Gaes, Kenapa Keinginan Kamu Suka Beda Dengan Ortu?

Suka kesal atau gregetan dengan sikap ortu? Keinginan kamu sering nggak nyambung dengan opini orang tua? Misalnya kamu ingin masuk ke sekolah umum agar dapat kesempatan kuliah di PTN jurusan teknik pertambangan, tapi orang tua pengen kamu masuk ke pesantren tahfidz al-Qur’an. Kamu pengan hiking atau camping ke gunung, tapi ortu melarang kamu dengan alasan lagi masa pandemi. Orang tuamu takut kamu kesamber virus corona.

Yes, itu persoalan di antara beragam persoalan hubungan kamu, anak muda, dengan ayah dan ibumu. Kenapa itu terjadi? Ada beberapa sebab, di antaranya karena alam berpikir orang tua atau pasnya orang dewasa sedikit beda dengan alam pikiran anak muda.

Yuk, simak beberapa hal yang kamu, anak muda, kudu pahami dari cara berpikir orang tuamu. Dengan begitu kamu bisa belajar untuk berdiplomasi dengan baik dan juga paham alasan dibalik argumen orangtuamu.

1.  Orangtua biasanya berpikir jangka panjang, kamu jangka pendek

Kelemahan sekaligus kekuatan orangtua adalah seringkali berpikir untuk jauh ke depan, alias masa panjang. Ketika mereka menyekolahkan kamu mereka berpikir untuk masa depan kamu. Ketika mereka melarang sesuatu, misalnya melarang kamu punya ponsel karena kamu masih SMP misalnya, itu karena kecemasan kamu bakal addict alias kecanduan untuk seterusnya.

Nah, ini beda dengan anak muda seperti kamu yang lebih banyak berpikir short term, untuk jangka pendek, nikmati hasil sekarang, dan tidak terlalu mencemaskan urusan esok hari. Akibatnya muncullah bentrok dengan ortu. Kamu ngotot untuk camping dua hari, padahal minggu depan kamu ujian masuk PTN! Ortumu khawatir kamu nggak fokus atau malah sakit, kamunya nggak kepikiran ke sana. I’m young and healthy.

 

2.  Orangtua punya pengalaman, kamu belum punya

Sebagai ayah untuk empat orang anak, saya sering bilang pada anak-anak saya; Nak, belajar baca al-Qur’an yang benar supaya sedari dini kamu fasih membaca al-Qur’an. Saya bilang begitu karena saya punya pengalaman tidak belajar baca al-Qur’an secara serius sejak kecil. Makanya saya sering menolak jadi imam shalat bila ada orang yang saya pandang lebih fasih membacanya. Saya punya pengalaman belajar sedari muda, petik hasil di hari tua.

Nah, anak-anak muda kan belum punya pengalaman seperti orang tua/orang dewasa. Akhirnya kadang kamu keras kepala, bersikukuh melawan opini ortu karena merasa itu nggak bakal terjadi padamu.

Kelak, ketika seorang anak muda melewati hari-harinya, usianya, barulah merasa bahwa pengalaman itu sesuatu penting. Maka menyimak nasihat dari mereka yang sudah berpengalaman itu berharga banget. Sama artinya kamu mangkas perjalanan waktu beberapa tahun.

 

3.  Orang tua cenderung protektif pada anak

Orang tua yang baik akan berusaha melindungi anak-anaknya, hari ini dan esok hari. Ketika mereka cari tempat tinggal saja, mereka pertimbangannya adalah lingkungan rumah mereka baik untuk perkembangan anak-anak. Nanti ketika mereka carikan rumah kost untukmu saat kuliah, pertimbangan perlindungan untukmu juga jadi prioritas.

Pernahkan kamu ditelepon atau di-WA ibumu supaya jaga kesehatan, makan teratur, jangan banyak jajan, dsb.? Itulah tanda orangtua selalu protektif untuk anak-anaknya.

Di sisi lain, kamunya, anak muda, ingin lebih bebas, leluasa memilih teman, jalan-jalan dan makan-makan. Jadilah benturan keinginan dengan ortu.

 

4.  Orang tua melihat kamu belum dewasa

Gaes, kawula muda, maaf nih, seringkali kamu berpikir sudah dewasa, sudah tahu yang baik dan buruk dan bisa bertanggung jawab. Tapi nyatanya, orang tua masih melihat sisi kekuranganmu. Ini ada benar dan ada juga salahnya. Misalnya, orang tua melihat kamar kamu saja masih sering berantakan, atau guru tau-tau menelepon orang tua karena tugas semesteran kamu belum disetor, atau kamu ketauan merokok atau pakai vape padahal sudah diwanti-wanti ortu.

Kalau sudah begini, ada baiknya kamu introspeksi diri. Berbenah lebih baik lagi, belajar bertanggung jawab, dan belajar minta maaf. Bukan malah kemudian ngotot minta dihargai sebagai orang dewasa tapi kamu sendiri nggak menunjukkan tanda-tanda mau jadi orang yang bersikap dewasa.

 

5.  Orang tua tidak paham cara komunikasi yang baik padamu

Nggak selamanya ortu itu benar. Kadangkala ortu keliru mengambil cara berkomunikasi pada anaknya yang sudah jadi pemuda. Masih suka mendikte, maksa, dan tidak menghargai privasi serta pilihan anaknya padahal dalam hal yang mubah.

Mereka lupa kalau anak mereka sudah dewasa dan mestinya diperlakukan dengan gaya komunikasi orang dewasa. Bukan lagi anak TK atau SD yang mesti disuruh-suruh dan diomeli panjang lebar. Gaya komunikasi yang tidak tepat ini juga jadi salah satu pemicu konflik anak dengan orang tua. Tapi percayalah, meski barangkali gaya komunikasi ayah dan bundamu bikin merah daun telinga, mereka tidak ada niat buruk. Ingin yang terbaik untuk kamu, anaknya.

Gaes, kawula muda, tentu lima poin ini belum semuanya. Masih banyak lagi beberapa kondisi yang buat antara kamu dan ortu beda sikap. Lima keadaan yang tadi sudah kita bahas bisa kamu jadikan cara memahami jalan pikiran ortu, sehingga kamu bisa bersikap lebih tenang karena paham tujuan mereka.

Langkah yang bisa kamu ambil adalah diskusi dengan baik, tenang, santun pada orang tua. Dengarkan alasan mereka baik-baik, dan jelaskan juga alasanmu dengan baik-baik. Bila pilihanmu dan pilihan ortu sama-sama baik, tak ada salahnya kamu ikuti keinginan orang tua. Tapi bila kamu merasa punya pilihan yang jauh lebih baik, kamu bisa paparkan dengan baik. Oke, semoga kamu bisa bersikap bijak dan lebih dewasa lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.