
Photo by Todd Diemer on Unsplash
Hidup itu melewati berbagai siklus yang berbeda. Ada masa kanak-kanak, ada masa dewasa. Ada masa masing single, ada masa berkeluarga. Kondisinya dan situasinya sungguh berbeda.
Dalam dakwah pun ada siklus yang berbeda. Ada masa perjuangan di kampus, ada masa pasca kampus. Ada masa sibuk dengan ujian semester, lalu ada masa bekerja. Keduanya ada kondisi dan tantangan yang berbeda.
Ghirah dakwah di dalam kampus biasanya begitu tinggi. Penuh semangat, tak kenal lelah, juga nyaris tak kenal rasa takut. Hal seperti itu terjadi selain karena faktor ’darah muda’, juga karena seringnya berkumpul bersama kawan-kawan seperjuangan. Selain itu belum muncul tuntutan dan tantangan lainnya.
Penting untuk dipersiapkan supaya gairah dakwah yang begitu menggebu di dunia kampus tidak pudar begitu masuk kehidupan pasca kampus. Sebab, ada yang masih bertahan namun dengan perjuangan seadanya, ada juga yang menghilang dari orbit dakwah. Bahkan tanpa jejak sama sekali.
Bila ditelusuri penyebabnya, salah satunya adalah ketidaksiapan menghadapi tantangan dakwah di luar kampus. Tidak jarang para pemuda pejuang ini kebingungan bertemu problematika di luar kampus, lalu hilang kesabaran dan berujung dengan menyingkir dari amal yang begitu agung; dakwah melanjutkan kehidupan Islam.
Maka sudah saatnya para pejuang dakwah di kampus mempersiapkan diri menghadapi siklus kehidupan dan siklus dakwah yang baru di luar kampus. Di antaranya memetakan sejumlah tantangan yang secara umum akan dihadapi selepas dari medan dakwah di kampus, lalu bersiap menghadapinya.
Ada beberapa tantangan yang bakal dihadapi saat keluar dari kampus; Pertama, soal pekerjaan. Untuk kaum lelaki bekerja hukumnya adalah wajib. Namun tantangannya adalah menghindari nafkah yang haram sambil menyelaraskan antara nafkah dengan kewajiban dakwah.
Tantangannya adalah soal nafkah halal atau haram. Kelihatannya mudah, tapi ada saja aktivis dakwah tidak tahan godaannya. Ada yang memilih jadi bankir, pegawai asuransi, pialang saham, atau terlibat pemberian suap menyuap, dll. Bisa karena takut tidak mendapatkan kerja, atau bisa soal nominal gaji yang menggiurkan. Apakah para aktivis dakwah ini tidak takut dengan peringatan Nabi saw:
يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
Wahai Ka’ab bin Ujrah! Sesungguhnya tidak tumbuh daging dari kecurangan melainkan neraka lebih layak (membakarnya) (HR. Tirmidzi).
Bila lolos dari perangkap nafkah haram, berikutnya adalah menjaga komitmen dakwah. Satu persatu aktivis dakwah tumbang karena disibukkan dengan urusan pekerjaan. Dakwah bukan lagi prioritas, kalah dengan agenda kantor atau proyek. Akhirnya lepaslah mereka dari orbit dakwah melayang ke galaksi lain.
Kunci menghadap ini semua adalah iman terhadap Allah Maha Pemberi rizki. Bukan kantor, kedinasan, bos atau siapapun yang mendatangkan rizki. Bekerja adalah kewajiban tapi bukan sebab datangnya rizki. Teruslah bersabar mencari rizki yang halal, ia tetap akan datang. Nabi Saw mengingatkan:
أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)
Bekerja adalah kewajiban namun ibadah-amal saleh-dakwah adalah poros kehidupan. Besarnya pahala mencari nafkah takkan bisa mengalahkan kewajiban dan besarnya pahala dakwah. Sebagai muslim ada kewajiban bekerja secara profesional, tapi tetap berputar pada poros Islam sebagai ideologi.
Meninggalkan dakwah karena urusan dunia (kerja) akan menjatuhkan derajat seorang hamba di mata Allah dan mahluk-mahlukNya. Lebih mengerikan lagi, melalaikan dakwah karena urusan sibuk mencari dunia justru malah menyebabkan datangnya kesulitan-kesulitan hidup di dunia lebih banyak lagi. Sabda Nabi Saw:
مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له
Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan (1) mencerai-beraikan urusannya dan (2) Allah jadikan kefakiran di pelupuk matanya, (3) dan tidak akan datang (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. (HR. Ibnu Majah).
Jangan terpukau pula dengan kawan-kawan satu kampus yang hidup yang mentereng, flexing gaya hidup mereka di medsos, bisa jalan-jalan ke mancanegara, dsb. Atau juga tergoda melihat orang yang dulu kawan seperjuangan dakwah di kampus lalu berpaling menuju kesibukan dunia lalu punya segala impian banyak orang. Sadarilah hidup yang asli tidak seindah yang nampak di mata kita, apalagi yang dipajang di media sosial. Hal yang kita takutkan kalau semua itu adalah istidraj karena meninggalkan perkara wajib yang luar biasa agungnya dari Allah Swt, dakwah melanjutkan kehidupan Islam.
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah. (HR. Ahmad).
Lelaki yang tidak mau mencari nafkah adalah pelaku maksiat, begitupula muslim yang meniggalkan dakwah karena sibuk dengan nafkah juga kemaksiatan. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan berdiam diri dari amal menegakkan khilafah adalah bagian dari kemaksiatan terbesar. Jadi, jangan terpukau apalagi muncul hasad melihat orang-orang yang Allah berikan kenikmatan dunia.
Carilah nafkah yang halal dan jagalah keselarasan dengan dakwah, walau bisa jadi orang lain memandang pilihan profesi atau karir seorang pengemban dakwah itu tidak menterang. Tapi yakinlah dari nafkah yang selalu berputar mengikuti poros dakwah justru akan membuka berbagai kenikmatan yang luar biasa. Sabda Nabi Saw:
وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina (HR. Ibnu Majah).
Seorang alim memberikan nasihat:
اَلدُّنيَا كَالظُّلِ لَو لاحقتَهَا تَهرب مِنْكِ وَ لَوْ اَعْطَيْتَهَا ظَهْرَكَ تُلاَحِقكَ
Dunia itu seperti bayangan. Jika kau mengejarnya maka bayangan itu makin menjauh. Tapi jika kamu berjalan membelakangi bayangan (zuhud) maka bayangan itu akan mengikutimu.
Kewajiban dakwah adalah hal yang pasti, bukan bayangan. Janji keberkahan dan pahala yang Allah akan berikan di jalan dakwah juga pasti. Janganlah mengejar bayangan lalu meninggalkan yang pasti. Namun kejar yang sudah pasti dan bayangan/dunia akan mengikuti kita.
Bekerjalah secara profesional dan berdakwahlah secara militan. Dunia kerja itu ladang dakwah yang luas bagi para pengemban dakwah. Atasan, teman kerja dan bawahan adalah obyek dakwah yang pantang untuk dilewatkan. Karena mereka juga punya hak mendapatkan hidayah dari Allah lewat lisan para pengemban dakwah.
Dimanapun, seorang muslim memegang teguh identitas asli sebagai muslim juru dakwah. Seperti kata seorang ulama dakwah; nahnu du’at qabla kulli syai’ – kita adalah pengemban dakwah sebelum segala sesuatu.

Leave a Reply