Suami Bisa Bantu Istri Hadapi Sindrom Baby Blues

Photo by Picsea on Unsplash

Tidak banyak suami yang mau memahami menjadi seorang istri dalam mengasuh buah hati itu tidak bisa dikerjakan setengah hati. Mengandung, melahirkan, menyusui dan membersamai si kecil pekerjaan yang bisa membuat mental seorang perempuan rapuh bahkan hancur. Kasus seorang ibu yang mencoba bunuh diri bersama bayinya di stasiun KRL Pasar Minggu, Jakarta, adalah sedikit potret kerapuhan seorang wanita dalam keluarga.

Entah berapa banyak suami yang tahu bahwa seorang ibu pasca melahirkan bisa mengalami gejala baby blues. Di Indonesia jumlah perempuan dengan gejala baby blues meningkat 70-80% pada tahun 2020. Menurut Ketua Komunitas perempuan dari Wanita Indonesia Keren (WIK) dan psikolog, Maria Ekowati di bulan Mei 2023, Indonesia menempati peringkat ketiga perempuan mengidap gejala baby blues.

Ini merupakan masalah psikologis yang umum dialami oleh ibu setelah melahirkan. Ibu biasanya menjadi lebih emosional dan sensitif, seperti mudah sedih, cemas, lelah, lekas marah, sering menangis, kurang nafsu makan, sulit tidur, dan sulit konsentrasi.

Sebagai tambahan informasi untuk para suami, sindrom ini sudah ada dalam catatan medis Hipokrates pada abad 5 SM. Ia mencatat sejumlah wanita yang mengalami kondisi yang sekarang disebut sindrom baby blues.

Tidak banyak suami yang berempati lalu meringankan beban istri dalam keadaan seperti itu. Alih-alih membantu, malah tidak jarang suami ikut terbawa emosi pada istri yang tengah mengalami kondisi demikian. Memarahi istri dan meninggalkannya.

Semua terjadi karena hanya sedikit lelaki yang mempersiapkan diri menjadi pasangan hidup, menjadi sahabat, dan menjadi ayah. Lebih banyak pemuda yang berpikir pernikahan hanya butuh materi ketimbang lifeskill sebagai suami dan ayah, dan komunikan yang handal menghadapi pasangan.

Padahal salah satu pencegahan kuat agar istri tidak mengalami gejala baby blues adalah support system dari dalam rumah, terutama suami. Karena setelah menikah maka suami harusnya menjadi sahabat terbaik dan terdekat yang menguatkan istri lahir dan batin. Istri bukan saja merasa aman secara materi, tapi terutama secara mental. Istri merasa tenang dimasa kehamilan sampai melahirkan karena percaya suaminya siap menghadapi hal ini bersama-sama.

Apa saja yang bisa suami lakukan untuk membantu istri mencegah atau menghadapi sindrom ini?

1.  Jaga suasana hati istri tetap tenang selama masa kehamilan. Gembirakan dan beri motivasi istri untuk tetap sehat dan semangat misalnya dengan cerita kehamilan wanita-wanita salihah semisal Maryam binti Imran, Hajar istri Nabi Ibrahim as., istri Nabi Zakaria as., dsb. Ajak juga rihlah ke tempat-tempat yang menyenangkan.

2.  Ringankan beban istri dari sejumlah pekerjaan rumah tangga. Namun dorong istri untuk melakukan aktivitas yang membantu kesehatan ibu dan janin, serta memudahkan proses persalinan nanti

3.  Tenangkan istri ketika terlihat gelisah dan cemas. Sampaikan padanya untuk banyak bertawakal serta berprasangka baik pada Allah Ta’ala.

4.  Perbanyak ibadah dan doa. Ajak istri untuk menjaga ibadah wajib dan memperbanyak amalan sunah seperti shalat sunnah, sedekah, tilawah, zikir, dsb. Allah Swt berjanji akan memudahkan urusan orang-orang yang selalu bertaqarrub padaNya.

5.  Dampingi istri pada saat proses persalinan, bila memungkinkan temani hingga ke dalam ruang bersalin untuk menenangkan dan memberikan semangat

6.  Ikut membersamai buah hati seperti menggendong, memeluknya bersama dengan istri, termasuk belajar memandikan dan mengurus keperluannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.