Maukah Anda Semulia Imam Ahmad Bin Hanbal, Wahai Orang Yang Mengaku Alim?

stylograph-pen-with-red-ink-drops-mats-silvanAh, andai tidak ada orang alim seperti Imam Ahmad bin Hanbal, niscaya umat berada dalam kegelapan. Terpuruk dalam paham bid’ah dan sesat Mu’tazilah yang menistakan al-Qur’an dengan mengatakannya sebagai mahluk, bukan kalamullah yang agung.

 

 

Adalah perpaduan kealiman dan keberanian serta ketegaran seorang Imam Ahmad bin Hanbal yang telah menyelamatkan umat ini dari cengkraman keji kaum Mu’tazilah.

Kala itu, umat tertimpa fitnah besar. Bermunculan para mulkan adlan (penguasa zalim) sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah saw. Di antaranya datang dari keluarga Abbasiyyah, keturunan Khalifah Harun ar-Rasyid. Di masa itu Khalifah al-Makmun tergelincir dari aqidah yang lurus karena pengaruh kelompok Mu’tazilah pimpinan Bisyr al-Muraisi. Padahal di masa Harun ar-Rasyid berkuasa – ayah dari Khalifah al-Makmun – Bisyr dan pengikutnya diburu dan diperangi oleh kekhilafahan.

Mengapa kaum Mu’tazilah ini bisa menyusup ke dalam kekhilafahan? Ini dikarenakan sepeninggal ayahnya, al-Makmun terjebak menggandrungi ilmu kalam sehingga mengagumi pemikiran-pemikiran kelompok Mu’tazilah. Al-Makmun juga terpengaruh oleh tokoh-tokoh Mu’tazilah lain seperti Abul Hudzail al-‘Allaf, Tsumamah bin Asyras, dll.

Selain itu kelompok Mu’tazilah ini selalu menjilat kepentingan Khalifah al-Makmun. Mereka tidak pernah menentangnya dan selalu mendukungnya. Sehingga membuat al-Makmun percaya kepada mereka.

Sehingga mengkristallah akidah Mu’tazilah dalam benak Khalifah al-Makmun. Sampai pada puncaknya ia meyakini bahwa al-Quran adalah mahluk, dan ia memaksakan pendapatnya kepada umat Islam dengan jalan kekerasan dan intimidasi.

Ujian beratpun menimpa umat, khususnya para alim ulama. Pada tahap awal Khalifah al-Makmun menggeser semua ulama fiqih dan hadits yang tidak sepaham dengan Mu’tazilah dari jabatan pemerintahan dan menolak kesaksian mereka di pengadilan. Al-Makmun memerintahkan bawahannya untuk menguji keyakinan para ulama terhadap akidah Mu’tazilah. Siapa yang berbeda pendapat dan menentang maka disingkirkan.

Langkah kedua, Khalifah al-Makmun mencabut semua bantuan keuangan untuk para guru yang berbeda pendapat dan menentang pendapat Mu’tazilah. Langkah ketiga, adalah menangkapi para ulama yang membangkang. Mereka diborgol dan dirantai, dimasukkan ke dalam penjara pengap. Terakhir, yang paling berat, Khalifah al-Makmun atas hasutan kaum Mu’tazilah memerintahkan hukuman pancung bagi para ulama yang menentangnya.

Atas perintah al-Makmun, pejabat kekhilafahan yang bernama Ishaq bin Ibrahim mengumpulkan semua ulama di kota Baghdad. Kepada mereka diajukan pertanyaan tentang hakikat al-Quran. Di sini terjadi perdebatan sengit antara sejumlah ulama yang menentang pendapat Mu’tazilah. Imam Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Nuh dan Abdullah al-Guwariri termasuk yang paling keras menentang pendapat yang diusung khalifah.

Para penulis tarikh mencatat sebenarnya Imam Ahmad bin Hanbal adalah orang yang lembut dan santun. Tetapi ketika kepadanya dilontarkan paham yang batil dan kufur, beliau seperti kehilangan perangai lembutnya. Matanya memerah dan amarahnya meluap karena membela kemuliaan agama Allah.

Di sini terlihat keberanian dan ketegasan para ulama dalam menentang kemungkaran yang dilakukan penguasa, sekalipun itu penguasa muslim yang sah. Mereka melakukannya di muka umum dengan tanpa canggung. Ketika sebagian alim pada masa itu memilih berdiam diri, tenggelam di majlis-majlis mereka, pura-pura tidak tahu, Imam Ahmad bin Hanbal mengambil sikap terbaik menurut agama. Beliau tidak bermanis muka atau berdiam diri menghadapi kemungkaran ini.

Imam Ahmad menanggung akibat keberaniannya. Bersama sejumlah ulama ia dijebloskan ke dalam penjara. Bukan hanya itu, para ulama itu pun disiksa dengan cambukan bertubi-tubi, hingga akhirnya hanya tersisa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh.

Penderitaan yang dialami mereka berdua belum usai, bahkan semakin meningkat. Ishaq mengirim surat kepada Khalifah al-Makmun ihwal pembangkangan mereka berdua. Al-Makmun yang mendengar ada yang menentangnya murka. Ia meminta agar keduanya dikirim ke Tarsus dalam keadaan terbelenggu. Ia bersumpah akan menghukum mati keduanya dengan tangannya sendiri. Bahkan ia menyiapkan pedang terhunus di singgasananya untuk menghabisi Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh.

Dalam perjalanan menuju Tarsus, Allah menguatkan keyakinan Imam Ahmad bin Hanbal. Di tepi Sungai Eufrat, kawasan bernama Rahbah. Seorang lelaki muslim Badui mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Ahmad! Jika kebenaran membuatmu terbunuh maka engkau mati sebagai syahid. Dan jik aengkau tetap hidup maka engkau hidup mulia. Tidak masalah apabila engkau harus terbunuh di sini, engkau akan masuk surga.” Imam Ahmad merasa semakin yakin dengan perkataan tersebut.

Ketika rombongan beristirahat di tempat persinggahan jalur para musafir, Imam Ahmad bertemu dengan sahabat lamanya Abu Ja’far al-Anbari . Ia sengaja menyeberangi sungat Eufrat untuk memberikan tausiyah kepadanya. Imam Ahmad merasa terharu dengan kedatangannya dan berkata, “Wahai Abu Ja’far, engkau menyusahkan dirimu sendiri.”

Abu Ja’far menjawab, “Dengarlah, engkau sekarang adalah kepala (bagi umat) sementara masyarakat mengekor kepadamu. Maka demi Allah, jika engkau mengatakan bahwa al-Quran adalah mahluk niscaya semua orang menyatakan hal serupa. Namun apabila engkau tidak mengakuinya, maka orang-orang juga tidak akan melakukannya. Lagipula jika engkau tidak dibunuh, toh kelak engkau pasti mati juga. Kematian itu pasti, maka bertakwalah kepada Allah jangan turuti (kemauan kaum Mu’tazilah)!”

Imam Ahmad menangis mendengar perkataan sahabatnya. Dalam perjalanan menuju Tarsus, beliau melaksanakan shalat malam serta berdoa kepada Allah agar tidak dipertemukan dengan al-Makmun selama-lamanya. Allah menjawab doa Imam Ahmad. Pada bulan Rajab 218 H, sebelum Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh tiba di Tarsus, Khalifah al-Makmun meninggal secara tiba-tiba.

Tapi penderitaan Imam Ahmad bin Hanbal tidak berhenti di situ. Pengganti al-Makmun, yaitu Khalifah al-Mutashim tetap berlaku kejam kepada beliau. Sebelumnya ia mendatangkan tokoh-tokoh Mu’tazilah untuk meruntuhkan hujjah Imam Ahmad. Tapi bi idznillah, semua tokoh Mu’tazilah berhasil dikalahkan dalam perdebatan tersebut. Perdebatan itu disaksikan Khalifah al-Mu’tashim, para gubernur, pejabat negara dan para algojo. Perdebatan itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut di bulan Ramadhan.

Al-Mu’tashim yang merasa lelah dengan perdebatan tersebut termakan hasutan dari tokoh-tokoh Mu’tazilah. Ia lalu memerintahkan penyiksaan kepada Imam Ahmad. Seluruh algojonya diperintahkan untuk mencambuki beliau hingga punggungnya terkoyak. Tapi sedikitpun siksaan itu tidak membuat sang Imam goyah. Hingga akhirnya beliau dipenjara selama 27 bulan di rentang tahun 218-221 H.

Imam Ahmad akhirnya dibebaskan oleh Khalifah al-Mu’tashim karena khawatir terjadi pemberontakan terhadap dirinya. Setelah keluar dari penjara, Imam Ahmad membutuhkan waktu lama untuk memulihkan luka-lukanya.

Namun fitnah dan ujian terus terjadi. Pengganti al-Mutashim yakni Khalifah al-Watsiq juga masih mengikuti pendapat kaum Mu’tazilah. Ini membuat Imam Ahmad merasa tidak aman, apalagi kemudian terjadi pemberontakan menentang khalifah meski berhasil dipadamkan. Akan tetapi Imam Ahmad justru menjadi sasaran kemarahan Khalifah al-Watsiq. Hingga akhirnya beliau harus melarikan diri dan berpindah-pindah tempat menghindari kejaran pasukan al-Watsiq.

Nasib umat Islam dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah baru tertolong saat Khalifah al-Mutawakkil naik tahta menggantikan al-Watsiq. Khalifah baru ini mengikuti manhaj Rasulullah saw. Ia memberangus para ahli bid’ah dan tokoh-tokoh Mu’tazilah.

Di masa al-Mutawakkil, Imam Ahmad diberi banyak uang dan ditawarkan jabatan di kekhilafahan, tetapi beliau menolaknya. Sepeserpun ia tak berminat mengambil harta pemberian khalifah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah tidak mau masuk rumahnya. Hal itu setelah ia tahu kalau anaknya yang bernama Abdullah menerima bantuan dari pemerintah untuk memugar rumah beliau. Begitu pun ketika beliau sakit. Ulama penulis kitab Al-Musnad ini tidak mau mencicipi bubur dari anaknya yang bernama Shaleh, setelah ia tahu kalau anaknya menerima uang bantuan dari pemerintah.

Imam Ahmad merasa bahwa ketika seorang ulama sudah sering mendapatkan pemberian dari pemerintah maka akan menodai integritasnya di hadapan Allah SWT.

****

Keberanian dan keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal telah menyelamatkan umat dari kesesatan. “Seandainya bukan karena ats-Tsauri tentulah sifat wara’ sudah lenyap. Dan seandainya kalau bukan karena Imam Ahmad bin Hanbal tentulah umat sudah membuat hal-hal (bid’ah) dalam agama. Ahmad adalah imam dunia,” sanjung Imam Qutaybah.

Duh, hari ini umat kehilangan sikap teguh dan berani dari seorang Ahmad bin Hanbal. Beliau tak pernah berhenti hingga agama ini dapat ditegakkan dan umat dapat diselesaikan. Imam Ahmad bin Hanbal tidak berlindung dibalik tumpukan kitab ketika menghadapi ancaman kaum Mu’tazilah dan penguasa yang mendukungnya. Walaupun bisa saja beliau berdalih bahwa mendalami ilmu agama lebih utama ketimbang meluruskan kesalahan penguasa.

Andaikan mau beliau pasti bisa mengeluarkan dalil untuk membenarkan sikap diam duduk di majlis dengan tenang bersama para murid-muridnya. Akan tetapi bersama para ulama lain yang ikhlas, beliau menghadang kebatilan dan berusaha menghentikannya.

Para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal tidak akan pernah berdiam diri membiarkan penguasa dengan sikap keji mereka. Imam Ahmad paham bila penguasa dibiarkan menegakkan kebatilan maka akan berdampak serius kepada umat. Beliau sadar bahwa nasib umat ditentukan oleh umara’, dan yang bisa meluruskan umara hanyalah para ulama.

Bila ulama telah berdiam diri, memilih tenggelam dalam majlis ilmu tapi melupakan nasib umat yang tenggelam dalam lumpur kebatilan, bagaimana nasib umat selanjutnya? Imam Imam Ahmad bin Hanbal – Rahimahullah – berkata: “Jika orang alim terus berdiam diri dan berpura-pura sedangkan orang yang bodoh masih saja bodoh, maka kapankah kebenaran akan tegak?”

Hari ini, Indonesia dicengkram neoliberalisme dan imperialisme. Seluruh tatanan kehidupan umat telah dirusak. Dari masalah akhlak hingga akidah. Neoliberalisme telah menyuburkan perzinaan dan kejahatan lainnya. Sistem ekonomi berlumur riba dianggap jamak, sedangkan kekufuran dan kesesatan dipandang sebagai hak asasi manusia. Maka umat membutuhkan para ulama berani seperti Imam Ahmad bin Hanbal untuk meluruskan semua itu.

Imam Ahmad bin Hanbal sudah berdiri di hadapan penguasa dan pendukung mereka untuk mengoreksi kebatilan mereka, maka sekarang adalah amanah itu ada di pundak para ulama hari ini. Dahulu Imam Ahmad tidak hanya mengurusi masalah bid’ah dalam ibadah, atau perbuatan syirik dan khurafat yang dilakukan warga biasa, tapi menentang penguasa yang melegalkan dan memberlakukan hal itu.

Neoliberalisme dan imperialisme tidak kalah beracunnya dengan akidah Mu’tazilah yang dulu ditentang Imam Ahmad. Bahkan karena ideologi neoliberalisme berbagai ajaran sesat dan menyimpang terus berkembang. Ahmadiyah, LDII, Syi’ah Rafidhah, Lia Eden dipertahankan dengan nama kebebasan beragama. Kekayaan alam negeri juga dijarah oleh kaum imperialis dan hanya menyisakan sedikit untuk umat.

Lisan dan pikiran ulama-lah yang dapat menyelamatkan umat dan meluruskan kebatilan neoliberalisme yang kini disyariatkan oleh para penguasa. Hal itulah yang disadari oleh Imam Ahmad bin Hanbal, maka ia tidak pernah merasa nyaman sampai bisa berdiri menghapuskan pemikiran yang membahayakan umat.

Sejujurnya, kita merindukan para ulama sejati. Alim dalam keilmuan, kaya dalam amal, dan berani menentang kebatilan. Seorang alim yang siap menjadi martir untuk menyelamatkan umat. Seorang alim yang tidak egois hanya memikirkan kepentingan kelompoknya dan murid-muridnya dengan dalih mengajarkan agama, tapi membiarkan umat dihantam tatanan kehidupan yang merusak.

Sekarang kesempatan itu ada pada kaum ulama hari ini. Apakah mereka mau mengambil kemuliaan yang dulu pernah direngkuh pendahulu mereka, Imam Ahmad bin Hanbal? Ataukah berdiam diri di barisan yang membisu dari menyampaikan kebenaran.

Imam Ahmad telah menunjukkan kemuliaan dirinya, dan umat berhutang budi kepadanya. Hari ini kita ingin berhutang budi lagi kepada para penerus beliau, lalu adakah yang mau mengambil kemuliaan tersebut?

 

2 Comments

rahmat balikpapan

`Afwan Ustadz, boleh tahu rujukan kitab dari artikel yg ustad susun ini?

Reply
Iwan Januar

Banyak, akhi. Bisa dilihat dari berbagai biografi para ulama salaf. Sudah banyak kitab Arab maupun terjemahan yang beredar di toko-toko.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.