Keluarga Muslim & Ancaman LGBT

Baru saja masyarakat Indonesia dibuat terkejut dengan penolakan MK terhadap uji materi UU terkait LGBT dan perzinaan. Lima hakim MK menolak pengajuan kalau perbuatan LGBT dan perzinaan dapat dipidanakan.

Penolakan ini menambah keprihatinan kaum muslimin yang cinta agamanya, khususnya keluarga-keluarga muslim. Para hakim MK yang menolak gugatan itu tentu berpikir dengan logika hukum yang berlaku hari ini. Selain UU yang ada sudah dianggap memadai, LGBT dan hubungan seksual diluar nikah dipandang sebagai tindakan pribadi yang sah.

Saya tak akan membahas lika-liku hukum hari ini yang njlimet, tapi saya ingin mengingatkan setiap keluarga muslim kalau anak-anak kita tak aman dari intaian kaum LGBT dan perilaku penyimpangan seksual lainnya. Ada beberapa poin yang ingin saya bahas di sini;

Pertama, LGBT dan zina adalah ancaman. Sekedar mengulangi pembahasan, LGBT itu bukan sekedar diharamkan oleh agama tapi juga ancaman bagi kemanusiaan. Ya, selain jelas haram di mata Allah SWT., perilaku gay dan lesbian mengancam kemanusiaan. Penyebaran penyakit kelamin HIV/AIDS sampai hari ini banyak ditimbulkan dari perilaku gay. Belum lagi penyakit kanker anus akibat hubungan seks lewat anal yang dipraktekkan kaum homo. Di sisi lain, perilaku gay dan lesbian bila dilestarikan maka menjadi faktor penghambat laju pertambahan penduduk. Bukankah pasangan seperti itu menghilangkan potensi reproduksi pada manusia, karena memang reproduksia hanya bisa dilakukan oleh pasangan pria-wanita?

Kedua, kaum gay dan lesbian ini senantiasa membidik orang-orang baru untuk dijadikan partner mereka, terutama dari kalangan remaja dan anak muda. Kaum muda yang senang mencari kawan, meluaskan pergaulan, dan having fun jadi sasaran empuk kaum gay dan lesbian. Dengan ajakan party, disodori video porno hubungan sejenis sebagai stimulan sampai diajak hubungan intim atau diperkosa. Tidak sedikit juga yang mau melayani kebutuhan kaum gay karena bujukan materi. Ponsel baru, baju keren, dan segala gaya hidup dijamin oleh pelaku.

Ketiga, Awasi pergaulan anak-anak kita. Anak-anak muda juga bisa menjadi gay karena tidak paham batasan pergaulan sesama jenis. Mandi bareng, berbikini bersama, tidur satu kasur dan satu selimut, semua bisa menjadi stimulan yang mendorong remaja kita menjalin hubungan sesama jenis. Saya pernah membaca satu artikel konsultasi tentang sekumpulan remaja cowok yang menginap di satu rumah kawan mereka, lalu ramai-ramai mereka melakukan hubungan anal bergantian.

Keempat, kuatkan komitmen keislaman kita. Tidak sedikit keluarga – dalam hal ini orang tua – yang runtuh keimanan mereka ketika mendapati kenyataan anak mereka menjadi LGBT. Di sebuah artikel yang tersebar luas di dunia maya, ada seorang ibu yang akhirnya menerima pasrah anak lelakinya menjadi gay. Sang anak berjanji pada ibunya ia akan tetap jadi anak baik, tidak berbuat kriminal dan rajin ibadah. Ibunya, entah bagaimana, pasrah menerima kenyataan ini.

Gay dan lesbian, sebagaimana pernah saya tulis di situs ini, bukanlah faktor genetis. Ia adalah perbuatan menyimpang yang dipilih oleh pelakunya. Hanya saja sebagian dari mereka beralasan kalau mereka memiliki kecenderungan suka pada sesama jenis sejak kecil. Lebih senang bergaya perempuan, atau lebih tertarik melihat sesama lelaki atau sesama perempuan.

Alasan itu sama sekali tidak benar. Manusia, termasuk anak-anak, Allah beri naluri seksual (gharizah an-naw), di antara penampakkannya adalah muncul rasa suka pada lawan jenis, ataupuan pada sesama jenis. Sebagaimana anak-anak juga merasakan stimulasi seksual pada kelamin mereka atau anus mereka karena gesekan, dsb. Tapi bukan berarti kemudian itu jadi pembenaran perilaku gay atau lesbian.

Kecenderungan seksual pada manusia adalah sesuatu yang dapat dibentuk lewat pemikiran. Sama seperti amarah dan sedih juga bisa dibentuk oleh pemikiran. Anak-anak yang punya kesukaan pada lawan jenis, atau suka memainkan kelaminnya, bisa diluruskan perilakunya dengan pendidikan yang benar, khususnya dengan ajaran Islam.

Oleh karena itulah dalam Islam sejak kecil sudah diajarkan arti penting menutup aurat, tidak melihat aurat orang lain meskipun sesama jenis, tidak tidur satu selimut dengan sesama jenis walau itu adalah saudara, dan dijaga agar tidak berperilaku menyimpang semisal transgender. Begitupula sejak kecil anak-anak harus dijaga dari tayangan erotis sehingga tidak menjadi memori lalu mempengaruhi perasaan/kecenderungan seksual mereka.

Di sisi lain, masyarakat dan negara harus bekerja menjaga akhlak masyarakat agar terhindar dari perilaku negatif seperti LGBT. Dalam Islam ada sanksi pidana bagi mereka yang mempraktekkan gaya hidup LGBT. Bahkan untuk kaum gay ada ancaman sanksi pidana hukuman mati. Ini menjadi penting agar perilaku LGBT tidak menjamur.

Sayang, di alam sekulerisme-liberalisme yang menyebarkan budaya hedonisme, negara berlepas tangan dari urusan moral rakyatnya. Bagi negara, LGBT dan zina adalah urusan privat yang tak perlu diurusi negara. Jadi ketika keluarga hancur, maka negara tak peduli.

Padahal, ketika penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS merebak, kanker anus berjangkit karena perilaku anal seks, negara juga yang ketiban sampruk. Akan ada miliaran rupiah yang harus dikeluarkan negara untuk menangani penyakit-penyakit macam ini. Dan yang paling mahal, ongkos sosial yang harus dipikul sebuah negara karena kerusakan moral rakyat yang mereka ciptakan sendiri.

Incoming search terms:

  • ancaman Allah thd lgbt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *