Mental Inlander Stadium Gawat

IMF-Soeharto-Camdessus2Familiar dengan sebutan inlander? Artinya pribumi. Tapi frasa ‘mental inlander’ sering digunakan sebagai ungkapan sinis untuk perilaku warga Indonesia yang rendah diri di hadapan bangsa penjajah dan suka menjilat mereka. Mental inlander ini marak di jaman penjajahan. Warga pribumi yang bermental inlander ini selain gemar menjilat penjajah, juga tega menginjak-injak bangsa sendiri.

Di era reformasi mental buruk seperti itu tak lantas pudar. Masih banyak orang Indonesia yang lebih ramah dan sopan kepada bangsa asing ketimbang kepada bangsa sendiri. Setidaknya itu yang perlakuan yang dialami Duta Besar Indonesia untuk Iran Dian Wirengjurit saat dilayani ground staff satu maskapai asing di Tanah Air. Dalam surat pembaca yang ia layangkan ke sejumlah media massa nasional ia menceritakan betapa sang petugas yang orang Indonesia berlaku diskriminatif kepadanya.  Pak Dubes disodori muka juthek, ketus, sama sekali tak bersahabat. Anehnya ketika datang customer bule sikap sang petugas berubah sikap 180 derajat. Ia mendadak ramah, murah senyum, bahkan bisa tertawa renyah. Kecewa dengan perlakuan staf tadi, Pak Dubes melayangkan komplain lewat surat pembaca ke media massa. Menurutnya ia sudah berkali-kali mengalami perlakuan semacam ini dari maskapai asing tersebut. Surat itu bisa dicek di link ini http://www.suarapembaca.net/report/reader/1131170/arogansi-emirates.  Inilah contoh penyakit mental inlander yang masih diidap sebagian orang Indonesia.

Mental inlander akut ini bukan saja diidap warga biasa, tapi juga pejabat di Tanah Air. Inilah yang paling berbahaya. Pejabat yang bermental inlander manut saja didikte kemauan kaum imperialis Timur dan Barat. Buat mereka kaum imperialis sudah dianggap majikan atau juragan yang harus dipatuhi sepatuh-patuhnya.

Liha saja pemerintah tak bertaring ketika perusahaan perampok kekayaan alam tanah Papua, Freeport, meminta perpanjangan kontrak hingga tahun 2041.  Padahal kontribusi perusahaan ini kepada bangsa Indonesia – apalagi warga Papua – amat kecil. Hanya 1 persen royalti yang mau mereka beri kepada RI. Tak sebanding dengan keuntungan yang mereka rampok dari negeri ini. Sudahlah kecil beberapa kali perusahaan asal AS ini menunggak royalti kepada pemerintah.

Pemerintah juga selalu tak bernyali menghadapi berbagai kesepakatan ekonomi bersama seperti AFTA atau WTO yang merugikan perekonomian rakyat Indonesia. Padahal akibat berbagai kesepakatan itu ratusan ribu UKM terancam banjir impor produk asing yang bakal mengurangi pasar mereka, bahkan bisa gulung tikar.

Bukan saja pejabat pemerintah yang bermental inlander, tapi banyak anggota legislatif yang mengidap penyakit sama. Mereka juga manut saja ketika pihak-pihak asing seperti IMF, USAID atau World Bank mendiktekan berbagai RUU yang korporat asing untuk diketuk palu oleh anggota dewan. Menurut penuturan Eva Sundari, mantan anggota DPR RI, ada 76 RUU yang notabene orderan asing.

Mental inlander itu juga kelihatan dari masih ngototnya parpol dan penguasa negeri ini untuk menerima demokrasi bulat-bulat. Padahal demokrasi produk asing, bukan asli dari negeri Indonesia, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Demokrasi ajaran khas Barat karena meletakkan kedaulatan di tangan rakyat. Apa kata rakyat harus dilaksanakan. Jadi ketika Tanah Air diguyur pornografi dan pornoaksi yang berbuah pahit pada pemerkosaan, pelecehan seksual dan paedofil, itulah harga yang harus dibayar.

Mental inlander itu berbahaya karena menunjukkan manusia masih menghamba pada manusia. Seharusnya manusia menghamba hanya pada Allah SWT., Pencipta manusia dan Pemberi rizki manusia. Selamanya mental inlander tak akan hilang kecuali kaum muslimin di Indonesia sepenuhnya beriman dan bertakwa kepada Allah. Hal itu ditandai dengan kemauan melaksanakan Syariat Islam yang berisi perintah dan larangan Allah SWT. Karena cuma Islam yang menghilangkan perbudakan antar manusia.

 *foto di atas adalah ketika Presiden RI Soeharto menandatangani Letter of Intent kepada IMF disaksikan Michel Camdesuss perwakilan IMF pada tahun 1998. Nampak Camdesuss melipat tangan seperti majikan yang merasa puas mendikte bangsa Indonesia. Setelah LoI itu perekonomian Indonesia makin dikuasai korporat asing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.