Masih ingat cerita caleg di Provinsi Banten yang gagal maju ke ruang legislatif karena kalah suara dari pesaing parpon lain? Padahal caleg ini sudah banyak membantu pengadaan air bersih untuk warga sekitar. Selama empat tahun lebih, bapak ini mengeluarkan uang lebih dari dua juta perbulan untuk pengadaan air bersih.
Namun seperti kata pepatah; air susu dibalas air tuba. Perolehan suaranya disalip caleg lain lewat jurus serangan fajar di hari pemilu. Dengan modal hanya sekitar 20 ribu rupiah peramplop, sang pesaing mampu mengalahkan investasi kebaikan yang sudah bertahun-tahun tersebut. Warga lebih memilih pemberi amplop ketimbang sang caleg malang.
Sebenarnya kisah ini adalah serpihan puzzle dari kalahnya pasangan lain saat hajat pemilu kemarin; kalah karena tebaran bansos, dana desa, dan program makan siang gratis. Sama dengan berbagai pilkada level apapun, rakyat akan mencoblos calon yang menebarkan bantuan nyata, uang kontan, dan program-program populis seperti makan siang gratis. Rakyat tidak peduli apakah itu politik uang atau bukan.
Mereka tidak peduli apakah calon yang mereka pilih itu cerdas, berkarakter, agamis, anti korupsi atau tidak. Bahkan secara umum rakyat juga tidak peduli apakah janji-janji para kandidat pemimpin itu omong kosong atau nyata. Buktinya, Jokowi terpilih dua periode meskipun banyak janjinya yang tidak dipenuhi. Tetap saja rakyat ada yang memilihnya dan memenangkannya dua kali di pemilu.
Kenyataan ini menjadi indikasi bahwa ada persoalan di taraf berpikir rakyat Indonesia. Bila mengikuti hirarki kebutuhan Abraham Maslow, mayoritas rakyat Indonesia masih berada di level kebutuhan fisiologis; kebutuhan paling bawah, seperti makan, minum, dsb. Sehingga yang jadi orientasi hidup mereka secara dominan adalah how to survive.
Sementara, perjuangan politik ada pada level esteem needs dan paling tinggi lagi adalah self actualization. Dengan berpolitik, orang ingin mewujudkan eksistensi diri dan ideologinya. Untuk itu mereka rela mengorbankan sebagian kenikmatan hidup. Che Guevara bergerilya di hutan untuk memperjuangkan sosialisme, Panglima Sudirman menjelajah hutan melawan invasi Belanda, dsb.
Celakanya para politisi Islam bukannya menghapus orientasi berpikir yang salah di tengah umat, justru malah melestarikannya. Memberikan bantuan sosial, fasilitas untuk publik, bagi-bagi sarung, mukena, jilbab, dsb. Dengan harapan rakyat akan menjadi konstituen yang menyumbangkan suaranya dalam pemilu nanti. Ketimbang mengedukasi umat dan menaikkan taraf berpikir mereka. Langkah ini meski bernilai sosial – dan sedekah – namun berkontribusi pada makin jumudnya pemikiran umat.
Lagipula, taktik memenangkan kontestasi politik lewat bantuan sosial, bisa dikalahkah dengan bantuan sosial yang lebih tinggi. Terbukti kesetiaan rakyat adalah pada besaran fulus, bukan pada perjuangan apalagi ideologi.
Lalu bagaimana memenangkan dakwah ideologis Islam sementara kondisi umat begini? Masih berkutat pada persoalan perut dan kebutuhan sehar-hari?
Mencontoh Nabi
Jawabannnya adalah kembali pada metode dakwah yang dikerjakan Nabi Saw. Saat memulai dakwah di Mekkah, tidak ada orang menyangkal bahwa kondisi masyarakat Mekkah beda dengan kondisi masyarakat di Kekaisaran Romawi, Mesir, atau Persia. Para kaisar Romawi dan Ksira Persia tidak tertarik menginvasi Mekkah maupun Yatsrib karena kondisi alamnya yang tidak potensial secara pertanian, dan kondisi sosial masyarakatnya yang berada di bawah peradaban mereka. Dominan buta huruf, fanatisme kesukuan yang tinggi dan senang berkonflik, perekonomian mereka hanya ditunjang oleh peternakan dan perdagangan. Persis seperti yang Allah jabarkan dalam surat Al-Quraisy.
Uniknya misi dakwah Nabi Saw yang pertama bukanlah membebaskan umat dari kemiskinan, bukan menjanjikan kesejahteraan, ataupun membebaskan para budak agar merdeka. Tapi yang ditawarkan dan disampaikan Rasulullah Saw adalah pembebasan manusia dari perbudakan sesama mahluk menuju penghambaan pada al-Khaliq.
Beliau menawarkan keimanan atau tauhid secara argumentatif sehingga mengubah taraf dan cara berpikir orang yang menerimanya. Para sahabat yang beriman pada Islam berubah menjadi sosok-sosok manusia yang berpikir cemerlang. Hidup mereka bukan lagi untuk hidup, tapi mengorbankan kehidupan untuk Yang Maha Menghidupkan.
Para sahabat rela mengorbankan apa saja asal bisa menyenangkan Tuhan yang mereka sembah; Allah Swt. Meski untuk itu mereka menderita. Bahkan dengan penderitaan yang luar biasa. Orang-orang yang sudah berada dalam zona nyaman dan kebebasan finansial seperti Abu Bakar atau Abdurrahman bin Auf justru meninggalkan zona nyaman mereka dan turut merasakan perihnya perjuangan di jalan dakwah.
Bahkan para sahabat yang dhuafa seperti keluarga Sumayyah juga rela mengorbankan tawaran kenikmatan dunia untuk mati mempertahankan tauhid. Sementara itu Bilal bin Abi Rabah seorang budak milik Umayyah bin Khalaf tabah alami siksaan keras dari majikannya, Umayyah bin Khalaf, demi membela kalimat tauhid. ”Ahad, ahad, ahad,” adalah kata-kata yang melegenda hingga akhir zaman. Cerminan kukuhnya kepribadian Bilal.
Karakater mulia dan kokoh seperti itu bukan datang dari janji-janji muluk jabatan, amplop serangan fajar, ataupun makan siang gratis. Tapi karena para sahabat telah memiliki taraf berpikir cemerlang (mustanir) sehingga menemukan arti kehidupan yang sebenarnya, Hasilnya, terjadi perubahan total pada masyarakat Arab, Jazirah Arab, dan berlanjut memimpin dunia.
Nabi Saw memberikan contoh bahwa perubahan masyarakat justru harus dimulai dari dakwah yang sanggup meningkatkan taraf berpikir. Dari dangkal menuju mustanir. Dari sekedar memikirkan kebutuhan dan kesalehan sendiri, menjadi dorongan melakukan perubahan sosial yang ideologis Islam.
Berat? Sudah tentu. Mengajak umat untuk berpikir cemerlang membutuhkan kerja keras, terutama pada masyarakat yang sudah berada pada fase jumud, malas berpikir. Namun hasilnya adalah mencetak pribadi-pribadi yang punya integritas kuat dalam keislaman di segala level usia, pendidikan dan ekonomi. Budak, orang merdeka, kaum dhuafa, bangsawan dan para saudagar yang sudah tershibgah dengan Islam akan berdiri bersama memperjuangkan ideologi Islam.
Ulama besar Syaikh Taqiyuddin An-Nabhanri rahimahullah mengilustrasikan tugas para juru dakwah yang memimpikan perubahan besar adalah meletakkan bara api yang menyala di bawah bejana air yang beku. Perlahan namun pasti lapisan es itu akan mencair dan bergolak melahirkan enerji uap.
Para pengemban dakwah jangan larut dalam dakwah yang memanjakan umat untuk tetap berada dalam zona nyaman kesalehan pribadi. Umat harus dihentakkan pemikirannya. Dibakar ruhnya agar mengeluarkan enerji perubahan. Jangan bujuk umat dengan iming-iming kemakmuran, apalagi menjanjikan logistik dan bantuan uang. Tapi tancapkan terus keteguhan pada iman dan janji Allah Swt.
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul -Nya, apakah kamu sekalian mau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang bermanfaat dan pasti mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda dan keberuntungan yang kekal atau melepaskan kamu dari api neraka. (TQS. Ash-Shaf [61]: 10-11)
Dari sini bisa dilihat, mengharap perubahan lewat jalan perjuangan demokrasi justru menjadi mustahil. Sebab, demokrasi menjebak para politisi muslim untuk merayu dan membujuk umat dengan bantuan materi ketimbang meningkatkan taraf berpikir mereka. Itu dikarenakan kontestasi dalam demokrasi menuntut perubahan instan. Ujungnya demokrasi akan dimenangkan oleh siapa saja yang kuat suplai logistik dan keuangan, serta dekat dengan sumbu kekuasaan.

Leave a Reply