Dakwah, Popularitas dan Entertainment

micro2Linu rasanya saya mendengar berita kekerasan yang dilakukan seorang ustadz terhadap jamaah pengajian di atas panggung. Video sang ustadz kini beredar di Youtube dan menuai banyak kecaman. Bagi saya pribadi hal itu adalah musibah besar karena pelakunya adalah seorang yang tahu adab-adab agama. Meskipun kita juga sadar bahwa siapapun bisa berbuat salah, sekalipun itu adalah sahabat Nabi saw. sekalipun. Namun demikian ada rentetan persoalan di panggung dakwah umat pada hari ini. Kejadian ‘smackdown’ ala sang ustadz membuka sedikit dari rangkaian persoalan itu.

Salah satu persoalan panggung dakwah umat hari ini adalah sudah merasuknya jiwa entertainment di dalamnya. Banyak da’i dan kalangan yang menyulap dakwah bukan lagi ajang tausiyah, sarana enlighment/pencerahan dan membersihkan hati. Dengan dalih agar memikat perhatian panggung dakwah sudah menjadi sarana hiburan. Kalau dakwah tidak menghibur maka tidak akan diminati. Ini bukan saja terjadi di layar kaca, tapi juga di kampung-kampung. Materi dakwah menjadi nomor sekian, yang dominan adalah lawakan. Bahkan lawakan tak senonoh pun dibawa ke atas panggung karena disukai penonton. Akhirnya bagi sejumlah dai keberhasilan itu diukur bukan dari perubahan masyarakat tapi dari repeat order di banyak panggung.

Kondisi ini terasa lebih dahsyat lagi di layar kaca. Stasiun televisi sudah menangkap dakwah sebagai tambang emas, bukan murni ajang perbaikan masyarakat. kalaupun tidak matre ya setidaknya fifty-fifty-lah. Dakwahnya kena, profitnya juga dapat.

Maka para pemilik perusahaan televisi swasta sudah menyulap panggung dakwah bukan lagi pure dakwah, tapi sudah menjadi anak kandung dari entertainment.  Hampir-hampir tak ada dakwah yang tak dipermak agar tampil manis dan punya nilai komersil di layar kaca. Mulai dari delivery message penampilan sang juru dakwah hingga konten yang disampaikan pun sudah pasti disortir dan diseleksi sedemikian rupa.  Maka kita bisa melihat lawakan begitu dominan di atas panggung dakwah di layar kaca, mubalighah yang tampil menor bertabarruj plus menyanyi di atas panggung tak lagi ingat bahwa suara perempuan yang mendayu-dayu adalah terlarang. Semuanya dibalut entertainment yang begitu kental.

Hal yang kita cemaskan para dai itu akhirnya dikebiri pemikirannya. Performa hebat tapi tak akan lolos sensor bila menyampaikan Islam secara kaffah. Saya belum pernah mendengar dai atau daiyyah di layar kaca mengupas detil kekufuran kaum Nasrani dan Yahudi, mengupas surat al-Kafirun, membahas haramnya pesta pora dimana pria dan wanita berikhtilat, dsb. Panggung dakwah seperti itu adalah penjara emas meski tak bisa dipungkiri banyak orang yang menikmati keadaan seperti itu.

Tapi dunia dakwah seperti ini juga memancing banyak dai muda ataupun tua untuk beramai-ramai masuk ke dalamnya. Tanpa sadar mereka kelak akan diperalat oleh kaum kapitalis pemilik televisi. Persis ngengat tertarik nyala api lalu mati terbakar. Toh, nama akan terkenal, orderan manggung semakin banyak dan bisa mengatur tarif sedemikian rupa.

Menjadi populer memang impian banyak orang karena katanya itu termasuk ukuran kesuksesan. Tapi bila itu dicapai dengan rekayasa apalagi mengorbankan keluhuran agama sama saja bunuh diri. Terkenal tapi tak berani menyampaikan perjuangan Islam, karena bila itu mereka lakukan orang akan berlari meninggalkannya. Godaan orang terkenal adalah takut kehilangan massa yang kadung mencintainya.

Menjadi dai terkenal juga bisa membuat orang lupa akan hidup yang beradab. Bukan satu dua dai yang saat sudah berada di puncak lalu meremehkan panggung dakwah kecil, apalagi bila dibayar kecil, apalagi kalau hanya dengan bayaran 2M – Makasih Mas! Mereka bilang semua harus profesional. Bukankah Islam mengajarkan profesionalisme?

Kejadian yang sekarang sedang menghangat adalah salah satu ujian bagi seorang dai terkenal. Bisakah ia mengendalikan egonya ketika ricuh kecil dengan orang kecil? Bisakah ia mengabaikan orang yang bermasalah dengannya dan balik mendoakan kebaikan untuknya?

Dunia panggung dakwah jaman sekarang memang bisa mengubah watak seseorang. Mereka yang semula berangkat ke medan dakwah dengan ikhlas, bisa berubah menjadi insan yang tak pernah puas. Na’uzubillahi min dzalik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.