Sugar Daddy: Gula-Gula Beracun Budaya Liberal

gambar: pexels.com

Ada istilah yang belakangan jadi trending; sugar daddy. Ini bukan sembarang gula, tapi sebutan untuk lelaki berumur yang pacaran dengan perempuan muda. Wanita muda yang dipacari disebut sugar baby, dan hubungan antara si om dengan perempuan muda itu disebut sugar dating.

Beda dengan pacaran biasa, karena selain memacari, para sugar daddy ini juga membiaya hidup para sugar baby mereka. Ibarat kata, pria-pria berumur ini jadi ATM buat gadis-gadis muda itu. Kebutuhan hidup mereka dijamin; barang bermek, ponsel mewah, jalan-jalan ke luar negeri, bahkan ada yang dikontrakkan rumah atau apartemen. Timbal baliknya, para sugar baby ini harus menuruti keinginan sugar daddy-nya, termasuk urusan syahwat, alias berzina. Meski ada sebagian dari sugar baby ini menolak hubungan seksual, hanya sekedar teman jalan-jalan.

Sebenarnya ini bukan fenomena baru. Tahun 80-an dan 90-an juga banyak gadis-gadis muda yang dipiara oleh para om. Sama seperti sugar baby hari ini, hidup mereka juga ditanggung. Termasuk sampai biaya sekolah atau kuliah juga. Kalau berlanjut, para sugar baby itu dijadikan istri siri oleh para sugar daddy mereka.

Memang ada yang sedikit beda antara perempuan simpanan tempo dulu, dengan fenomena sugar baby hari ini. Di antaranya soal status. Dulu, banyak perempuan muda yang malu-malu kalau ketahuan jadi simpanan om-om. Ini kelihatannya tidak berlaku di kalangan generasi milenial, generasi y dan z. Perempuan muda yang lahir di tahun 98 ke atas, justru merasa bangga bisa jadi sugar baby. Apalagi sugar daddy mereka keren, mapan, terkenal, dan pastinya royal.

Berikutnya soal motif ekonomi, kalau dulu sebagian perempuan muda mau menjadi piaraan lelaki yang seusia bapak mereka, malah ada yang lebih tua, murni karena desakan ekonomi. Butuh biaya sekolah atau kuliah. Hari ini perempuan yang menjadi sugar baby meskipun melakukannya sama demi uang tapi lebih untuk gaya hidup dan hidup gaya. Punya barang branded, jalan-jalan ke luar negeri, dsb.

Lha untuk para lelaki berumur itu, apa mereka jadi sugar baby, padahal mereka sudah beristri? Apalagi tindakan macam itu beresiko untuk status sosial dan karir mereka? Sebagian besar lelaki yang menjadi sugar daddy melakukannya karena kesenangan. Sebagaimana adagium lama, godaan para lelaki adalah harta, tahta dan wanita. Tidak sedikit para sugar daddy itu berburu gadis-gadis muda semata karena dorongan libido seksual.

Selain itu, sebagian lelaki merasa dengan menjadi sugar daddy mengangkat prestise mereka di hadapan kawan-kawannya. Di sejumlah komunitas bapak-bapak, punya sugar baby – apalagi lebih dari satu – adalah kebanggaan. Jadi sugar daddy semacam level pria mapan dan berani.

Sugar daddy dan sugar baby ini adalah budaya lama masyarakat liberalisme. Pada budaya masyarakat semacam itu tipis betul batas antara nilai moral dan hedonisme. Malah yang sering jadi tujuan adalah kesenangan ragawi alias hedonisme. Lagipula, nilai-nilai moral dalam masyarakat liberal bisa berubah dan sifatnya personal. Apa yang dulu dianggap tabu atau aib, bisa menjadi tren di masa berikutnya. Contohnya budaya sugar-sugaran ini, malah jadi kebanggaan sebagian orang.

Maraknya budaya sugar daddy berawal dari pudarnya nilai keislaman, digantikan sekulerisme. Tak ada lagi memandang ikatan pernikahan itu sakral, mitsaqon ghalidza, bahwa istri adalah amanah dan perempuan yang halal digauli. Bagi para lelaki yang sudah memuja sekulerisme, pahala dan dosa itu urusan privat. Dia dengan Allah. Sedangkan urusan asmara dan seksualitas dengan istri atau dengan para sugar baby itu lain lagi. Tidak ada korelasinya dengan hukum Allah. Kalau Tuhan saja sudah dicampakkan, apalagi istri dan anak.

Begitupula para perempuan yang mau menjadi sugar baby, dalam pikiran mereka soal agama, pahala dan dosa kalah penting dengan tas merk Hermes, Iphone x atau jalan-jalan ke Dubai. Mereka juga tak mau berpikir kalau om-om yang jadi sugar baby-nya ditunggu anak dan istrinya di rumah.

Budaya sugar baby dan sugar daddy ini ibarat gula beracun sistem liberalisme. Merusak tatanan sosial masyarakat dan menghancurkan banyak pernikahan. Lebih jauh lagi, para lelaki yang menjadi sugar daddy itu akan terdorong untuk melakukan korupsi atau mengumpulkan harta secara ilegal untuk mengongkosi para sugar baby-nya. Banyak pengusaha dan pejabat yang tertangkap KPK terbukti kemudian memiliki perempuan simpanan. Ironinya, banyak lelaki rela keluar uang lebih banyak untuk membiayai sugar baby-nya ketimbang untuk anak dan istrinya.

Sugar baby dan sugar baby ini sepertinya tidak akan habis, bahkan akan cenderung bertambah, dan bukan akhirnya dipandang ‘normal’, selama masyarakat masih berada dalam peradaban sekulerisme-liberalisme. Peluang untuk terjadinya perselingkuhan, perzinaan dan prostitusi terus terbuka. Liberalisme itu melahirkan pola supply and demand. Kalau permintaan terhadap sugar baby-nya masih ada, maka penawarannya akan terus ada.

Tak ada yang bisa memutus mata rantai budaya beracun ini kecuali dengan Islam. Ketika iman dan takwa menjadi pegangan masyarakat, maka orang takkan berani membuka tutup yang belum dihalalkan syariat. Ingatlah kisah tiga orang yang terkurung dalam gua, lalu mereka bertawasul pada Allah dengan amal saleh masing-masing. Salah satunya pernah memperdaya seorang gadis untuk direnggut kehormatannya setelah ia memberi uang yang dibutuhkan perempuan itu sebagai biaya berobat ayahnya. Namun ketika lelaki itu sudah berada di atas tubuh wanita itu, perempuan itu berkata:

لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ

Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” (HR. Bukhari). Lelaki itupun terkejut lalu berlari meninggalkan perempuan itu dan merelakan uangnya karena Allah.

Perilaku amoral dan asusila, termasuk perzinahan akan tertutup manakala masyarakat sadar kalau hubungan mereka dengan lawan jenis harus dibangun karena iman dan takwa. Lalu mereka sadar bahwa pernikahan adalah satu-satunya jalan yang dihalalkan Allah untuk berkumpul dengan lawan jenis, dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan biologis. Meskipun ada peluang untuk melakukannya, tapi rasa takutnya pada Allah akan mencegah lelaki ataupun wanita merusak kehormatannya.

Peluang perselingkuhan dan perzinahan juga akan tertutup ketika ada sanksi keras yang dijatuhkan pada pelakunya. Dalam Islam ada sanksi jilid/cambuk bagi pelaku zina ghair muhshon/belum menikah. Ada sanksi rajam hingga mati bagi pelaku zina muhshoh/telah menikah. Sanksi yang keras ini efektif sebagai preventif/zawajir terjadinya perbuatan zina.

Maka, tak ada tempat dan tak akan berkembang perilaku amoral menjijikkan seperti fenomena sugar daddy ini. Masyarakat akan berpartisipasi mencegahnya, dan negara akan melakukan pengawasan dan pemberian sanksi bagi para pelakunya. Semua untuk mencegah kerusakan yang lebih besar lagi. Sabda Nabi SAW.:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.