Abu Dujanah, Kurma & Korupsi Negeri Kita

Izinkan saya menceritakan sekelumit kisah yang al-faqir baca dari kitab Hasiyah I’anah ath-Thalibin karya ‘Alamah Abi Bakr atau yang masyhur dengan nama Sayyid al-Bakri ibnu as-Sayyid as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi.

Diceritakan dalam kitab tersebut bahwa ada seorang sahabat bernama Abu Dujanah as-Samak al-Anshoriy. Seorang pejuang Islam dan dikenal sebagai satu dari dua sahabat Anshar yang dluafa. Abu Dujanah sering tergesa-gesa meninggalkan mesjid usai shalat Subuh berjamaah, tidak menunggu mendengarkan doa Nabi.

Hingga suatu hari Nabi SAW. memanggilnya, “Wahai Abu Dujanah, apakah engkau tidak punya kebutuhan pada Allah?”

“Justru, ada,” jawab Abu Dujanah.

“Mengapa engkau tidak berdiam mendengarkan doa?” tanya Nabi.

“Aku punya udzur, ya Rasulullah,” jawab Abu Dujanah.

“Apa uzurmu?” Nabi terheran-heran.

Abu Dujanah lalu menceritakan bahwa rumahnya berdampingan dengan rumah tetangganya yang memiliki pohon kurma yang lebat. Bila malam hari tiba angin kencang meniup pohon kurma itu hingga membuat buah-buahnya berjatuhan ke halaman rumah Abu Dujanah.

“Suatu hari aku melihat putraku memasukkan kurma tersebut ke dalam mulutnya, maka aku keluarkan lagi dari mulutnya dengan jemari tanganku, dan kukatakan padanya, ‘duhai anakku, janganlah kau permalukan ayahmu di akhirat’. Ia pun menangis karena merasa lapar,” cerita Abu Dujanah.

“Aku katakan pada anakku, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’,” tutur Abu Dujanah lagi.

Rasulullah SAW. yang mendengarkan cerita Abu Dujanah tak kuasa menahan linangan air matanya. Terharu mendengar keteguhan Abu Dujanah menjaga putranya dari memakan barang haram.

* * * * *

Para pembaca yang dirahmati Allah, bicara harta haram, berulangkali kita dibuat terkaget-kaget dengan penangkapan pelaku korupsi yang notabene orang punya latar belakang keagamaan yang kuat. Ketua parpol Islam, pejabat di kementerian agama, kiai atau ustadz, mereka mendekam di hotel prodeo terpidana korupsi.

Hal ini menguatkan pernyataan Pak Busyro Muqaddas, salah seorang tokoh Islam yang pernah bertugas di KPK, bahwa rata-rata para koruptor adalah sosok yang rajin ibadah. Giat shalat, mengaji, ahli agama, dermawan, dll. Tapi ternyata tak menghentikan mereka dari kejahatan korupsi. Memakan harta haram.

Benar bila dikatakan sistem sekarang adalah rusak. Membuka peluang bagi pejabat atau siapa saja melakukan kejahatan korupsi, suap, dsb. Namun sepenuhnya menyalahkan keadaan dan aturan juga tidak tepat. Bukankah masih ada pejabat yang hingga akhir masa jabatannya bersih, tak mau serupiahpun makan uang haram? Tokoh-tokoh seperti KH Agus Salim atau M Nasir bukan pejabat negara sembarangan, namun mereka bisa menyelamatkan diri dari perangkap syetan uang haram.

Di antara kunci seorang muslim selamat dari memakan uang haram adalah keistiqomahan kedua orang tua memelihara akhlak anak-anak mereka dari harta haram. Riwayat tentang Abu Dujanah di atas, adalah teladan bagaimana seharusnya orang tua – khususnya para ayah – menta’dib putra-putri mereka. Jangan ada sesuap makanan haram masuk ke dalam perut mereka.

Baginda Nabi SAW. juga pernah menegur cucu Beliau, Hasan bin Ali ra. yang tengah mengunyah kurma sedekah, sementara Allah Ta’ala menetapkan bahwa keluarga Rasulullah SAW. tidak diizinkan memakan harta sedekah (HR. Bukhari).

Bermunculannya koruptor berpeci dan fasih mengaji adalah karena kelalaian orang tua mendidik putra-putri mereka dari memakan harta yang bukan haknya akan menjadikan mereka kelak sebagai orang dewasa yang culas, licik dan tak peduli halal-haram. Orang tua hanya menanamkan dien sebatas akhlak dan ibadah, tapi tidak mengenalkan terlarangnya muamalah yang haram.

Atau, anak-anak sebenarnya hanya mengimitasi kelakuan orangtua mereka mengambil harta haram sebagai nafkah. Mereka melihat atau mendengar orangtua mereka terbiasa melakukan korupsi, pungli, dan suap menyuap. Bukankah sudah lazim kita dengar orang tua memasukkan anaknya ke sekolah favorit lewat jalur ‘belakang’? Siapkan segepok uang untuk menyuap sejumlah pihak agar urusan anak mereka lancar? Sebagian orang tua juga tanpa malu memberi tahu anak mereka tentang perbuatan mungkar tersebut. Banyak orang tua tak sadar dan tak paham, bahwa perilaku haram yang mereka jalani suatu ketika akan diimitasi oleh putra-putri mereka. Pepatah para ulama menyebutkan, “Bagaimana bayangannya akan lurus bila bendanya bengkok?”

Ayahbunda yang dirahmati Allah, belajarlah dari keteguhan iman Abu Dujanah. Meski anaknya menangis kelaparan, ia bergeming untuk mencegah makanan yang bukan haknya menjadi asupan makanan bagi keluarganya.

Dan, yang lebih dahsyat lagi, Abu Dujanah mengajarkan anaknya bahwa puncak dari segala rasa malu adalah kelak di hadapan Allah, di akhirat, bukan di hadapan polisi, KPK, majlis hakim atau puluhan wartawan, atau mungkin jutaan rakyat Indonesia. Tapi malu yang tak tertahankan adalah saat dipermalukan oleh Allah SWT. di hadapanNya karena kemungkaran semasa hidup di dunia.

Sudah datangkah kepada engkau berita (tentang) Hari Pembalasan? 

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina

(TQS. al-Ghasiyah: 1-2)

Mulailah menanamkan rasa malu kepada Allah dalam keluarga kita, pada anak-anak kita, agar mereka terjaga dan dapat menjaga diri dari harta-harta haram maupun syubhat yang beredar di sekitar kita. Tanamkan dalam diri keluarga dan anak-anak bila harta yang diperoleh dengan jalan haram tak akan mendatangkan keberkahan, melainkan rasa malu tak terhingga kelak di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.