Antara ‘Nice’ dan ‘Important’

nice importantHafal kan slogan; it’s nice to be important, but it is more importan to be nice. Terjemahkan sendiri ya, ikhwan fillah.

Menjadi orang penting itu memang menyenangkan. Kehadirannya dibutuhkan banyak orang. Bisa karena ketenarannya, hartanya atau ilmunya. Dalam dunia dakwah, seorang dai yang bisa memberikan pencerahan pemikiran pada umat, jelas amat penting. Itu dai yang important.

Berdakwah itu memang mengubah pemikiran umat dan individu. Senjatanya adalah pemikiran. Tentu pemikiran yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Maka setiap dai memang harus cerdas, fasih kalamnya, dan menguasai pemikiran Islam. Itulah dai yang important.

Tapi benarkah yang penting itu hanya ‘important’? Tak adakah yang lain.

Pastinya ada. Itu sudah diingatkan dalam kalimat pembuka pada tulisan ini. Selain menjadi penting menjadi ‘orang penting’, seorang dai juga penting untuk menjadi sosok yang nice. Ramah dan menyenangkan.

Sayang, kita suka lupa menjadi sosok dai yang ‘important’ tapi juga ‘nice’. Kita lebih memfokuskan diri agar menjadi orang yang importan, akhirnya kita menjadi orang yang ‘sok penting’. Kita lebih bersemangat menajamkan pemikiran, tapi menumpulkan sikap (nafsiyyah).

Padahal ada sebagian orang yang lebih terkesan dengan keramahan dan kebaikan hati, ketimbang pemikiran. Tabiat dasar manusia akan memilih orang yang awam tapi ramah dan menyenangkan, ketimbang orang alim tapi kasar.

Itulah yang dipakai kaum orientalis dan imperialis sekarang. Mereka menjajah negeri-negeri muslim dengan keramahan. Henry Martyn seorang misionaris mengatakan,Aku datang untuk menemui umat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak  dalam benci tapi dalam cinta.”

Maka saya heran, ada dai yang kerjanya saling mencaci di mana saja, hingga ke jejaring sosial. Ada dai yang enggan menjawab salam saudaranya, padahal tidak berbayar, tak pakai pulsa. Ada dai atau daiyyah yang kurang hormat pada yang tua, dan merendahkan yang muda.

Senyum dan keramahan seolah dipandang tak perlu dalam berdakwah. Seolah pemikiran dan aturan sudah diberhalakan. Bukankah senyum dan keramahan bagian dari hukum syara’ dan tanda cinta pada sesama saudara?

Allah SWT. pun mengingatkan Rasulullah saw. agar menampakkan diri sebagai sosok yang nice, ramah dan menyenangkan bagi umat manusia di kala berdakwah.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”(QS. Ali Imran: 159)

Para sahabat bersaksi bahwa tak ada orang yang paling menyenangkan dalam pergaulan melebihi Rasulullah saw. Keramahan dan pergaulan yang bersahabat itu ditunjukkan bahkan kepada anak-anak. Masya Allah!

Pembaca yang budiman, mari kita melakukan introspeksi diri, sudahkan kita menjadi sosok yang important tapi juga nice? Bila belum mari kita lengkapi kepribadian kita dengan kemuliaan akhlak pada sesama muslim. Simpel.

  • Ucapkanlah salam atau jawab salam pada sesama
  • Pandang wajah saudara kita dengan senyum ikhlas dan terbaik padanya
  • Genggam erat tangannya saat berjabat tangan
  • Hormati yang tua
  • Sayangi yang muda
  • dsb.

Sayang bila kepandaian kita tidak dibalut dengan keluhuran pribadi. Apalagi sudahlah tidak important, tidak nice pula, dakwahnya juga impoten alias tak rajin.  Musibah, musibah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.