Bullying Tidak Main-Main

Photo by Mikhail Nilov from Pexels

Saya sudah sering membaca artikel tentang bullying/perundungan dan sepakat bahwa hal itu tidak baik bagi anak-anak. Sampai kemudian saya membaca buku tulisan Barbara Coloroso berjudul Stop Bullying; Memutus Rantai Kekerasan Anak Dari Prasekolah Hingga SMU, saya tersadarkan kalau pengetahuan saya tentang bullying belum seberapa. Soal bagaimana bullying itu terjadi, dampak terhadap korban, dan betapa banyak guru, sekolah juga orangtua yang meremehkan bullying. Juga fakta kalau bahaya dan efek negatif psikologis pada korban perundungan itu amat besar

Umumnya orang dewasa – baik orangtua dan guru – beranggapan bullying itu tindak kenakalan seperti sekumpulan anak yang sedang main lompat tali atau futsal, lalu saling mengejek atau bahkan adu jotos. Sepintas saja. Padahal bullying tidak sesederhana itu. Perundungan adalah tindakan yang berlangsung terus menerus bahkan dalam banyak kasus berjalan sistematis.

Akibat tidak memahami soal perundungan ini, respon yang diberikan orang dewasa – guru dan orangtua —  terhadap perundungan itu seringkali tidak menyelesaikan persoalan. Bahkan tak jarang korban semakin tertekan dalam lingkaran perundungan. Sebagai contoh, ketika ada anak yang menjadi korban mengadu pada orangtua atau guru, ada kalimat yang justru makin meruntuhkan mental anak yaitu, “Jangan baperan, teman kamu kan cuma bercanda.” Atau memberikan komentar yang malah menyalahkan korban,  “Kamunya kali yang julid, gak ramah sama teman-teman kamu.”

Ada beberapa hal yang perlu diketahui dengan serius oleh orangtua tentang perundungan ini. Pertama, perundungan/bullying sesuatu bisa terjadi dimana saja; lingkungan rumah termasuk lingkungan bermain, lingkungan sekolah, pondok pesantren, dan dunia maya. Orangtua secara polos sering berpikir bahwa pondok pesantren steril dari perundungan. Dengan lingkungan agamis atau Islami, rasanya mustahil terjadi perundungan. Faktanya, tidak ada lingkungan yang aman dari perundungan sekalipun itu di pondok pesantren.

Hal lain yang orang tua dan guru juga kurang paham, perundungan juga terjadi di dunia maya, di media sosial, yang disebut cyberbullying. Pelakunya malah lebih luas dan bisa lebih kasar. Meski hanya kata-kata, namun bisa membuat mental anak down bahkan putus asa. Beberapa kasus perundungan di media sosial berujung pada korban ambil tindakan bunuh diri (https://www.liputan6.com/citizen6/read/597254/6-korban-cyberbullying-yang-berakhir-bunuh-diri). FB, instagram, TikTok adalah sebagian platform media sosial yang rawan perundungan.

Kedua, banyak orang dewasa termasuk guru menganggap kata-kata itu tidak terlalu menyakitkan. Padahal para psikolog sepakat bila ‘words can be hurtful’. Sebutan ‘kamu jelek’, ‘gitu aja bangga’, atau kata-kata yang meremehkan prestasi dan karya seorang anak, bisa berdampak pada psikologis korban. Apalagi perundungan ini berjalan secara sistematis dan kontinyu.

Anak yang menjadi korban perundungan lewat kata-kata secara terus menerus seperti tebing yang dikikis air ombak, lama-lama ambruk. Ada cerita seorang selebriti dalam negeri yang pernah mengalami depresi berat karena orang-orang di sekitarnya, termasuk kerabatnya, sering menjelek-jelekkan adiknya – dengan kata-kata. Dia bercerita sampai pernah terpikir untuk bunuh diri karena merasa keluarganya dihina. Padahal yang dihina adalah adiknya. Tergambar perasaan korban langsung.

Mental manusia – apalagi anak-anak – punya daya tahan tertentu, terutama bila orang di sekitarnya seperti orangtua atau guru tidak cukup membantu. Dalam kondisi puncak, sedikit saja kata-kata atau sikap yang menyayat perasaannya akan membuat dia ambruk. Persis balon udara yang pecah karena terus menerus dipompakan udara. Balon tidak meletus ketika satu, dua atau tiga kali tiupan. Tapi tiupan berkali-kali yang akhirnya membuat kulit balon itu semakin tipis dan tak sanggup menahan lagi tekanan udara di dalamnya sampai akhirnya pecah.

Ketiga, perundungan itu terbilang sulit dideteksi oleh orang dewasa atau sekolah, karena biasanya mereka melakukannya secara tersembunyi dan halus. Mereka tahu kapan bisa leluasa merundung korban, dan kapan menutup rapat-rapat perbuatan mereka.

Selain itu para pelaku perundungan biasanya akan denial/menyangkal perbuatan mereka disebut perundungan/bullying. Mereka biasanya akan berdalih kalau ucapan mereka bukan hinaan, hanya main-main atau teguran – sebetulnya tepatnya adalah sindiran –, lalu bisa balik menyalahkan korban yang dianggap baperan.

Seringkali pelaku perundungan itu anak-anak yang kelihatan baik, berprestasi, bukan anak bermasalah. Itu karena mereka lihai menutupi perundungan di depan orangtua atau guru-guru.

Keempat, Ada dua model pelaku perundungan; mereka yang pernah jadi korban perundungan sebelumnya lalu mencari pelampiasan. Ini perlu penanganan serius. Berikutnya adalah siswa-siswa yang merasa terganggu dengan sikap korban misalnya karena kalah persaingan, atau korban dianggap lancang karena mengganggu komunitas mereka – seperti organisasi olahraga, OSIS, dll — sehingga mereka takut kalah pengaruh, lalu secara bersama melakukan perundungan agar korban jera.

Kelima, jenis perundungan. Ada tiga bentuk perundungan;

(1). verbal dengan kata-kata seperti mencemooh atau meremehkan kemampuan atau fisik korban, termasuk dalam hal ini melaporkan korban berkali-kali ke sekolah agar korban mendapatkan sanksi.

(2), secara fisik seperti memukul, melempari kotoran, merobek buku, mempermalukan korban di depan kawan-kawan

(3), relasional, memutuskan pertemanan dan mengucilkan korban. Biasanya pelaku perundungan akan menghasut kawan-kawannya untuk menjauhi korban, atau memusuhi orang yang berkawan dengan korban, tujuannya agar mereka akhirnya menjauhi korban.

Dalam kasus lain yang termasuk perundungan relasional adalah memberikan perlakuan beda pada korban. Misalnya tidak mengundang korban ke acara salah seorang anggota circle pelaku, atau ketika korban melanggar peraturan kelas atau komunitas ia diberikan hukuman lebih berat daripada kawan-kawan yang masuk dalam circle pelaku perundungan.

Keenam, kenapa guru dan orangtua sulit mendeteksi perundungan? Diantaranya karena orang dewasa menganggap hal itu sebagai kenakalan anak-anak yang biasa. Sekarang bermusuhan, besok juga baikan. Penting orangtua membedakan antara konflik insidental dengan perundungan yang berjalan sistematis. Karenanya orangtua dan guru perlu menelusuri perilaku anak-anak di sekolah, wajar atau tidak.

Paling mudah adalah mengenali korban ketimbang pelaku yang sering lihai menutupi perundungan. Kondisi korban justru paling kelihatan jelas. Bila ada anak yang prestasinya merosot, tidak betah di kelas, duduk di bangku belakang terus menerus, ekspresi wajahnya tidak semangat, menyendiri, sering tidak bersama kawan-kawannya, itu sebagian tanda-tanda ia adalah korban perundungan.

Ketujuh, solusi yang diberikan orang dewasa termasuk sekolah seringkali kurang tepat, dengan cara menangani korban dan menghukum pelaku. Bahkan dalam beberapa kasus yang dihukum adalah korban, karena ketika ia sedang marah akibat perundungan tertangkap basah oleh sekolah. Ya wajarlah, karena anak yang sedang emosi lebih ekspresif ketimbang pelaku yang cukup dengan bersikap sinis atau kata-kata sindiran sudah bisa melukai hati korban. Dan, itu tidak tampak oleh orang dewasa atau sekolah.

Memberikan perlindungan pada korban perundungan jelas harus, tapi lebih penting lagi adalah menciptakan suasana kelas dan pergaulan di sekolah atau di pondok yang aman. Pertama, dengan cara terus menerus mengedukasi dan mengkampanyekan kalau sesama muslim itu bersaudara, harus menjaga perasaan dan tutur kata serta perbuatan. Mengajarkan anak-anak untuk saling mendukung, ikut berbahagia bila kawannya berprestasi, serta menghilangkan circle pergaulan yang eksklusif di kelas.

Langkah berikutnya, adalah membangun kebersamaan melalui berbagai simulasi yang dipraktekkan langsung di kelas. Misalnya kerja kelompok dengan anggotanya random, bisa dua-dua, atau tiga-tiga, dimana mereka akan dikondisikan untuk selalu kompak. Para siswa juga secara bergilir bergantian memimpin kelas, bergilir duduk dengan kawannya secara random untuk menghilangkan prasangka satu dengan yang lain.

Berikutnya, menyampaikan pada semua anak akan pengertian perundungan, bentuk-bentuk perundungan, dan bahayanya pada korban perundungan. Rata-rata para pelaku tidak paham bila tindakan mereka itu terkategori perundungan dan tidak paham kondisi psikis kawan mereka yang jadi korban. Bahwa kawannya bisa terluka begitu parah meski hanya dengan kata-kata atau mengucilkannya.

Bila Anda orang dewasa, orangtua, pendidik, membaca artikel ini, segeralah evaluasi dan pantau lingkungan pergaulan anak-anak atau para siswa dengan seksama. Mencegah itu lebih baik ketimbang mengobati. Dalam banyak kasus perundungan tak bisa lagi diobati, dan biasanya korban kondisinya makin mengenaskan.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.