Minder Fever

headinsandSemua orang di dunia tahu bahwa Indonesia adalah negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Muslim Indonesia di dunia, pada tahun 2010 menempati presentase terbesar dari total total muslim di dunia menurut mapsofworld.com. Sekitar 13,1 persen. (ini link-nya http://www.mapsofworld.com/world-top-ten/world-top-ten-countries-with-largest-muslim-populations-map.html). Di tanah air, populasi muslim kurang lebih 80 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Lantas berdayakah kita? Sayangnya belum.

Salah satu penyebabnya kita mengalami syndrom minderwag, atau minder fever.  Mayoritas tapi tidak percaya diri. Kita kurang percaya diri dengan identitas keislaman kita sendiri. Kita lebih senang menjadi ‘sosok yang lain’ ketimbang sebagai muslim. Lebih ingin dikenal sebagai orang Indonesia ketimbang sebagai muslim. Lebih ingin dikenal sebagai orang parpol ketimbang sebagai muslim.

Bukan itu saja, kita lebih memilih menyenangkan ‘orang lain’ ketimbang saudara sendiri. Repotnya ini banyak dialami pejabat dan politisi muslim. Ada kejadian yang baru saja diceritakan kawan saya, seorang syabab dakwah. Pada Desember lalu, usai menyampaikan khutbah berisi fatwa MUI tentang larangan menghadiri dan mengucapkan selamat hari raya kalangan bukan muslim, sang khatib Jumat dimarahi habis-habisan oleh tetangganya yang bukan muslim. Tuduhan intoleran sudah pasti.

Celakanya, tokoh masyarakat yang juga muslim justru ikutan menegur sang khatib. Barulah setelah rekan saya ini menyampaikan protes keras, warga juga ikutan menyatakan kemuliaan mereka sebagai muslim. Sang tokoh menjadi keder hingga akhirnya berusaha meredam gejolak itu. selidik punya selidik, sang tokoh merasa tidak enak dengan warga nonmuslim karena sering dihutangi budi olehnya. Jadi ia perlu merasa ‘sehati’ dengannya. Gubrak!

Tapi saya melihat bukan saja tokoh kelas kampung yang mengalami minder fever semacam itu. Di tingkat nasional hal seperti itu juga terjadi. Para capres ramai-ramai ikut mengucapkan selamat hari raya kepada kalangan nonmuslim, ada juga yang ikutan hadir dan ikut bernyanyi lagu rohani. Pokoknya, kalau tidak seperti itu seolah tidak sah menjadi capres. Ada perasaan minder bila menampilkan keislaman.

Maka saya juga geleng-geleng kepala membaca berita seorang petinggi parpol gelagapan dicecar akademisi.  Bukan dicecar karena platform perjuangan Islam, tapi karena parpol yang dipimpinnya justru dianggap mengusung gagasan neoliberal, pro-Amerika. Sampai akhirnya seorang akademisi lain menyebut parpol beliau ‘tidak Islami’. Mudah-mudahan ada pembelaan yang Islami dari para politisi parpol tersebut agar perjuangan ini senantiasa hanif.

Orang lain akan merasa heran ketika kita yang muslim  — apalagi yang menyatakan diri berjuang untuk Islam – minder menyuarakan Islam. Kita meneriakkan Islam di belakang panggung perjuangan. Sedangkan di atas panggung kita meneriakkan demokrasi, toleransi, pluralisme dan humanisme. Mengapa itu dilakukan? Karena kita berharap orang lain akan bersimpati dan mendukung langkah kita. Hasilnya? Orang lain justru keheranan dan kita sendiri merasa galau karena seperti ‘mengkhianati’ platform Ilahi.

Ketika Eropa meninggalkan injil dan ajaran Kristen, mereka maju pesat. Tapi ketika umat Islam meninggalkan al-Quran dan syariat Islam, mereka akan tenggelam dan gelagapan. Itulah yang dipertontonkan di panggung politik dan peradaban hari ini. Saat umat mulai mengalami minder fever dengan keislamannya sendiri, kita hancur.

Mari kita sudahi kegamangan dan keminderan ini. Bulatkan tekad, mantapkan keyakinan sebagai muslim. Tampilkan Islam luar-dalam. Di atas maupun di belakang layar. Semuanya full Islam. Dan Allah pun menjanjikan ketakutan, kegalauan akan sirna berganti kemenangan.

 Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS. Fushshilat: 30)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *