Tease The Devil

angel and devilAkhirnya Menteri Agama ditangkap KPK. Ketua umum salah satu parpol Islam, Menteri Agama dan ustadz itu didakwa melakukan tindak pidana korupsi dana Haji. So sad. Saya berharap itu tidak benar. Tapi benar atau tidak sudah dua menteri agama tergelincir kasus korupsi. Said Aqil Munawwar dan kini SDA. Ketuk palu pengadilan memang belum diayunkan tapi sang menteri agama itu sudah dijebloskan dalam tahanan KPK.

Saya tidak mencemaskan SDA atau pejabat Kemenag lainnya, tapi yang saya cemaskan adalah soal trust orang awam kepada tokoh agama semisal kyai, ustadz atau politisi. Orang awam yang imannya berada di tepian akan mudah untuk tidak percaya lagi pada tokoh agama, apalagi politisi agama (Islam). Bukankah beberapa waktu lalu seorang petinggi parpol Islam juga masuk bui karena kasus serupa? Meski para pendukungnya tetap percaya bahwa sang ustadz tak bersalah tapi yang bersangkutan sudah masuk bui dan publik percaya dia bersalah.

Pepatah lama mengatakan sekali lancung ke ujian, seumur orang tak percaya. Ini bukan saja berlaku perorangan tapi bisa sebuah korps. Ketika banyak polisi yang pungli maka publik sinis pada semua polisi. Padahal konon masih saja tersisa polisi yang jujur, ramah dan baik hati. Begitupula ketika tokoh agama berbuat menyimpang maka ustadz-ustadz yang lain pun tak lepas dari pandangan miring banyak orang.

Celakanya kini setiap hari kita dibombardir perilaku ustadz yang menyimpang. Ustadz yang mencabuli santri, menyodomi santri, menggelapkan uang  jamaah, selingkuh dengan istri orang, dan berbuat korup. Dekat rumah saya seorang tokoh agama, anggota organisasi ulama lokal, pengurus lembaga zakat membuat video adegan mesum dengan dua orang wanita sekaligus. Entah syetan mana yang menginspirasinya mau berbuat hina seperti itu.

Tapi yang jelas ustadz juga manusia sama dengan polisi, tentara, hansip, petani, tukang becak, pejabat dsb.. Ia punya syahwat; syahwat pada harta, syahwat pada tahta dan syahwat pada wanita. Sisi yang membuatnya berbeda  — dan seharusnya perilakunya juga berbeda – adalah terikat pada syariat Allah, karena ia lebih tahu itu daripada orang awam seperti saya.

Sisi itulah yang pada akhirnya membuat Allah SWT. juga menuntutnya untuk lebih berhati-hati dalam berperilaku. Nabi saw. bersabda:

“Akan datang seorang laki-laki pada Hari Kiamat, dia menemui siksanya di dalam neraka di mana ususnya dikeluarkan dari perutnya. Mereka berputar-putar di dalam neraka seperti berputarnya keledai di penggilingan. Maka para ahli neraka pergi kepadanya seraya berkata: Wahai fulan kenapa kamu? Bukankah kamu melakukan amar ma’ruf nahi munkar? Dia menjawab: Benar. Saya memerintahkan kebaikan tapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya melarang manusia melakukan kemunkaran tapi saya sendiri melakukannya.”(hr. Bukhari, Muslim)

Perbuatan bejat yang dilakukan orang alim akan lebih berat bobot dosanya di sisi Allah. Kebejatan itu juga akan lebih lama diingat orang ketimbang apa yang dilakukan preman.  Imam Fudhail bin Iyadh mengatakan:

الفسقة من العلماء يبدأ بهم يوم القيامة قبل عبدة الأوثان

“Kefasikan orang alim lebih dulu (diazab Allah) di Hari Kiamat sebelum para penyembah berhala”

Tapi mengapa tokoh agama bisa tergelincir menjadi durjana? Polanya klasik; orang tersengat panas karena bermain api. Ustadz bukan manusia kebal dosa dan kebal rayuan syetan. Ketika ia mendekati bara pasti tersengat. Orang alim yang mendekatkan diri pada wanita yang bukan mahramnya maka zikirnya beralih menuju zakar (maaf!). Orang alim yang mengarahkan dirinya pada fulus akhirnya menjadi penuh akal bulus. Orang alim yang menggoda dirinya dengan tahta akhirnya menjadi megalomania.

Saya ingin menyimpulkan orang alim bisa jatuh pada kemaksiatan karena ia sendiri menggoda syetan. Ia mengarahkan kekuatan syahwatnya pada hal yang terlarang. Pelan tapi pasti – atau mungkin seketika – ia tersungkur.

Sayangnya dalam kehidupan yang telah dibingkai dengan tata nilai demokrasi dan liberalisme, syetan bisa ditemui dimana saja. Ia bernama kepentingan, ketenaran dan kesenangan. Harta, tahta, wanita berserakan di alam demokrasi liberal macam ini. Hanya kekuatan iman dan kesabaran yang bisa menahan seorang alim agar tak tersungkur ke dalamnya.

Selain itu, orang alim harus berusaha mengubah sistem kehidupan demokrasi dan liberalisme yang bejat ini dengan syariat. Dalam kehidupan yang diatur dengan syariat Islam syetan memang tetap ada, tapi ruang geraknya untuk menggoda – apalagi digoda – semakin sempit. Ia tak lagi lincah. Syariat membelenggu syetan sekaligus mengekang syahwat siapa saja, termasuk orang alim untuk tak menggodanya. Tapi dalam kehidupan demokrasi liberal seperti ini kita akan menyaksikan satu demi satu orang alim menjadi durjana di balik penjara karena mereka sendiri menggoda syetan. Na’uzubillahi min dzalik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.