Punya anak itu memang pilihan. Setiap orang ada pertimbangan mengapa ingin punya anak, atau tidak punya anak. Secara naluriah sebenarnya setiap orang senang dengan kehadiran anak. Lucu, menggemaskan, dan jadi teman jalan-jalan atau bercerita yang asyik. Mencium bayi di pagi hari sambil menghirup aroma mulutnya itu suatu kebahagiaan yang incredible.
Tapi, punya anak juga membawa konsekuensi. Pengasuhan, pendidikan dan tentu saja ada cost-nya. Apalagi hidup di era kapitalisme dimana berlaku no free lunch, biaya untuk anak-anak itu bisa amat high cost! Negara tidak mau ambil peduli dengan kondisi anak-anak. Lapangan bermain digusur jadi mall, perkantoran, atau apalah yang beri profit dan pajak. Kesehatan harus berbayar, pendidikan berbayar, dan tak ada jaminan hidup untuk warga meski mereka dipaksa bayar pajak.
Di sisi lain, bisa jadi ada pasangan yang tidak mau direpotkan dengan kehadiran anak. Mereka ingin fokus pada aktivitas masing-masing, keberduaan, dan happy berdua. Ada juga yang merasa tak sanggup memikul tanggung jawab moral andai punya anak. Khawatir tidak bisa membahagiakan mereka, gagal jadi orangtua, tidak fokus membagi waktu antara pekerjaan dengan anak.
Itulah sebabnya ada pasangan yang memilih jalan child free, bebas dari anak. Belakangan, mereka membuat komunitas dan cukup aktif mengkampanyekan jalan hidup child free ini. Tentu saja ini tidak mudah, karena secara umum dunia tetap didominasi pandangan bila punya anak itu tujuan pernikahan.
Karena Prinsip dan Tujuan
Sebenarnya ini berpulang pada prinsip dan tujuan pernikahan setiap orang; sekedar untuk mengikat tali kasih, atau ada dasar dan tujuan yang lebih tinggi lagi. Saya katakan lebih tinggi karena memang dasar dan tujuan pernikahan itu bisa ditentukan oleh dua pihak; manusia atau Allah SWT. Tidak ada pilihan kita yang bebas nilai; ada nilai agama ada nilai buatan manusia itu sendiri.
Sejujurnya saya katakan pilihan hidup dengan dasar dan tujuan akal kita sendiri, terlalu rendah dijadikan ukuran. Termasuk bila ukuran bahagia itu adalah menurut kita, bisa menjadi absurd, bahkan bisa jadi mengganggu keharmonisan masyarakat. Bukankah ada pasangan yang memilih bahagia dengan hidup bersama tanpa pernikahan, dengan dasar menikah itu berat karena banyak konsekuensi yang mesti dipikul; moral, waktu, administrasi, dan juga biaya. Lebih praktis samen laven; tetap cinta jalan terus, sudah nggak cinta ya tinggal bubar.
Bagi kita, kaum muslimin, pernikahan bukan hanya sekedar pengikat cinta, tapi juga amal salih. Jatuh bangunnya suami-istri dalam world of marriage bernilai pahala. Lelahnya ayahbunda mengasuh dan mendidik anak, termasuk segenap biaya yang keluar, adalah investasi untuk di akhirat.
Namun ketika pernikahan tidak dilandasi keimanan dan harapan mendapat amal salih, semua menjadi hampa. Pernikahan sebatas perasaan, aktivitas fisik dan kalkulasi materi. Dalam kehidupan hari ini yang berpaham sekulerisme — memisahkan agama dari kehidupan – sulit bagi sebagian perempuan membayangkan kalau dibalik beratnya kehamilan itu ada pahala dan barakah.
Sulit juga bagi suami istri yang tidak melandaskan hidup dan pernikahan pada akidah Islam, untuk meyakini kalau setiap mahluk hidup – termasuk anak-anak – ada jaminan rizki dari Allah SWT. Dalam benak sebagian orang, biaya hidup itu ya harus dipikul dari gaji hasil kerja otak dan tangan mereka. Ini yang membuat banyak orang di jagat sekulerisme ini susah untuk percaya ada ‘invisible hand’ yang menjamin kehidupan semua mahluk hidup di alam semesta. Bahwa ada Allah SWT. yang punya sifat ar-Razaq, al-Mu’thi, al-Ghani wa al-Mughniy.
Saya mau cerita, di dunia ini banyak pasangan yang hidupnya pas-pasan, bahkan mungkin melarat, tapi mereka sukses membesarkan anak-anak mereka. Ada yang suaminya tukang becak, istrinya buruh cuci, tapi anaknya sukses kuliah sampai doktoral ke luar negeri. Ada yang suaminya buruh bangunan, istrinya ibu rumah tangga, tapi anaknya bisa kuliah sampai ke Mesir, dan masih banyak lagi yang berangkat dari keluarga tidak mampu tapi bisa survive, bertahan, bahkan anak mereka sukses, dan semua hepi.
Juga tidak mudah bagi pasangan yang lepas dari prinsip akidah untuk membayangkan bahwa pada setiap kesusahan dan keringat yang menetes saat mengasuh anak, akan ada pahala dan ridlo Allah SWT. Begitupula setiap rupiah yang dibelanjakan sang ayah untuk beli susu, popok, bedak, sabun, juga biaya sekolah anak, adalah infak terbaik di jalan Allah SWT.
Umat manusia hari ini sudah terjejali dengan pola pikir hedonisme; kesenangan materi dan jasadi. Hampir tak ada ruang untuk merengkuh nilai ruhiyyah di dalamnya. Ukuran kebahagiaan pun bukan lagi keberlimpahan barakah dan pahala, tapi kepuasan pribadi, termasuk dalam pernikahan. Jadilah kehadiran anak dipandang sebagai pengganggu kebahagiaan pernikahan. Fokusnya adalah pada diri sendiri. Meskipun para penganut childfree ini menolak mentah-mentah dipandang egois, padahal kenyataannya demikian. Bukankah menolak berbagi kebahagiaan dengan orang lain – seperti dengan anak – juga bentuk keegoisan?
Pada akhirnya, semua berpulang pada dasar dan tujuan pernikahan itu sendiri. Orang-orang yang menikah karena dorongan keimanan dan bertujuan mendapat ridlo Allah, akan bergembira dengan kehadiran anak. Mereka akan bekerja keras mendidik anak, berbagi kebahagiaan dengan pasangan dan anak-anak. Mereka juga yakin bila Allah akan mengkaruniakan rizki untuk keluarga.
Semua memang pilihan. Menikah atau tetap membujang atau samen laven juga pilihan. Punya anak atau tidak, juga pilihan. Masing-masing juga ada kebahagiaan versi masing-masing. Mereka yang memilih membujang dan samen laven juga bisa merasa bahagia. Yang bersikukuh untuk tidak punya anak pun juga bisa merasa bahagia.
Namun, mohon maaf, bagi orang-orang yang beriman pada Allah SWT. dan taat pada syariatNya, kebahagiaan itu adalah hakiki, bukan hanya di dunia, namun hingga ke akhirat. FirmanNya:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. an-Nahl: 97)

Leave a Reply