Jiwa Fragile Anak Kita

fragileRangga, remaja belasan tahun penggemar komik Jepang (manga) dan film horor itu bunuh diri. Broken home karena orang tua bercerai, hidup bersama neneknya yang sudah tua dan tantenya yang juga sibuk mengurus keluarganya sendiri. Hidup Rangga sampai pada satu momen ia merasa harus menghentikan semua ini. Sayang, jalan bunuh diri yang ia ambil.

Rangga tidak sendiri. KPAI mengungkapkan data bahwa pada tahun 2014 terdapat 89 kasus bunuh diri anak-anak, dan kecenderungannya terus meningkat. Lebih memprihatinkan lagi adalah “Sembilan anak itu di usia rentan lima sampai 10 tahun. Sementara 12 hingga 15 tahun ada 39 kasus. Lalu 15 tahun ada 27 kasus,” ungkap Arist Merdeka Sirait dari KPAI.
Siapapun yang bunuh diri pastinya tengah dihinggapi persoalan hidup. Termasuk anak-anak. Tapi masalah pada anak sebenarnya masalah yang diciptakan oleh orang dewasa. Karena jiwa anak masih polos, masih berpikir ‘lurus’, tak ada cabang persoalan dalam hidup mereka. Kitalah orang tua, orang dewasa, yang menciptakan berbagai persoalan dalam hidup anak-anak kita. Dalam tumbuh kembang jiwa anak selalu berlaku; tak ada anak bermasalah, tapi orang tuanyalah yang bermasalah.

Persoalan paling klasik, simpel tapi terus berulang-ulang adalah kurang kasih sayang dari orang tua. Dalam kasus Rangga ia harus menghadapi kenyataan kedua orang tuanya bercerai. Lebih pahit lagi ia justru tidak hidup bersama salah satu dari mereka, tapi justru dengan nenek dan tantenya yang sama-sama kesulitan mengasuhnya. Maka darimana ia mendapatkan kasih sayang?

Orang dewasa umumnya tahu bahwa perhatian dan kasih sayang adalah kebutuhan urgen setiap anak, tapi tidak semua orang dewasa tahu “bagaimana cara melakukannya”. Orang tua yang supersibuk, bekerja atau berdakwah hingga mengabaikan perhatian pada anak, juga tahu dan bisa berkata ‘I love you my son!’, tapi mereka tidak tahu apa yang mereka katakan seringkali tidaklah simetris dengan apa yang mereka lakukan.
Anak-anak tidak membutuhkan teori yang rumit agar kepribadian mereka matang dan kokoh. Mereka hanya butuh bukti kasih sayang dan perhatian. Saat orang tua mengajarkan bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, maka kedua orang tua semestinya menjadi cerminan betapa pengasih dan penyayangnya Allah.

Anak tidak sepenuhnya paham mengapa ayah mereka harus berangkat bekerja di pagi buta dan pulang malam. Mereka senang dapat uang jajan banyak, mainan dan baju baru, tapi mereka lebih tersentuh bila ayah mereka memeluk, memuji, tidak membentak tapi mengajari mereka.
Anak tidak sepenuhnya paham mengapa bundanya harus mengaji dan berdakwah setiap hari. Mereka tahu Allah sayang pada orang yang berdakwah, tapi mereka merasa lebih dekat lagi dengan bundanya bila mau mendampingi mereka belajar, makan bersama, atau membimbing mereka membaca al-Quran dengan sabar.

Sayang, orang dewasa macam kita bisa begitu egois terhadap anak. Kita meminta agar anak memahami kesibukan kita, tanpa kita mau mengerti dunia mereka. Begitupula banyak orang tua yang fokus pada permasalah anak, tapi lupa bahwa sebenarnya merekalah yang bermasalah dan menciptakan masalah.

Sebagai orang dewasa, mari kita bertanya; bagaimana perasaan Anda bila tidak diperhatikan orang lain? Pasti merasa tidak berharga, kesepian dan sedih. Bila Anda sebagai orang dewasa merasakan seperti itu apalagi anak-anak kita. Jiwa mereka lebih rapuh. So fragile.
Hati-hati, bila kita mengabaikan hal ini – siapapun kita, apakah pebisnis, pekerja keras, pedakwah, dll –, maka akan datang satu momen dimana jiwa gelas anak-anak itu akan retak. Kemudian retakan itu akan memanjang dan lebar belahannya hingga akhirnya pecah. Pada saat itu, tidak mudah untuk menyatukan kepingan-kepingan jiwa anak-anak kita.

مَنْ لا يَرْحَمْ مَنْ فِي الأَرْضِ لا يَرْحَمُهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Siapa yang tidak menyayangi yang di bumi, maka yang di langit (Allah Ta’ala) tidak akan menyayanginya.”(HR. Thabrani).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.