Bola, Politik dan Unfairplay Ala FIFA

Photo by RF._.studio from Pexels

Organisasi sepakbola dunia (FIFA) secara resmi memberikan hukuman berupa penundaan keikutsertaan tim sepakbola Rusia dan semua klub sepakbolanya di pentas internasional apapun. Sanksi yang dijatuhkan FIFA terkait invasi militer Rusia ke Ukraina. Perang yang berkecamuk di Ukraina membuat banyak negara bersimpati pada pecahan Uni Soviet tersebut, dan ramai-ramai mengutuk Rusia, termasuk FIFA.

Kebijakan ini memperlihatkan FIFA sudah bermain unfairplay. Menunjukkan FIFA sudah menjadi bagian mesin politik Barat, dan bukan lagi organisasi sepakbola murni seperti yang sering mereka gadang-gadangkan; no politic just football.

FIFA sudah mainkan standar ganda. Dalam sejumlah agresi militer Barat terhadap negeri-negeri muslim, seperti Israel terhadap Palestina, atau Pasukan Koalisi terhadap Irak dan Afganistan yang melibatkan beberapa negara seperti AS, Inggris, Jerman, Prancis, organisasi bola ini mejan. FIFA tidak menjatuhkan sanksi apapun pada negara-negara tersebut. Padahal invasi yang dilakukan Israel terhadap Palestina, atau pasukan koalisi terhadap Irak dan Afganistan jauh lebih brutal. Namun timnas negara-negara tersebut, juga klub-klub sepakbolanya tetap boleh berlaga di pentas internasional.

FIFA juga bertindak kejam terhadap pemain sepakbola dan supporter yang memberikan pembelaan pada Palestina. Pecinta sepakbola mungkin tidak akan lupa bagaimana Frederic Kanoute, pesepakbola asal Prancis kelahiran Mali, yang waktu itu bermain untuk klub Sevilla di La Liga Spanyol dijatuhkan sanksi oleh FIFA. Waktu itu, di tahun 2009, Kanoute, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang lawan dengan mengangkat jersey bertuliskan Palestine, sebagai dukungannya pada negeri kaum muslimin.

Urusan tidak selesai di lapangan, Raphael Schultz selaku Duta Besar Israel di Madrid mengatakan bahwa isyarat Kanoute telah melampaui profesinya dan aturan FIFA. “Saya melihat pertandingan itu dan kaus itu tidak lebih dari nama Palestina. Itu bukan penghasutan terhadap Israel. Saya tidak berpikir itu memuji kekerasan,” kata Schultz kepada Radio Marca. Singkat cerita, Kanoute kemudian kena denda. Penyerang kelahiran Prancis itu didenda sebesar USD 4.000 (sekitar Rp 57 juta jika mengacu kurs saat ini).

FIFA juga menjatuhkan sanksi pada supporter klub asal Skotlandia, Glasgow Celtic, dengan alasan membawa urusan politik ke lapangan hijau. Ceritanya, dalam laga kualifikasi Liga Champions 2016-2017, saat itu Celtic berhadapan dengan klub asal Israel, Hapoel Be’er-Sheva. Dalam laga yang dimenangkan asuhan Brendan Rogers kala itu, Celtic menang telak 5-2. Namun yang jadi sorotan adalah sepanjang pertandingan para supperter Celtic mengibarkan bendera Palestina sebagai tanda dukungan, dan ketidaksukaan pada Israel. Akibat ulah itu, UEFA menjatuhkan sanksi Rp 145 juta pada Glasgow Celtic.

Ini bukan kali pertama supporter Celtic menunjukkan sikap politik membela Palestina. Pada tanggal 22 Juli 2014, sebanyak 40.000 pendukung Glasgow Celtic berkumpul di Stadium Merryfield di Kota Edinburgh demi menyaksikan tim kesayangannya menghadapi KR Reykjavik asal Islandia dalam babak lanjutan Liga Champions. Dalam laga yang dimenangkan Celtic 4-0 para suporter Celtic mengibarkan bendera Palestina sepanjang pertandingan, menyebabkan manajemen Celtic didenda oleh UEFA.

FIFA sudah menunjukkan bermain politik dan permainan mereka unfair. Lebih jauh lagi, FIFA minim empati pada negeri-negeri muslim yang dihajar dengan kejam oleh negara-negara Barat termasuk oleh Israel. Jadi FIFA bukan sekedar organisasi yang mengatur si kulit bundar, tapi kubu politik Barat. Dan karena mereka satu-satunya penguasa dunia persepakbolaan, jadi berhak sewenang-wenang. Hmm, main bola saja ternyata penjajahan juga berlaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.