Charlie Hebdo dan Mario Balotelli

Charlie Hebdo adalah icon kebebasan berpendapat. Lebih dari itu, Charlie Hebdo adalah simbol perlawanan terhadap agama. Karenanya, memperlakukan agama sehina apapun, publik dunia, khususnya pemerintah Prancis tetap akan membela Charlie Hebdo. Karena, menurut penganut liberalisme tulen, segala sesuatu yang menghalangi kebebasan harus dilawan. Bagi kaum liberalis, penghambat utama kebebasan adalah agama.

Tidak usah heran bila salah satu bidang garapan serius Charlie Hebdo adalah melecehkan agama. Bukan saja terhadap Islam tapi juga Kristen. Agama utama di Eropa. Dengan cueknya majalah itu menurunkan berbagai karikatur satir Yesus. Termasuk yang paling menjijikkan menggambarkan Yesus mempraktekkan sodomi.

Tapi lain Cbaloteli antisemitharlie Hebdo lain Mario Baloteli. Pesepakbola asal Italia yang kini merumput di liga Inggris dikecam keras oleh publik karena dianggap menyebarkan ajaran antisemit alias anti-Yahudi. Dalam akun instagram-nya Baloteli menunggah gambar tokoh kartun Mario Bross disertai komentar; ..and grab coins like Jew.

Hanya gara-gara itu pesepakbola bengal ini digerudug banyak hujatan dan disebut antisemit. Sampai akhirnya ia meminta maaf dan mengatakan; “my mom is jewish so al of u shut up please!”

Jadi?

Kebebasan mutlak itu absurd. Hanya pengidap katarsis yang mengatakan ide kebebasan itu riil. Tapi siapa saja yang berpikir waras sebenarnya bisa melihat bahwa ide kebebasan itu adalah sesuatu yang absurd. Kebebasan itu kacau dan tidak sepenuhnya ada dalam kehidupan.

Bila kebebasan berpendapat itu benar dan harus diperjuangkan, mengapa mesti ada pasal “pencemaran nama baik”? Apakah kehormatan itu hanya berlaku bagi individu saja, tapi tidak untuk agama, apalagi agama Islam? Mengapa di Eropa dan AS orang yang mengkritik kebenaran kisah holocaust, menghujat keserakahan kaum Yahudi justru bisa dipidanakan? Dimana letak kebebasannya?

Bila kebebasan itu riil, lalu mengapa ada larangan membangun kubah mesjid bahkan melarang pembangunan mesjid di beberapa negera Eropa? Pemerintah Prancis membela Charlie Hebdo atas nama kebebasan berbicara, tapi tidak memberikannya kepada para muslimah yang ingin memakai niqab. Berniqab justru dimasukkan ke dalam tindak kriminal di Prancis. Lalu dimana letak kebebasannya?Franceveil

Bila kebebasan itu nyata, termasuk kebebasan seksual, apakah para penganjurnya tidak akan marah saat kekasihnya atau istrinya berselingkuh? Atau anak gadisnya digilir banyak lelaki? Beranikah mereka membiarkan hal itu terjadi?

Bila kebebasan itu benar, lalu orang bebas memiliki apa saja, lalu mengapa mesti ada aturan copyright yang diberlakukan di seluruh dunia? Orang yang melanggarnya bisa di seret ke pengadilan?

Bila kebebasan itu benar, mengapa dunia bungkam ketika menyaksikan hingga hari ini AS mengangkangi, menjajah Irak dan Afghanistan, serta membunuhi jutaan warga sipil tak berdosa? Apakah itu namanya kebebasan?

Maka kebebasan itu adalah ide abal-abal kaum hipokrit. Ia hanya diberlakukan untuk keuntungan segelintir negara, korporat dan orang tertentu saja. Lebih-lebih liberalisme itu diberlakukan untuk menyerang ajaran agama Islam.

tokoh dunia munafik

Hanya saja orang-orang yang berdiri membelanya selalu merasa benar meski mereka sebenarnya tak pernah mengerjakan apa yang mereka yakini. Bahkan mereka pun akan tersungkur karena paham rusak ini. Benarlah firman Allah Ta’ala:

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (QS. Al-Mulk: 22)

Saatnya kaum muslimin memperlihatkan kemuliaan agama mereka, keadilan syariat Islam dan ketegasan kepemimpinannya. Umat justru jangan terbawa dengan hiruk pikuk opini media massa sekuler yang menyuarakan kebebasan atau liberalisme. Ide itu sudah nyata pemikiran abal-abal yang penuh dusta dan kemunafikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.