Bukan Pegawai Domestik

couple moslemSalam Sabtu Seru! Semoga hari Anda tidak kelabu!

“Pak, saya mencari istri yang pandai memasak, bisa mengurus rumah, mencuci pakaian, telaten mengurus anak, dan cermat mengatur uang belanja. Ada gak?” tanya seorang anak muda pada ustadznya.

“Ada, tapi kalau begitu yang kamu butuhkan adalah pembantu rumah tangga, bukan seorang istri!”

“#***???”

Seperti apakah Anda, para suami menempatkan istri dalam rumah tangga? Di jaman terang benderang seperti ini masih banyak suami yang memandang istri semata ‘petugas domestik’ dan dirinya berlagak bak majikan. Banyak suami merasa gengsi — dengan alasan tidak sempat – ikut turun dalam pekerjaan domestik. Ada seorang ibu muda yang curhat kalau suaminya tidak pernah mau memandikan apalagi menceboki anak mereka. Ada seorang bapak yang mengaku paling benci melihat lelaki menggendong anak pakai jarit (kain).

Itu semua pandangan khas kaum pria pra-Islam. Lho kok begitu? Iya, karena setelah Islam datang nilai-nilai dalam rumah tangga dirombak sedemikian rupa indahnya. Relasi suami dan istri diubah oleh Islam menjadi sebuah persahabatan, bukan buruh-majikan apalagi perbudakan. Nabi saw. bersabda:

إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

“Sesungguhnya wanita adalah saudaranya/sahabatnya pria”(HR. Abu Daud)

Memang, wanita diberikan tugas pokok sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Namun bukan berarti seorang suami pantas dan terhormat untuk berpangku tangan dari memudahkan pekerjaan istri-istri mereka. Percayalah tak akan jatuh kehormatan seorang suami hanya karena berbelanja ke pasar membeli sayuran. Tak akan turun pamor seorang lelaki hanya karena membantu istri menyapu dan mengepel lantai.

Suami yang tak mau turun meringankan tugas istrinya bisa terjadi karena ketidakpahaman tugasnya dalam keluarga. Lelaki yang tak paham bahwa mendidik anak adalah kewajiban bersama maka akan membiarkan begitu saja istrinya kelimpungan mengurus anak; mulai dari memandikan sampai mengajarinya berbagai pengetahuan. Mungkin lelaki seperti ini belum pernah membaca berbagai riwayat bahwa Nabi saw. dan para sahabat sering menggendong anak-anak, bersenda gurau dengan mereka, menyapa mereka, mendoakan mereka dan mengajarkan mereka banyak pengetahuan.

Suami seperti ini tipikal “boss”. Buat mereka istri itu benar-benar petugas domestik; petugas kebersihan, pengasuh anak dan pelayan mereka. Bisa jadi mereka bertindak demikian karena merasa sudah berjasa besar mencari uang untuk keluarga. Para suami seperti ini lupa kalau uang mereka tak akan berarti bila tidak ada orang-orang berbaik hati mau hidup bersama dengan mereka.

Mulai sekarang, sudilah turun tangan membantu tugas domestik istri. Membuang sampah, membawakan belanjaan, atau mencuci piring.

Jangan merasa gengsi pula memandikan atau menceboki anak, apalagi mengajak mereka bermain. Insya Allah semua tak akan sia-sia di hadapan Allah SWT.

“Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain”(QS. ali Imran: 195).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *