanksi pidana. Ia bisa dipenjara, didera, bahkan bisa dihukum mati bila murtad karena menolak mentah-mentah perintah shalat.

Mengerjakan hukum Islam tidak selamanya berurusan dengan ikhlas atau tidak ikhlas. Keikhlasan urusan pribadi pelakunya dengan Allah, tapi masyarakat dan penguasa berkewajiban mencegah siapa saja yang berbuat mungkar karena tidak shalat misalnya. Tidak pantas penguasa mendiamkan rakyatnya bila tidak shalat lima waktu, tidak berpuasa, tidak berzakat, tidak berhaji, dan tidak-tidak yang lain yang menelantarkan perintah Allah yang fardlu.

Persoalannya adalah bisakah penguasa dan sistem demokrasi melakukan hal itu? Bisakah parpol memperjuangkan undang-undang yang mewajibkan setiap umat Islam shalat lima waktu, berzakat, dsb. dengan adanya sanksi pidana? Bisakah?

Sudah waktunya umat berpikir out of the box, sadar bahwa umat membutuhkan sistem khilafah untuk menjaga pelaksanaan perintah Allah SWT. Tanpa khilafah jangankan urusan berat seperti utang luar negeri, untuk urusan shalat saja kita tergagap-gagap. Sungguh kebijakan Walikota Bengkulu adalah tamparan bagi kita. Masalahnya apakah kita merasa ditampar, atau sudah ‘mati rasa’ untuk menerima tamparan seperti apapun?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.