Menanti Fatwa Politik Nan Sempurna

golputAdakah agama yang begitu memperhatikan urusan kepemimpinan selain Islam? Tidak ada. Hanya Islam yang amat peduli  — bahkan mengingatkan dengan tegas – pentingnya kehadiran seorang pemimpin bagi umat. Kelompok kecil seperti safar saja yang terdiri dari tiga orang diingatkan oleh Nabi agar memiliki pemimpin.

“Jika tiga orang keluar untuk safar maka angkatlah salah satu di antara kalian sebagai pemimpin.”

(HR. Abu Daud, dan berkata Al-Albani rahimahullah : “Hadits hasan shahih).

Karenanya ketika MUI dan beberapa ulama lain memfatwakan haramnya golput, kita bisa memahaminya pada satu sisi. Bahwa memiliki pemimpin adalah sebuah kewajiban bagi umat Islam. Haram hukumnya umat kosong dari kepemimpinan. Sebagaimana Khalifah Umar bin Khaththab ra. bersikeras memerintahkan para sahabat untuk bersegera mengangkat pemimpin saat ia wafat kelak. Umar memerintahkan demikian karena merasa ajalnya sudah dekat.

Hanya saja kita membutuhkan fatwa yang paripurna. Fatwa yang lengkap. Karena fatwa itu bisa jadi akan menimbulkan pertanyaan; apakah boleh umat memilih pemimpin yang track record-nya sudah jelas; fasik, merugikan umat, tunduk pada negara penjajah, membiarkan kemaksiatan, dsb?

Bila sosok pemimpin itu memiliki cacat kepribadian, mungkin kita masih bisa maklum. Karena mana ada sih sosok sempurna? Tapi bila ‘cacat’-nya ini sampai merugikan orang banyak, menghalalkan yang haram, membiarkan kekufuran, masak iya tetap harus dipilih? Apalagi dengan dalih ‘memilih keburukan yang paling ringan’.

Sungguh fatwa ini menjadi kurang elok karena belum finish. Alangkah sempurnanya bila fatwa itu dilengkapi juga dengan fatwa haramnya memilih politisi dan parpol sekuler-liberal. Haram juga memberlakukan sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme karena membuat bertentangan dengan syariat dan membuat mudlorot bagi umat.

Mohon keluarkan juga fatwa haramnya berkoalisi dengan partai sekuler yang tunduk pada order imperialis. Apalagi bekerja sama dengan partai non-Islam. Agar parpol Islam hanya memperjuangkan  nilai Islam sebagai harga mati. Karena umat juga dibuat bingung dengan parpol Islam tapi berkoalisi dengan parpol sekuler, bahkan parpol non-Islam. Padahal Allah SWT. sudah mengingatkan:

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. Hud [11]: 113).

Bila itu diperjuangkan oleh para alim ulama yang duduk di MUI, bisa jadi umat akan bergairah menyongsong perubahan. Ada harapan kehidupan Islam akan bisa ditegakkan. Angka golput juga bisa ditekan.

Meski golput juga tetap harus dihormati. Karena itu juga pilihan perjuangan. Memperjuangkan Islam lewat jalur yang mereka yakini rajih pendapatnya. Boleh, kan? Toh, sama-sama memperjuangkan Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *