Bagi Allah Semua Mudah

umrah-hajiMalam itu barangkali menjadi sedikit bencana bagi sebagian orang. Karena semua rombongan umroh terkena delay pemberangkatan. Ada satu rombongan malah baru bisa berangkat setelah tertunda nyaris 24 jam.
Rombongan saya pun tidak ada kepastian jadwal keberangkatan. Hanya baru dikabarkan kemungkinan jam sekian. Kabar penyebabnya pun simpang siur.

Maka terminal 2D Bandara Soetta pun serasa kam pengungsian. Para calon jamaah umroh bergelatakan di sepanjang selasar bandara hingga ke mushola. Sebagian mereka adalah orang-orang yang biasa tidur di kamar mewah dan kasur empuk. Tapi bila sudah lelah siapa peduli? Lantai bandara yang dingin pun menjadi tempat pembaringan yang lumayan.

Dalam kondisi saat ini saya belajar untuk menikmati pengorbanan dalam ketaatan. Untuk mendekat kepada Allah SWT. dibutuhkan pengorbanan dan pastinya kesabaran. Perlu berakit-rakit ke hulu sebelum berenang ke tepian.
Meski pastinya apa yang kami alami belum ada seujung kuku para sahabat dan salafus saleh dalam berumroh dan berhaji. Sebutlah Khalifah Harun ar-Rasyid yang selalu berjalan kaki saat menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Membayangkannya saja saya sudah merinding. Jalan kaki dari Baghdad ke Mekkah. MasyaAllah!
Meski belum setara, tapi setidaknya kita memang harus berusaha. Bahwa perjuangan itu butuh pengorbanan dan kesabaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.