Memperdaya Bangsa Mellodramatic

Wolf-in-sheep-Di antara materi halaqoh yang menarik bagi saya adalah saat mengupas esensi kepribadian. Personality atau syakhsiyyah tidak ada sangkut pautnya dengan penampilan faisik dan asesoris seseorang. Suatu hal yang penting untuk dipahami karena dalam kehidupan kita sering dikecoh dengan penampilan fisik seseorang. Cantik tapi penipu, ganteng tapi serigala (ups ini judul sinetron), atau glamor padahal kere dan hutang dimana-mana.

Kepribadian juga mesti dilihat secara holistik. Bukan hanya sebahagian sisi kehidupan seseorang. Ia amat ditentukan oleh pola pikir dan pola sikap seseorang. Pola pikir adalah cara seseorang menilai sesuatu berlandaskan satu atau beberapa asas kehidupan. Sementara pola sikap adalah cara seseorang memenuhi kebutuhan hidupnya – jasmani atau naluri – berdasarkan satu atau sejumlah asas kehidupan.

Seseorang dikatakan memiliki pribadi yang ajeg, integral, manakala pola pikir dan pola sikapnya sinkron pada satu landasan kehidupan. Maka kehati-hatian menjadi penting manakala menilai apakah seseorang itu baik secara keseluruhan ataukah hanya pada bagian tertentu saja.

Kita seringkali terlalu mudah melabeli seseorang itu ‘baik’ atau ‘jahat’ hanya karena sebagian sikapnya belaka. Misalnya, orang sering terkecoh dengan pemberitaan media massa sekuler bahwa mujahidin itu kejam, karena disorot sering menenteng senjata (lha kan lagi di medan perang! Kalo sedang di pasar mungkin manggul pikulan sayur!), berjenggot lebat, celana cingkrang. Lengkap sudah profil mujahidin digambarkan kasar dan barbar.

Padahal ketika Meutya Hafid saat masih menjadi jurnalis Metro TV bertugas ke Irak lalu ditawan pasukan mujahidin. Ia tidak mengalami tindak kekerasan sama sekali. Jangankan dilecehkan, seujung kukupun ia tidak dianiaya. Bandingkan dengan pasukan AS yang menginvasi Irak. Serangkaian kejahatan barbar kerap mereka lakukan; menembaki remaja dan orang tua, dan melakukan pemerkosaan terhadap kaum wanita. Tapi hampir tak ada yang mengutuk kedatangan tentara asing ke Irak maupun Pakistan dan Afghanistan.

Untuk urusan menilai kepribadian, ada satu karakter yang begitu disukai dan mudah mengundang simpati orang Indonesia; karakter mellodramatic. Karakter-karakter macam itu banyak bermunculan di drama dan film-film Indonesia. Mulai dari Ratapan Anak Tiri sampai Emak Ingin Naik Haji. Figur sentralnya dominan berkarakter seperti itu. Semakin mengenaskan, semakin dicintai publik. Sampai-sampai dunia perfilman Indonesia punya satu aktor bernama Agus Melasz, karena tampangnya yang memelas.

Celakanya, hal ini juga terjadi di dunia politik. Publik Indonesia juga gampang jatuh hati pada figur semacam itu. Parpol dan politisi yang sering dicela, dihujat, dan dihina – meskipun sebenarnya dia layak dihujat – justru semakin digandrungi, elektabilitasnya semakin naik.

PDIP dan Megawati naik pamor pasca reformasi karena posisinya dianiaya rezim Orde Baru. Selain itu ia Megawati memang tampil seperti ibu-ibu kebanyakan, membuat simpati publik meningkat. Berikutnya SBY bisa mengalahkan Megawati dan PDIP karena publik melihat ia disingkirkan oleh Presiden Megawati. Berikutnya Jokowi mengalahkan Prabowo karena tampilannya yang bersahaja, merakyat karena gemar blusukan, dan juga sering dihujat parpol-parpol Islam.

Maka sejahat dan sebejat apapun seorang politisi tapi ia bisa meyakinkan khalayak dengan gaya memelas, polos, lugu, bersahaja — meski mungkin uangnya banyak –, elektabilitasnya bisa tinggi. Apalagi bila dibantu pencitraan lewat media massa bayaran semakin lengkaplah citra baik dirinya.

Saya jadi ingat tokoh Vito Corleone dalam film God Father. Tokoh yang diperankan Marlon Brando ini tampil tenang, tidak beringas dan kebapakan, meski ia sebenarnya seorang God Father. Gembong mafia. Tapi penonton bisa begitu bersimpati dan jatuh cinta kepadanya. Apalagi di penghujung hidupnya digambarkan Vito meninggal terkena serangan jantung saat bermain-main dengan cucunya. godfather

Tidak lagi terpikir oleh penonton bahwa seorang tokoh mafia pasti menjalankan berbagai operasi kejahatan tingkat tinggi seperti penyelundupan, penyuapan juga pembunuhan. Tapi semua tertutup oleh karakter mellowdramatic Vito Corleone.

Hari ini, banyak rakyat Indonesia yang bingung, kecewa dan marah pada kepemimpinan rezim Jokowi. Ia yang digadang-gadang akan banyak berpihak pada rakyat, antikorupsi, tidak suka bagi-bagi jatah kekuasaan, justru mulai menjilat ludahnya sendiri. Subsidi BBM dan LPG 12 kg dikurangi, harga LPG 3 kg merangkak naik, jabatan menterinya dan sejumlah pejabat negara adalah orang partai pendukungnya, dan terakhir keukeuh mencalonkan Budi Gunawan sebagai calon kapolri meski KPK sudah menetapkannya sebagai tersangka.

Kesahajaannya, sikap merakyatnya, dan penampilannya yang mellodramatic perlahan mulai pudar di mata sebagian pendukungnya berganti keraguan dan kebimbangan.

Tinggal kini publik harus membayar harga kekeliruan menilai kepribadian calon pemimpin. Mungkin sampai 5 tahun ke depan akan terus membayar kesalahan ini. Masih untung bila tak semakin memburuk.

Seharusnya ini menjadi pelajaran berharga untuk tidak menilai pribadi seseorang sebagian saja. Lihatlah pola pikir dan pola sikapnya secara utuh. Lebih pokok lagi, lihat apa asas kehidupannya; Islam atau sekuler. Selama bukan Islam yang dipilihnya, maka selama itu pula tak bisa dipegang kepribadiannya.

Banyak orang menampilkan kebaikan, kesahajaan, tapi bukan karena dorongan iman. Semata karena kebiasaan atau mungkin ingin mengambil keuntungan dari perbuatan baik yang ia kerjakan. Inilah yang diingatkan oleh Nabi saw. kepada kita semua:

أخوف ما أخاف عليكم جدال المنافق عليم اللسان

Yang aku paling takuti atas kalian adalah perkataan orang munafik yang alim perkataannya. (HR. Ibnu Hibban)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *