‘Anj*y’-nya Etika Generasi Muda Kita

https://www.nst.com.my/opinion/letters/2018/02/335090/open-hearts-learning-languages

“Kenapa sih KPAI malah ngeributin kata ‘anj*y’?” sergah anak lelaki saya yang nomor dua. Si bujang yang duduk kelas 11 SMK ini penasaran dengan sikap KPAI yang berencana akan mempidanakan orang-orang yang menggunakan kata ‘anj*y’. Menurutnya, sikap KPAI itu kurang worth it. Unfaedah.

Sebagai ayah dari empat anak, sebagian diri saya setuju dengan pernyataan KPAI, tapi sebagian besar lagi tidak setuju. Saya setuju dengan sikap KPAI yang tentu prihatin dengan merosotnya etika masyarakat dan remaja kita dalam berbahasa. Belakangan, saya sering membaca dan mendengar di medsos warga +62 terbiasa dengan diksi yang semula kasar dan kotor seperti bac*t, anj**g, dsb.

Di medsos juga youtube, saya jumpai beberapa vlogger atau youtuber enteng saja lontarkan kata-kata seperti anj**g dalam tayangan mereka. Bukan sedang memaki, tapi sebagai ungkapan ekspresif saja. Saya yakin, para youtuber itu tahu konten mereka disubscribe dan ditonton oleh anak-anak muda, tapi saya tidak yakin kalau mereka paham kalau kata-kata seperti itu berdampak pada merosotnya etika berbahasa dan sikap anak-anak muda di tanah air.

Sehari-hari, telinga saya sering ‘merah’ mendengar anak-anak kecil, remaja dan orang dewasa juga terbiasa dan enteng saja ungkapkan kata-kata kotor dan kasar seperti beg*, gobl*g, tol*l, a*u, janc*k, dsb. Kalau penuturnya itu anak-anak dan remaja, seringkali saya langsung tegur. Tapi kalau yang bicaranya orang dewasa, apalagi sudah tua, saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Dalam ilmu komunikasi ada kaidah words don’t mean, people mean. Kata-kata tidak punya makna, tapi manusia yang memberi makna. Kata ‘anjing’ misalnya adalah bahasa biasa untuk menyebut hewan berkaki empat dengan sifat tertentu. Namun bisa bermakna beda ketika digunakan untuk ekspresikan diri ketika marah dan juga kecewa. Tapi saya kira kita semua bertanya; apa iya pantas dipakai untuk dua keadaan itu; marah dan kecewa? Karena di tengah umat Muslim sebutan ‘anjing’ berkonotasi binatang najis dan haram. Ada sense yang buruk dan tidak enak gunakan kata itu. Untuk istilah ‘anj*y’ menurut saya sih tidak separah itu, meski sebaiknya sih anak-anak muda tidak gunakan kata-kata semacam demikian.

Negeri ini punya pepatah lama; bahasa menunjukkan bangsa. Maksudnya, kualitas pemikiran suatu bangsa, intelektualitasnya, moralnya ditunjukkan (salah satunya) lewat bahasa yang dipakai. Jadi kalau sekarang kata-kata seperti kotor dan kasar macam itu bertebaran dan bertaburan dalam keseharian dan di dunia maya – medsos & youtube –, berarti seperti itulah kualitas bangsa ini.

Kembali pada seruan KPAI; sebagian saya setuju, tapi sebagian besar tidak. Tingkah berbahasa masyarakat kita, khususnya anak-anak muda, adalah cerminan makin merosotnya etika bangsa ini. Itu semua tidak bisa dilemparkan pada anak-anak muda kita hari ini. Sebagian besar anak-anak muda kita adalah produk peradaban bangsa ini dari masa ke masa. Kawula muda adalah hasil didikan orang-orang tua negeri ini, baik orang tua kandung, maupun orang tua berupa masyarakat dan para pejabat negeri.

Orang tua kandung jelas bertanggung jawab mendidik anak-anak mereka, termasuk etika berbahasa. Orang tua di masyarakat; tetangga, guru, kepala sekolah, bapak-bapak, juga punya tanggung jawab melindungi anak-anak muda ini dalam kepantasan berbicara.

Terakhir, orang tua berupa pejabat negara, merekalah orang tua dalam skala besar yang semestinya mendidik dan melindungi anak-anak negeri. Pemerintah dengan segala instrumennya, mestinya bisa menanamkan etika berbicara penuh adab. Ada sekolah dari jenjang PAUD & TK sampai perguruan tinggi, yang semestinya bisa menanamkan moral yang luhur.

Tapi apa lacur, perhatian negara ini pada perkembangan etika dan moral anak-anak muda jauh dari seharusnya. Boro-boro mengurus kecakapan berbahasa anak muda, masalah besar seperti perzinahan di kalangan remaja hampir tidak diperhatikan.

Soal tanggung jawab memberikan pendidikan berbahasa? Ah, saya kira masyarakat sudah banyak kecewa dengan perilaku berbahasa banyak pejabat negeri ini. Kebiasaan jadi PHP (pemberi harapan palsu) seperti mobil Esemka dan janji-janji selama kampanye,  banyak dalih, cuci tangan alias lepas tanggung jawab, jadikan wabah Covid-19 sebagai guyonan, dsb.

Lebih parah lagi, ada sebagian masyarakat kita juga yang membela mati-matian buruknya etika dan moral berbahasa dan bersikap para pejabat kita. Seperti dulu ada kepala daerah yang ‘royal’ mengumbar kata-kata kotor dan kasar, tapi justru pendukungnya mati-matian membelanya. Ajaib memang.

Jadi, buruknya etika berbahasa anak-anak muda kita, juga masyarakat pada umumnya, itu adalah cerminan hancurnya peradaban di negeri ini. Untuk memperbaiknya tidak cukup hanya mengangkat persoalan kata ‘anj*y’ dengan ancaman pidana, tapi harus memperbaiki secara total peradaban di negeri ini. Seperti kata pepatah lama; bahasa cerminan bangsa. Bahasa itu cerminan kepribadian. Busuk bahasanya, busuk berarti kepribadiannya, dan busuk peradabannya.

Peradaban yang benar-benar menjaga kualitas berbahasa dan kepribadian manusia, cuma ada dalam Islam. Ajaran Islam sarat dengan tuntunan berbahasa yang santun dan beradab. Dan yang paling penting, ajaran Islam bukan hanya basa basi, tapi juga menuntut kebaikan yang sama antara bahasa dan perilaku. Kalau tidak, sama artinya mendidik orang menjadi munafik; manis tutur kata, tapi bengis dan busuk dalam perbuatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.